PENGERTIAN ANALISIS INPUT-OUTPUT

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Sebuah tabel input/output mencatat berbagai transaksi antara sektor-sektor industri, dan analisis input/output (1-0) menggunakan data-data dalam tabel itu untuk menelaah saling keterkaitan antara berbagai sektor serta dampak yang ditimbulkan oleh perubahan di satu sektor terhadap sektor-sektor lainnya. Analisis input-output bisa dipandang sebagai salah satu kemajuan kuantitatif dari analisis ekuilibrium umum neoklasik yang dikembangkan oleh para ekonom seperti L. Walras. Cikal bakal konsepnya dapat dilacak pada Table au Economique” karya Quesnay di tahun 1958. Figur kunci yang kemudian mengembangkannya adalah Wassily Leontief yang untuk pertama kalinya membuat sebuah tabel I-O yang sempurna di Amerika Serikat di tahun 1936. Leontief pula yang mengembangkan analisis ini. Produksi dari suatu komoditi senantiasa memerlukan input dari sektor industri lain. Dari sebuah tabel kita dapat menyusun matriks koefisien teknis guna memperlihatkan input-input langsung yang diperlukan oleh setiap unit output. Sebagai contoh, dalam matriks A di bawah ini, input langsung yang diperlukan untuk setiap unit output adalah 0.1= 20/200. Pada gilirannya produksi dari setiap komoditi itu digunakan sebagai input bagi sektor industri lain, dan dalam putaran kedua, produksi ini akan menciptakan permintaan bagi industri-industri lain, dan proses ini akan terus berlangsung berulang-ulang. Dalam proses tersebut, setiap input disebut sebagai input tak langsung. Dengan melacak proses itu melalui suatu sistem 1-0 yang besar, akan dapat ditunjukkan secara matematik: peran dari setiap input termuat dalam matriks (l-A)’ di mana 1 adalah matriks unit sedangkan A adalah matriks koefisien input langsung. Matriks itu, yang kemudian disebut matriks kebalikan Leontief (Leontieff Inverse), memperlihatkan total input langsung dan tak langsung yang diperlukan untuk memproduksi setiap unit output pada kolom-kolomnya. Matriks ini merupakan kunci 1-0 yang lazim dipergunakan untuk menunjukkan tingkat saling ketergantungan antar-sektor industri dalam suatu perekonomian. Sebagai contoh, jika diketahui konsumen memerlukan 1000 unit A, maka dari matriks itu akan diketahui bahwa untuk memenuhi permintaan tersebut diperlukan produksi 177 unit A, 351 unit B. dan 141 unit C (lihat kolom A pada matrik [I-O]). 77 unit tambahan A diperlukan oleh B dan C guna menghasilkan in- put-input dalam jumlah yang memadai untuk proses produksi yang berikutnya.
Melalui model itu kita dapat menghitung dampak perubahan permintaan dalam suatu perekonomian terhadap output dari semua sektor industrinya. Analisis ini dapat mencakup semua penghitungan input atau faktor produksi guna memprediksikan tingkat-tingkat output atau sebaliknya seberapa banyak input yang diperlu-kan untuk mencapai tingkat output tertentu. Dapat dikembangkan untuk menelaah impor sehingga memungkinkan diketahuinya kebutuhan impor untuk memenuhi permintaan di dalam negeri, atau apa yang ha’us dilakukan untuk menyeimbangkan impor dergan ekspor. Ketika produksi suatu komodfi berlangsung terus melalui suatu mata rantai produksi, perubahan harga dari suatu input akan memberi pengaruh pada setiap mata rantai produksi tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga harga itu dapat dilacak pada “harga” tenaga kerja, modal, dan impor melalui Leontief Inverse. Itu berarti kita dimungkinkan untuk menghitung dampak terhadap harga-harga final dari, misalnya, kenaikan upah di salah satu sektor industri atau perubahan harga impor yang mungkin dikarenakan perubahan kurs atau harga di luar negeri. Semua aspek dari analisis input-output di atas dapat dipadukan ke dalam sebuah model perencanaan yang dapat memberikan gambaran yang komprehensif dan konsisten secara internal mengenai perekonomian yang bersangkutan untuk jangka waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang. Gambaran seperti ini jelas sangat penting bagi para pembuat kebijakan, misalnya untuk mengetahui implikasi-implikasi dari pertumbuhan di sektor industri tertentu, perubahan harga, pergeseran dalam neraca pembayaran, dan sebagainya. Sebagian besar negara telah menggunakan tabel-tabel 1-0 yang biasanya mencakup 50 sektor industri atau lebih. Meskipun mode! seperti ini tidak begitu populer lagi di negara-negara Eropa Barat, namun tabel-tabel itu masih banyak dilakukan di lingkungan Persemakmuran Negara- negara Merdeka (CIS), Eropa Timur dan negara-negara berkembang. Tabel itu digunakan untuk memperkirakan dampak perubahan-perubahan dalam permintaan dan penawaran terhadap variabel-variabel kunci ekonomi. Penyempurnaan analisis I-O telah dilakukan, antara lain berupa pengimbuhan disagregasi, pencakupan analisis terhadap kawasan khusus ekonomi serta pening-katan aspek dinamis dari model ini guna mencakup variabel investasi.

PENGERTIAN ANALISIS INPUT-OUTPUT | ok-review | 4.5