PENGERTIAN ANGAN-ANGAN DAN FANTASI

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Psikologi

Fantasi adalah kapasitas manusia “memberikan sosok pada sesuatu yang sesungguhnya tidak ada, dan melengkapinya dengan tempat dan nama “. Fantasi sejak lama merupakan sumber lahirnya puisi, drama, dan lukisan. Namun baru pada abad 20 fenomena tersebut menjadi kajian ilmiah formal dalam psikologi. Dalam bahasa sehari-sehari istilah tersebut sama dengan khayalan. Namun dalam bidang eksperimental atau klinis istilah fantasi memiliki arti yang luas karena hal itu tidak hanya menyangkut kegiatan imajiner secara spontan melainkan juga merupakan produk pemikiran yang muncul sebagai respon terhadap suatu kesadaran atau gambaran yang tidak jelas. Istilah tersebut juga mengacu pada representasi artistik proses-proses mental. Fantasi merujuk pada kemampuan luar biasa manusia untuk menciptakan aneka pengandaian, baik itu secara spontan maupun secara sengaja. Khayalan bisa muncul seketika tanpa diundang, atau bisa pula direkayasa, seperti yang sering kali dilakukan banyak orang untuk menanggapi suatu keinginan yang tidak atau sulit dicapai. Visi-visi kenabian seperti yang pernah dialami oleh Johanes mungkin saja merupakan ekspresi khayalan atau fantasi yang dikonstruksikan sedemikian rupa sebagai pijakan untuk menyatakan sesuatu, yang kemudian diterima sebagai petunjuk suci oleh para penganut Kristen. Pada tahun 1980, William James dalam The Principles of Psichology menghabiskan beberapa bab termasuk satu bab yang terkenal mengenai “aliran pemikiran”, guna membahas proses terciptanya fantasi. James menghimbau perhatian ilmiah yang serius untuk menelaah sesuatu yang sejak lama dianggap sebagai hal yang remeh itu. Fantasi bisa saja mencerminkan suatu respon terhadap suatu stimuli melalui suatu proses asosiatif yang kompleks dalam aliran atau arus pemikiran yang tengah berlangsung. Dalam novel Ulysses karya James Joyce, figur utamanya, yakni Stephen, senantiasa menerawang ketika berdiri di puncak gedung apartemennya. Ia seolah-olah melihat gelombang aneh yang mendatanginya, yang mengingatkannya pada bentuk tangga nada lagu anak-anak. Pikirannya terus menerawang, dan kemudian ia mengingat kembali saat-saat kematian ibunya, penolakannya untuk rajin berdoa, dan pada akhirnya sampailah ia pada bayangan kuburannya sendiri yang seolah-olah memanggilnya.
Kontribusi psikoanalitik.Rintisan Freud mengenai struktur dan berbagai kemungkinan interpretatif fenomena impian tak nyata, secara umum didasarkan pada observasinya terhadap diri sendiri dan juga observasi cermat selama ia melakukan pekerjaan klinisnya. Freud (1962 (1908); 1962 [19111) berspekulasi mengenai arti penting psikologis khayalan dalam makalahnya yang berjudul Creative writes and daydreaming. Proses asosiasi bebas psiokoanalisis juga mendorong para pasien untuk membangkitkan kembali ingatannya di masa kanak-kanak dan juga mengenai fantasi-fantasi yang dibuatnya pada masa itu, serta khayalan-khayalannya setelah dewasa. Sepanjang abad 20 para ahli psiko-analisis sudah biasa menggunakan laporan pasien mengenai fantasi spontan mereka dan menerbitkan laporan-laporan itu di berbagai makalah ilmiah yang antara lain menyatakan bahwa mitos atau kisah dan literatur populer sesungguhnya merupakan output dari fantasi.
Metode-metode proyektif. Kajian ulang mengenai fantasi manusia oleh para psikoanalisis dan para ahli psikiatri lainnya membangkitkan minat untuk menemukan berbagai prosedur yang memunculkan fantasi sebagai pijakan diagnosa, baik itu untuk keperluan pengobatan maupun nset. Inilah yang disebut sebagai metode proyektif dan dua di antaranya yang menonjol adalah metode Rorschach Inkblots dan Thematic Apperception Test. Keduanya telah digunakan dalam ratusan riset sehingga memberi kontribusi berarti bagi upaya pemahaman mengenai kepribadian secara umum. Proses Inkblots adalah upaya untuk menggunakan asosiasi spontan guna mengidentifikasikan unsur-unsur struktural kepribadian seperti kecenderungan berkhayal, kecondongan emosional , kepekaan atau organisasi kognisi dan kontrol terhadap diri sendiri. Hermann Rorschach mengamati bahwa respon asosiatif dalam tindakan manusia punya kaitan sistematis tidak hanya terhadap kecenderungan berhayal namun juga kapasitas mengendalikan diri. Berbagai riset ekstensif ternyata mendukung observasi tersebut. Apa yang disebut respon M terhadap metode Rorschach Inkblots itu nampaknya mencerminkan kapasitas adaptis manusia untuk mengendalikan diri, belajar dari pengalamannya sendiri dan berpikir secara kreatif. Thematic Apperception Test adalah suatu metode yang meminta para responden untuk mengajukan cerita melalui gambar-gambar sederhana (seperti gambar seorang bocah yang tengah memainkan biola) yang sepintas lalu tampak tidak terarah, namun sesungguhnya dapat memberikan petunjuk yang berharga mengenai fantasi. Penerapannya secara cemerlang dilakukan oleh David McClelland yang kemudian berhasil mengungkapkan hubungan antara khayalan dan motivasi yang sejak semula sudah disinyalir keberadaannya oleh Henry A. Murray dari Universitas Harvard. Identifikasi kisah khayalan sebagai indikasi motif, baik itu yang berkaitan dengan prestasi, kekuasaan, afiliasi dan keintiman harus dibuktikan agar hal-hal tersebut dapat digunakan untuk memprediksikan perilaku sosial individu yang bersangkutan. Metode riset dan pertimbangan teoretis mutakhir. Sehubungan dengan pengaruh behaviourisme, para psikolog pada awalnya menolak mempelajari proses pembentukan fantasi. Namun sejak 1950-an minat mereka terbangkitkan, yang kemudian memunculkan berbagai metode baru kajian fantasi. Metode-metode yang dewasa ini dipergunakan meliputi survei kuestioner; pencatatan khayalan oleh orang yang bersangkutan; studi laboratorium dengan berbagai variasi teknik; pengukuran psikofisiologis fungsi-fungsi otak selama fantasi tercipta; serta pengukuran fantasi ketika ia muncul dalam benak orang yang bersangkutan. Apa yang dapat kita pelajari dari penerapan metode-metode tersebut? Pendekatan kuestioner memungkinkan kita memperoleh laporan tangan pertama dari ratusan individu dalam waktu singkat sehingga kita dapat memperoleh data mengenai frekuensi, kandungan dan pola fantasi mereka. Hal itu juga memungkinkan peneliti untuk menarik kesimpulan mengenai khayalan dan proses pembentukannya secara normal yang terjadi hampir setiap hari pada setiap orang. Ada tiga jenis fantasi umum yang telah diidentifikasikan. Yang pertama adalah khayalan positif yang berorientasikan pada pengungkapan hal-hal baru yang penting, sedangkan yang kedua adalah khayalan yang menakutkan dan tidak menyenangkan mengenai peristiwa di masa mendatang ataupun yang pernah terjadi di masa lampau, serta yang ketiga adalah khayalan mengenai munculnya suatu kemampuan ajaib untuk memperbaiki segala situasi yang kurang memuaskan pada saat ini. Studi-studi kuestioner juga telah mengungkapkan berbagai variasi kultural dalam proses terciptanya fantasi (ini menunjukkan-bahwa khayalan ada hubungannya dengan mobilitas kelompok sosiokultural dalam setiap masyarakat). Fantasi bisa dikatakan universal, paling tidak di lingkungan dunia Barat, meskipun polanya tidaklah seseragam seperti yang digambarkan oleh buku-buku cerita roman atau film. Namun tidak ada bukti bahwa fantasi merupakan pertanda adanya gangguan emosional yang serius. Bahkan sebaliknya, khayalan diyakini bisa mengurangi tekanan emosi seseorang. Sementara itu studi-studi laboratorium telah menunjukkan data-data yang cukup akurat mengenai hakikat fantasi manusia. Dari berbagai teknik elaborasi dan manipulasi yang digunakan, para peneliti berhasil mengungkapkan frekuensi dan aspek-aspek pokok yang mendorong seseorang untuk berkhayal. Terungkap pula bahwa terdapat banyak hal yang dapat memicu fantasi. Pada sekitar 50 persen waktu penelitian, para subyek tetap saja berkhayal meskipun lingkungan laboratorium di mana mereka berada diubah-ubah, dan mereka tahu kalau diri mereka sedang diamati. Studi laboratorium juga memungkinkan diketahuinya ciri-ciri orang tertentu yang memiliki kecenderungan lebih besar untuk berkhayal. Selanjutnya, studi laboratorium juga memperlihatkan gejala fisik tertentu, khususnya pada raut muka ketika fantasi berlangsung. Ini mengisyaratkan bahwa citra visual merupakan unsur yang punya hubungan paling erat dengan sistem otak yang membangkitkan fantasi. Ada beberapa ienis gelombang otak, seperti alpha ritme dan theta ritme, yang paling erat kaitannya dengan kegiatan fantasi. Serangkaian studi yang mengunakan peralatan khusus telah berhasil pula memetakan proses terjadinya fantasi dalam kehidupan sehari- hari. Studi seperti ini antara lain dilakukan oleh Russell Hurlburt, Mihailyi Csikszentmihalyi dan Eric Klinger (1990). Studi-studi ini juga menunjukkan eratnya kaitan khayalan atau fantasi dengan proses-proses motivasional fundamental yang disebut “perhatian sekarang” (current concerns), yang sesungguhnya merupakan keinginan berjangka pendek atau berjangka panjang yang belum terpenuhi. Teori-teori awal mengenai hakikat proses fantasi ternyata sangat dipengaruhi oleh pemikiran Sigmund Freud, khususnya proposisinya mengenai kapasitas manusia untuk menunda atau membendung tekanan jiwa melalui kapasitas imajinatif. Khayalan tentang puisi memang bisa ditransformasikan menjadi produksi artistik, persis seperti yang dikemukakan oleh Freud. Akan tetapi bukti yang telah ditemukan kurang menunjang pendapat yang mengatakan bahwa “khayalan sesungguhnya hanya harapan-harapan yang tidak terpenuhi”. Jadi pendapat Freud yang menyatakan bahwa orang yang bahagia tidak pernah berkhayal tidak bisa diterima (1962 [1908]). Bukti-bukti riset yang ditemukan sejak akhir 1960-an menunjukkan bahwa khayalan atau berkhayal bisa ditemukan pada semua orang, baik ia orang yang berbahagia atau tidak. Namun pendapat Freud tadi juga tidak bisa dibuang begitu saja, karena mungkin kita bisa merumuskan jalan tengah: orang yang tidak berbahagia punya kecenderungan berkhayal yang lebih besar ketimbang orang-orang yang berbahagia. Kesimpulan jalan tengah ini agaknya relevan dengan hasil penelitian lain yang menunjukkan bahwa khayalan adalah salah satu mekanisme untuk mengeksplorasikan berbagai kemungkinan abstrak yang bertolak dari keinginan untuk menemukan solusi yang lebih baik terhadap masalah yang tengah dihadapi. Lagipula banyak fantasi atau khayalan yang cukup realistis dan menyangkut masalah-masalah praktis yang dihadapi oleh individu yang bersangkutan. Konsepsi berpengaruh lainnya yang dikemukakan oleh Sigmund Freud adalah pernyataannya bahwa khayalan merupakan sejenis mekanisme untuk meredam suatu dorongan internal seperti hasrat atau agresi fisik. Teori Catharsis ini sangat diyakini oleh orang-orang film dan televisi. Mereka bahkan menggunakan konsepsi tersebut sebagai penjelasan atau pembenaran bahwa tontonan kekerasan sesungguhnya tidak berbahaya bagi anak-anak. karena hal itu justru dapat meredam potensi agresif anak-anak. Namun hasil dari berbagai penelitian membuktikan sebaliknya. Tontonan kekerasan justru cenderung meningkatkan implus agresif di kalangan anak-anak (jadi bukannya menurunkannya seperti yang diyakini oleh orang-orang film dan televisi tadi). Kapasitas fantasi manusia mencakup tidak hanya elemen penekanan dorongan namun juga elemen penguatan/penciptaan dorongan yang mengarah pada tindakan nyata. Pendekatan yang dewasa ini banyak digunakan dalam mempelajari fantasi cenderung menempatkan fenomena itu da
lam konteks yang lebih luas, yakni pada suatu kerangka kognitif modern, dan kecenderungan itu pula yang dilakukan oleh serangkaian riset ilmiah afektif dan sosial belakangan ini. Manusia dipandang sebagai mahkluk yang senantiasa berusaha memuaskan dan membebaskan diri dari kompleksitas lingkungannya. Mereka berusaha mengorganisir dan memberi label atas berbagai pengalaman yang mereka dapatkan daiam kehidupan sehari-hari. dan menempatkannya daiam suatu struktur bermakna yang disebut skemata atau skrip. Daiam waktu bersamaan mereka juga berusaha mengantisipasi berbagai hal yang mungkin terjadi di masa mendatang. Fantasilah yang menampung semua upaya itu, yang dalam prosesnya senantiasa dipengaruhi oleh simbol-simbol relijius, legenda
rakyat, literatur populer, dan, ini semakin penting, film serta televisi. Studi-studi tentang daya imajinatif anak-anak mengungkapkan bahwa awal proses fantasi berkaitan dengan saat awal munculnya dilema dan kompleksitas kognitif anak-anak itu dalam menghadapi dunia yang sangat luas (baik dalam pengertian sosial maupun fisik) yang kemudian dicoba diminiaturkan melalui bentuk permainan yang dapat lebih mudah dikendalikan. Orang-orang dewasa melanjutkan proses itu di benak masing-masing baik itu dalam bentuk bayangan mental ataupun monolog interior. Khayalan sesungguhnya mencerminkan usaha seperti itu yang merupakan bagian yang tak terpisah dari daya kreativitas manusia. Para artis justru berusaha mengasah kemampuan tersebut dan menjelmakannya dalam hasil karya mereka. Para ahli psikoterapi dari berbagai aliran kini juga kian terlibat dalam kajian-kajian mengenai fantasi dan kapasitas imajinatif para pasiennya, baik itu untuk keperluan ilmiah maupun untuk keperluan pengobatan.

PENGERTIAN ANGAN-ANGAN DAN FANTASI | ok-review | 4.5