PENGERTIAN ANALISIS BIAYA-MANFAAT

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Ekonomi

Dalam penerapan praktisnya, istilah analisis biaya-manfaat (CBA) mulai dikenal ketika disebut-sebut dalam Undang-undang Pengendalian Banjir AS (US Flood Control Act) 1936. Tanpa merujuk pada konsep ekonomi kesejahteraan yang telah berkembang di masa itu, dan sebelum adanya kriteria kompensasi, undang-undang itu teiah menegaskan bahwa setiap proyek pengendalian banjir harus didasarkan pada analisis biaya dan manfaat/keuntungan yang cermat, termasuk pemberian imbalan kepada mereka yang tergusur. Ketentuan ini menandai mulai ditonjolkannya kriteria sosial dalam perhitungan investasi, yang sekaligus membedakan CBA dari teknik-teknik lain yang lebih ortodoks dalam perhitungan cashflow suatu perusahaan atau instansi. Anehnya, CBA lalu berkembang sebagai landasan teoritis ilmu ekonomi kesejahteraan. Gagasan bahwa keuntungan individu harus dihitung berdasakan indikator-indikator surplus konsumen memang sudah ada pada tulisan-tulisan di abad 19, khususnya karya Dupuit dan Marshali (namun penyempurnaannya dilakukan oleh Hicks. 1943). Konsep “harga bayangan” (shadowprice) yang sangat penting dalam CBA itu ternyata tidak hanya dikaitkan dengan ukuran-ukuran pasar lazimnya, namun juga pada hitungan biaya marginal yang lebih berdimensi sosial. CBA diterapkan secara luas oleh berbagai instansi pemerintah di AS pada 1950-andan 1960 an, serta dianjurkan pula di berbagai negara Eropa. Namun aplikasinya menyusut karena ketidak-mampuannya mengekspresikan nilai-nilai mo-neter dari berbagai barang abstrak yang penting seperti perdamaian, ketenangan lingkungan, udara segar, dan kualitas hidup yang menyenangkan. Setelah resesi 1973, pemerintah AS kembali meng¬gunakannya karena di masa itu belanja pemerintah kembali melonjak. Kelemahan-kelemahannya dicoba diatasi dengan metode-metode penunjang seperti teknik pengukuran kualitas lingkungan, analisis biaya-efektivitas (di sini hanya sumber daya yang nilai moneternya dihitung, sedangkan manfaat atau keuntungannya tetap tidak bisa diukur dengan satuan moneter), serta pendekatan-pendekatan muiti-obyektif. CBA tetap digunakan karena keunggulannya dalam memprediksikan tingkat pembelanjaan optimal (yang dapat membuahkan hasil maksimal) sehingga memudahkan penyusunan skala prioritas proyek-proyek pemerintah. Sejumlah praktisi bahkan berkeyakinan manfaat CBA lebih dari itu. CBA dianggap bisa diandaikan untuk membandingkan tingkat efisiensi atas berbagai pos pembelanjaan pemerintah, mulai dari pos anggaran pertahanan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.
Dalam rumusan umumnya, CBA beroperasi berdasarkan konsep-konsep ilmu ekonomi kesejahteraan yang mengutamakan efisiensi. Maksimalisasi keuntungan sosial netto secara formal dinyatakan sama dengan keuntungan kesejahteraan neto terbesar seperti yang didefenisikan sebagai prinsip kompensasi Kaldor-Hicks. Perdebatan akademik mengenai hal ini terpusat pada kelayakan pilihan surplus konsumen sebagai ukuran dasar, yang biasanya disertai dengan “variasi kompensasi” yang dirumuskan oleh Hicks. Penggunaan harga-harga sosial yang didasarkan pada penilaian konsumen secara implisit mengasumsikan bahwa distribusi kekuatan pasar dalam suatu perekonomian sudah optimal. Karena ini menyangkut penilaian subyektif, maka terbuka peluang bagi siapa saja untuk memasukkan penilaiannya sendiri. Ada pihak yang berpendapat bahwa terbukanya peluang seperti itu merupakan sumber kelemahan CBA. Ada pula yang ber-pendapat bahwa tidak ada masyarakat yang beroperasi dengan mengabaikan kriteria distri- busional, dan penilaian distribusional itu sama arbitrernya dengan penilaian efisiensi sehingga CBA cukup bisa diandalkan. Upaya penyempurnaan aspek praktis CBA terus berlanjut sehingga melampaui mekanisme pengungkapan preferensi individu dalam konteks ketiadaan pasar eksplisit. Salah satu upaya yang berhasil adalah pengembangan teknik harga hedonik dan penggunaan teknik-teknik pengikatan (“penilaian tergantung“). Harga-harga hedonik merujuk pada koefisien-koefisien yang mengukur hubungan harga properti dengan perubahan-perubahan berbagai variabel non-pasar yang mempengaruhi harga properti tersebut. Contohnya adalah udara bersih yang akan meningkatkan harga suatu properti atau bangunan. Maksudnya adalah suatu gedung yang dibangun di lingkungan yang udaranya bersih pasti lebih mahal dibanding dengan gedung yang kualitasnya sama yang berada di lingkungan yang udaranya tidak bersih. Teknik-teknik pengikatan ini melibatkan pula penggunaan kuesioner yang secara langsung menanyakan penilaian konsumer mengenai keuntungan yang akan diperolehnya. Karena biaya dan manfaat cenderung ter-akumulasi, CBA juga dilengkapi dengan pendekatan diskonto guna menghitung pemasukan dan pengeluaran di masa mendatang berdasarkan nilai sekarang dan tingkat diskonto tertentu. Penghitungan tingkat diskonto itu sendiri merupakan bahan kajian yang luas. Secara teoretis konsumen lebih menyukai penghasilan sekarang ketimbang penghasilan dimasa mendatang sekalipun jumlahnya lebih kecil karena adanya kecenderungan ketidaksabaran konsumen. Karena itu, tingkat preferensi waktu sama dengan suku bunga yang sekaligus mencerminkan produktivitas modal. Dalam prakteknya, tingkat preferensi waktu dan taksiran biaya modal bisa sangat bervariasi akibat ketidaksempurnaan pasar-pasar modal. Lagipula, tingkat diskonto itu berkaitan dengan keputusan-keputusan sosial yang senantiasa berfariasi dari satu individu ke individu lain, karena selera individu juga selalu bervariasi. Perdebatan berikutnya tercurah pada soal kecermatan perhitungan keuntungan antar-generasi karena tingkat diskonto positif berpotensi mengalihkan beban biaya bagi generasi mendatang. Misalnya saja, perhitungan pembangunan pembangkit tenaga nuklir hanya terfokus pada aspek-aspek manfaat dan biaya sekarang, sehingga biaya-biaya yang akan dipikul oleh generasi mendatang sedikit banyak terabaikan. Ini merupakan suatu masalah kompleks yang menimbulkan pertanyaan fundamental mengenai seberapa jauh daya prediksi CBA. Karena di sini yang diutamakan adalah kedaulatan konsumen, maka godaan untuk mengabaikan variasi dampak antar generasi sulit dihindari. CBA semakin diminati dalam beberapa tahun belakangan ini. Hal itu tidak hanya dikarenakan bangkitnya kembali minat terhadap nilai sosial dari pembelanjaan publik/pemerintah, namun juga telah berkembangnya teknik-teknik alternatif sejak 1970-an yang ternyata kurang handal dibandingkan dengan CBA. CBA mendapat tempat dominan dalam ilmu ekonomi lingkungan, khususnya dalam analisis biaya dan manfaat proyek-proyek lingkungan. Perannya dalam mendukung pemikiran rasional juga lebih tinggi ketimbang alternatif-alternatif yang telah berkembang sesudahnya. Karena itulah CBA tetap memainkan peranan penting hingga saat ini.
 

PENGERTIAN ANALISIS BIAYA-MANFAAT | ok-review | 4.5