PENGERTIAN ANTROPOLOGI EKONOMI

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Antropologi

Antropologi ekonomi merangkum aspek etnografis dan teoritis, sekalipun keduanya acapkali bertentangan. Bidang studi ini juga membantu pengujian atas teori-teori ekonomi pada umumnya, dan sebaliknya bidang ini juga dipengaruhi oleh cabang-cabang lainnya dari ilmu ekonomi, khususnya pendekatan mikro dari aliran neoklasik (ini nampak pada pemakaian teorinya oleh para antropolog dalam mempelajari pasar tradisional. Ini adalah studi tentang cara-cara yang ditempuh manusia dalam mempertahankan dan mengeks-presikan diri melalui penggunaan barang dan jasa material. Bidang studi ini mencakup riset tentang teknologi, produksi, perdagangan dan konsumsi, dan juga tinjauan tentang berbagai bentuk pengaturan sosial dan ideologis manusia untuk mendukung kehidupan materi mereka. Antropologi ekonomi mempelajari masyarakat sekarang dan di masa lampau, termasuk masyarakat “non-Barat”. Kini fokusnya terarah pada bentuk dan pengaturan kehidupan ekonomi, dalam kaitannya dengan perbedaan gaya kekuasaan dan ideologi. sektor pertanian dan kelompok-kelompok ekonomi domestik). Makroekonomi ternyata tidak terlalu banyak memberi warna, meskipun cakupannya sama-sama bergaris besar (makro). Penggunaan teori neo-klasik membuat para pemerhati antropologi ekonomi juga meyakini asumsi-asumsinya seperti rasionalitas setiap individu, pengutamaan klakulasi dan optimisasi dan sebagainya, yang tidak begitu relevan terhadap pendekatan-pendekatan lain yang lebih umum dalam antropologi. Sebagai contoh, para teorisi mikroekonomi sulit menjelaskan nilai budaya dan perilaku ekonomi tertentu yang tidak sesuai dengan prinsip optimisasi keuntungan atau perilaku lain yang di mata para ekonom tidak rasional. Marxisme ikut memberi sumbangan teoretis dalam antropologi ekonomi. Pada 1960-an dan 1970-an, kaum Marxis melontarkan sejumlah pertanyaan kritis tentang asal-mula dan pemanfaatan surplus dalam suatu masyarakat. Dengan berfokus pada kontrol dan pemanfataan tenaga kerja, mereka mengidentifikasikan beberapa mode produksi yang tidak dikenal oleh masyarakat Eropa. Pada 1980-andan 1990-an, pengaruh mereka dapat dilihat pada berkembangnya studi-studi tentang “sistem dunia” dan kaitannya dengan konteks lokal; penafsiran ideologi di luar fungsinya sebagai refleksi perlawanan terhadap kelompok-kelompok ekonomi dominan; dan dalam berkembangnya riset mengenai asal mula mode produksi.
Kari Polanyi dan rekan-rekannya, yang mengembangkan pendekatan institusional menyatakan bahwa perekonomian yang bertumpu pada pasar bukanlah sesuatu yang universal seperti diyakini para ekonom klasik. Di banyak masyarakat (di luar Eropa), perekonomian diatur atas dasar kepentingan bersama (resiprositas). Namun pendapat penting Polanyi ini tidak banyak diperhatikan, dan kalah pengaruh dari pemikiran Marxis maupun neo-klasik, sehingga perspektifnya yang menarik itu tidak sempat berkembang lebih jauh. Para pendukung pendekatan keempat, yakni ekonomi budaya, menegaskan bahwa kehidupan materi itu sendiri sebenarnya merupakan suatu konstruksi sosial. Sejumlah ahli antropologi bu daya yang menganut pandangan ini melihat pertukaran dan konsumsi sebagai wujud usaha manusia untuk memperoleh keuntungan. Para ahli lainnya lebih suka menyimak model yang mengkonstruksikan orang-orang pada kerangka sistem produktifnya dan hubungan dengan lingkungan. Model-model lokal yang unik juga telah dikembangkan untuk memproyeksikan lebih banyak pola perilaku ekonomi yang ternyata sangat bervariasi dan bersesuaian dengan nilai budaya orang-orang yang bersangkutan. Dengan mengungkap cara masyarakat Barat menggunakan metafora di bidang ekonomi, ungkapan-ungkapan dalam menyebut kebutuhan materi diri dan kelompok mereka, para ahli antropologi ekonomi mencoba memadukan pengetahuan modern dan non modern, serta menggugat klaim neo-klasik yang menyatakan bahwa perekonomian pasar bersifat universal, dan membuktikan keragaman sistem ekonomi. Para pendukung keempat pendekatan ini menyepakati beberapa hal yang mereka pertentangkan lebih banyak. Keragaman perspektif dan variasi laporan etnografi tentang ekonomi dipahami kalau kita mengakui pentingnya dualisme, dalam semua sistem materi, manusia selalu menghadapi pilihan-pilihan praktis antara produksi untuk diri sendiri dan produksi ur:iuk orang lain. Dalam satu segi. kegiatan-kegiatan materi dilandaskan pada pola reproduksi dan ini mendukung saling-ketergantungar artar-kelompok. Pada segi lain, produksi didasarkan pada pertukaran: manusia harus saiing bertukar untuk memenuhi kebutuhannya Segi pertama disebut perekonomian komunitas, sedangkan yang kedua disebut perekonomian pasar Daiam wujud aslinya, perekonomian mana pun selaki kompieks, dan tidak bisa disebut semata-mata merupakan perekonomi¬an komunitas atau pasar. Setiap perekonomian selalu bergeser dan beruban d: antara kedua titik ekstrim itu, sesuai dengar, kepentingan orang- orangnya. Perekonomian komunitas dibentuk atas dasar banyak asosiasi seperti rumah tangga, kelompok kekerabatan. lingkungan pemukiman, serikat perajin, sekte keagamaan, desa-desa mapan, dan sebagainya. Segenap komunitas lokal itu saling melebur dalam melakukan berbagai kegiatan pemenuhan materi. Kepemilikan bersama merupakan prinsip penting, baik itu terhadap tanah, pengetahuan, alat produksi, dan bahkan ajaran leluhur, yang semuanya diyakini menjadi peme- iinara keberadaan dan keutuhan masyarakat yang bersangkutan. Susutnya rasa kebersamaan dan saiing memiliki akan menimbulkan konflik terbuka, dan hal itulah yang merupakan tugas utama para pemimpinnya. Setiap hasil, misalnya bina-tang buruan, harus selalu dibagi-bagi secara merata, dimulai dari para anggota keluarga terdekat. kerabat, hingga ke para tetangga. Pemenuhan kebutuhan materi merupakan persoalan bersama.
Perekonomian pasar, sebaliknya, didasarkan pada persaingan antara pembeli dan penjual. Semua pihak berhubungan untuk memperoleh keuntungan bagi pihaknya sendiri, dan transaksi dilakukan tanpa perlu mengenal lawan transaksi. Keuntungan dan persaingan adalah kata-kata kunci yang diyakini dipentingkan oleh setiap anggota masyarakat. Melalui hal tersebut perekonomian pasar menjanjikan efisiensi alokasi sumber daya. namun ia tidak pernah menjanjikan pemenuhan kebutuhan bagi setiap orang. Banyak perekonomian yang telah dipelajari ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan model itu. Para etnografer selalu menemukan adanya bentuk-bentuk pertukaran murni di antara pihak-pihak yang tidak saling mengenal, dan motif keuntungan bukan segalanya. Sebenarnya dalam perekonomian pasar pun bisa ditemukan pertukaran seperti itu, yang dilakukan untuk menjaga hubungan komunal (bukan untuk keuntungan), meskipun banyak pula pertukaran yang dilakukan untuk menciptakan sesuatu yang lebih mendasar seperti kekuasaan (untuk membina oligopoli, ukuran perusahaan, serikat yang kuat, atau rumah tangga yang padu). Kebanyakan teori dalam antropologi ekonomi diwarnai dualisme. meskipun hal ini sering diabaikan untuk memahami situasi praktis. Antropologi ekonomi mengisyaratkan bahwa ketegangan inheren antara dua bentuk kehidupan ekonomi itu akan selalu ada; dualisme ini, yang ekpresinya bisa saja berubah-ubah, akan tetap menjadi fokus utama bidang studi ini.

PENGERTIAN ANTROPOLOGI EKONOMI | ok-review | 4.5