PENGERTIAN CACING PITA

By On Tuesday, October 29th, 2013 Categories : Kesehatan

CACING PITA termasuk cacing yang hidup sebagai parasit. Cacing dewasa hidup di dalam rongga usus Vertebrata dan larvanya hidup di dalam jaringan Vertebrata dan Invertebrata. Cacing yang panjang dan menyerupai pita ini biasanya pipih, tidak mempunyai saluran pencernaan dan pembuluh darah. Cacing ini biasanya terdiri atas segmen-segmen atau proglotid, yang mengandung alat kelamin jantan maupun betina bila sudah menjadi matang. Pada ujung depannya terdapat kepala, dengan batil isap yang sering lengkap dengan kait-kait, serta leher. Ukuran panjang berbagai jenisnya sangat bervariasi, dari 3 milimeter sampai 4 meter, dan jumlah segmennya dari 3—4.000 buah. Proglotid dapat berlainan dalam jumlah, ukuran, dan bentuk, tergantung pada jenis dan stadium pertumbuhannya. Tiap cacing dewasa terdiri atas proglotid bunting dengan kandungan melebar, penuh telur. Cacing pita bersifat hermafrodit; tiap proglotid matang mengandung paling sedikit satu perangkat alat kelamin jantan dan betina. Pada tiap proglotid terdapat lubang kelamin, di bagian perut atau di bagian sisinya.
Cacing pita yang biasa ditemukan pada manusia memerlukan satu atau lebih inang perantara. Di dalam inang perantara ini larva berkembang. Inang definitif akan terinfeksi bila makan larva infektif yang terdapat pada inang perantara, atau makan telur cacing. Terdapat dua macam lingkaran hidup cacing pita, tergantung bangsanya: (1) Pada Bangsa Pseudo-phyllidea, cacing dewasa hidup di dalam rongga usus kecil, dan telurnya dikeluarkan bersama tinja. Di dalam air, telur berkembang dan berisi larva. Telur ke-mudian menetas dan keluarlah larva yang disebut korasidium. Korasidium dimakan oleh inang perantara pertama yang tergolong Cyclops atau Diaptomus, dan tumbuh menjadi proserkoid. Cyclops yang mengandung proserkoid dimakan oleh inang perantara kedua (ikan atau kodok), dan proserkoid tumbuh menjadi bentuk infektif; (2) Pada Bangsa Cyclophyllidea, cacing dewasa hidup di dalam rongga usus kecil, dan proglotidnya yang bunting keluar bersama tinja. Bila telur yang dikandung termakan oleh inang perantara seperti babi, sapi, serangga (misalnya pinjal dan kumbang tepung), dan kambing, akan terbentuk larva infektif. Cacing pita biasanya dapat menimbulkan gejala pada saluran pencernaan, saraf, dan anemia. Gangguan pencernaan dapat berupa tidak adanya nafsu makan, mual, muntah, rasa tidak enak diperut, dan diare. Gangguan pada otak terjadi bila larva infektif berada di dalam otak. Hal ini dapat menimbulkan gejala ayan. Selain itu, kista berisi larva dapat menimbulkan gejala tumor di berbagai alat dalam.
Infeksi cacing pita dapat dicegah dengan kebiasaan makan makanan (misalnya ikan, kodok, daging sapi, daging babi, atau kambing) yang dimasak dengan baik. Makanan yang terkontaminasi oleh pinjal atau kumbang tepung dapat pula menjadi sumber penularan. Obat cacing pita yang efektif adalah atabrin, (kuinakrin), dan prazikuantel.

PENGERTIAN CACING PITA | ok-review | 4.5