PENGERTIAN ANALISIS DISKURSUS

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Filsafat

Analisis diskursus adalah metode yang menjembatani sejumlah ilmu sosial yang, secara teoretis, terus diperdebatkan. Di sini para psikolog sosial dan kognitif bertemu sekaligus berselisih dengan para sosiolog, filsuf, ahli pidato, dan para ahli linguistik. Secara awam, analisis dikursus diartikan sebagai studi bahasa dalam konteks sosial dan kognitif (bukan sekedar dalam konteks linguistik atau pemakaian bahasa itu sendiri). Disiplin psikologi maupun linguistik sama-sama mengenal proses diskursus, yakni proses pemaknaan. Agaknya analisis diskursus lebih tepat diartikan sebagai studi tentang unit-unit linguistik yang lebih besar ketimbang kalimat. Di sini upaya dicurahkan untuk mengorek proses pemberian dan penyebaran makna melalui percakapan dan ungkapan sampiran. Misalnya saja, analisis diskursus mencoba menebak gramatika atau pola kebahasaan tertentu dalam sebuah naskah tertulis yang lazimnya hanya dipahami secara kognitif oleh pembacanya. Obyek yang sering digunakan adalah interaksi dalam ruang kelas. Sinclair dan Coulthard mencoba merumuskan model sistematik guna melacak pola interaksi dalam kegiatan belajar-mengajar yang berstruktur IRF (initiative-response-feedback). ¬†Ambisi untuk membuat model cukup besar sehingga pola serupa juga dikorek dari interaksi dokter- pasien, wartawan-sumber berita, dan interaksi dalam rapat atau konferensi. Meskipun berhasil membuahkan sejumlah masukan berharga, secara umum model-model itu masih banyak diliputi kelemahan karena pendekatan linguistik sesungguhnya tidak bisa diterapkan begitu saja terhadap praktek-praktek sosial yang kompleks, baik itu yang ada di ruang kelas maupun di tempat-tempat lain. Meskipun linguistik adalah pangkal-tolaknya, namun perkembangan selanjutnya analisis diskursus ini lebih dipengaruhi oleh sosiologi dan teori- teori kesusasteraan. Tujuannya pun bergeser, yakni membuat ilmu-ilmu sosial lebih mudah dipelajari, secara lisan maupun tertulis, dan lebih berorientasi pada tindakan. Dalam bentuknya yang paling sederhana, analisis diskursus adalah suatu observasi terhadap domain sosial yang kompleks, yang senantiasa ditafsirkan secara berbeda oleh setiap ilmuwan sosial. Kesederhanaan ini, secara metodologis, tidak dipermasalahkan karena diakui bahwa suatu masalah sosial ada kalanya lebih mudah dipahami lewat observasi ala kadarnya. Masalah seperti ini justru akan membingungkan jika diteropong dengan berbagai teori dan metode riset yang rumit. Gilbert dan Mulkay (1984) memperlihatkan bahwa pemahaman atas fenomena sosial yang sama bisa dibuat menjadi beberapa versi melalui “pengulangan interpretatif” atau pemakaian kata-kata dan kalimat, metafora dan pengistilahan yang makna dasarnya sama namun mengandung nuansa yang berbeda.” Pengulangan empiris : dominasi makalah-makalah riset, dan selalu cipun para ilmuwan guna menonjolkan keyakinan mereka sendiri. Ada kalanya hal ini membuat tulisan tentang satu hal yang sama menjadi tampak berbeda. Sesuatu hal yang sama jika disampaikan dengan kalimat-kalimat dan gaya bahasa yang berlainan bisa terkesan berbeda. Setiap ilmuwan secara sadar atau tidak sadar sering berbuat demikian untuk menunjukkan jati dirinya.
Hal itulah yang kemudian mendorong para psikolog sosial untuk menyusun kembali landasan-landasan teori mereka berdasarkan gagasan yang sama yang mereka dasarkan pada pemikiran etnometodologi dan pasca strukturalis (terutama dari Barthes dan Foucaut yang terkadang disebut paket analisis diskursus kontinental Ironisnya, bentuk analisis diskursus tersebut justru digunakan pula untuk mempertanyakan status dari sejumlah gagasan kognitif yang melatarbelakangi berkembangnya analisis diskursus itu sendiri. Misalnya. Wetherelldan Potter H 992 memetakan kembali pengulangan interpretasi dalam bahasa yang digunakan kalangan menengah di Selandia Baru, yang kemudian mereka nyatakan sebagai sumber ketimpangan sosial mengganjal perubahan sosial. Studi bahwa pola bahasa yang dipakai ternyata bersifat rasis, bahkan Ketika kalangan menengah itu bicara tentang konsep- konsep egaliter dan liberal. Sebagian ilmuwan sosial kurang penekanan relativis itu. Meskipun demikian cara para pendukungnya, hal itu diterima sebada: cara untuk sumber-sumber (pengulangan, alat-alat. sistem kategori yang biasa digunakan masyarakat awam dalam memahami sesuatu, dan cara pemanfaatan sumber-sumber tersebut.

PENGERTIAN ANALISIS DISKURSUS | ok-review | 4.5