PENGERTIAN ATRIBUSI

By On Wednesday, November 27th, 2013 Categories : Psikologi

Bayangkan diri Anda sedang berdiri di pinggir jalan pada saat hari hujan dan sebuah mobil lewat dengan kencang di depan Anda sambil menyemburkan air berlumpur dari kubangan mengenai seluruh tubuh Anda. Perilaku pengemudi dapat Anda jelaskan dengan satu dari dua cara. Mungkin pengemudi tadi mengendarai mobilnya hingga menepi jalan karena saat itu lalu-lintas padat, dan terpaksa melalui kubangan tersebut. Jika memang demikian halnya, Anda dapat memaafkannya dan tidak akan mengambil tindakan apa-apa. Atau, dia melakukan hal itu karena ia merasa senang dapat menyemburi pejalan kaki. Kalau demikian, Anda pantas marah dan menghukumnya. Anda mungkin lalu menyumpahi atau mengacungkan kepalan tangan kepadanya. Bagaimana kita membentuk penilaian atas keadaan intern orang lain yang mungkin perlu kita ketahui, seperti motif, kepribadian, emosi dan sikap? Kita tidak memiliki informasi lang-sung mengenai keadaan intern seperti itu. Yang kita lakukan hanyalah menilai petunjuk ekstern yang terbatas, ekspresi wajah, geraian tubuh”, ap ayang dikatakan orang tentang keadaan internnya dahulu, apa yang kita tentang perilakunya di masa lalu, dan seterusnya. Jadi, kita harus mengambil kesimpulan atas dasar informasi tidak langsung yang diperoleh dari petunjuk ekstern.
Mengambil kesimpulan tentang keadaan intern merupakan bagian proses yang lebih umum untuk menjelaskan perilaku orang lain dan diri kita sendiri, yang biasanya disebut membuat atribusi sebab-akibat. Inilah proses yang dipakai orang untuk sampai kepada penjelasan sebab-akibat atas berbagai peristiwa yang terjadi dalam dunia sosial, terutama terhadap tindakan yang dilakukan mereka dan orang-orang lain. Jika ada sesuatu yang menyakiti hati kita, lalu kita menanyai diri sendiri mengapa hal itu sampai terjadi. Adakalanya kita menyimpulkan bahwa hal itu disebabkan oleh keadaan intern permanen tertentu penyebabnya. Hal itulah yang terjadi dalam hal penilaian tentang pengemudi yang seharusnya menghindar dari jalan berkubang. Kita merasa marah karena pengemudi sebetulnya dapat menghindar, kecuali jika memang tidak ada pilihan lain. Rasa kasihan timbul jika peristiwa negatif terjadi atas diri orang lain dan tidak seorang pun mampu mengendalikannya. Anda merasa kasihan atas seorang lumpuh; tidak seorang pun dapat mencegah terjadinya cacat tersebut. Rasa bangga timbul setelah melihat usaha kita sendiri sebagai penyebab keberhasilan tersebut. Anda merasakan bangga jika Anda mengerjakan ujian dengan memperoleh nilai 10. Tetapi jika sang profesor memberikan nilai 10 bagi setiap kertas ujian, termasuk yang jawabannya buruk, maka Anda tidak akan merasa bangga.
Pengharapan kita akan masa depan dipengaruhi oleh atribusi kita terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Kita patut mengharapkan keberhasilan jika kesimpulan yang kita ambil tentang keberhasilan kita di masa lalu berdasarkan kemampuan (Weiner, 1979). Jika kita mengatribusikan nilai 10 yang kita peroleh di SM A dengan bakat alamiah untuk analisis kesusastraan, maka kita akan merasa lebih optimis untuk memperoleh sukses serupa di perguruan tinggi nanti. Akan tetapi, jika kita simpulkan bahwa nilai 10 itu kita peroleh karena gurunya gampangan memberikan angka, maka kita tidak pantas mengharapkan nilai tinggi semacam itu nantinya. Dweck (1975) menunjukkan bahwa latihan yang diberikan kepada anak-anak akan menjadi kesimpulan intern bagi perilaku mereka misalnya, melatih mereka untuk menjelaskan bahwa keberhasilan dan kegagalan itu berasal dari jumlah usaha yang mereka lakukan akan membuat mereka bekerja lebih giat di masa depan.
Atribusi dengan berbagai peristiwa di arena politik juga dapat mempengaruhi sikap politik kita. Feldman (1983) telah menunjukkan bahwa kemiskinan kaum kulit hitam yang penyebabnya dituduhkan kepada diskriminasi serta kegagalan lingkungan lainnya, diasosiasikan dengan dukungan kepada bantuan khusus pemerintah kepada kaum kulit hitam. Menuduh bahwa kemiskinan mereka diakibatkan kemalasan dan keengganan mendapat latihan kerja yang pantas, diasosiasikan dengan terdapatnya oposisi terhadap bantuan pemerintah. Dalam berbagai cara ini, pemahaman kita atas penyebab perilaku, merupakan penengah penting bagi reaksi kita terhadap dunia sosial. Reaksi kita terhadap orang lain yakni rasa suka, agresi, membantu, penyesuaian, dan sebagainya acapkali tergantung dari interpretasi kita atas perilaku mereka. Oleh karena itu, pembuatan atribusi telah menjadi fokus pokok bagi riset.

PENGERTIAN ATRIBUSI | ok-review | 4.5