PENGENALAN EMOSI DAN KATEGORI EMOSI

By On Wednesday, November 20th, 2013 Categories : Psikologi

Banyak karya mengenai keakuratan persepsi manusia difokuskan kepada pengenalan emosi, yaitu apakah seseorang merasa senang atau takut, ngeri atau jijik. Prosedur dasarnya ialah menampilkan seorang subjek dengan stimulus yang mewakili orang lain dan minta agar subjek itu mengidentifikasi emosi orang lain tersebut. Pada beberapa telaah, aktor terlatih menggambarkan sejumlah emosi berbeda, dan ekspresi wajahnya dipotret. Sebuah potret dipilih mewakili masing-masing emosi. Potret- potret tersebut lalu diperlihatkan kepada subjek yang diminta menunjukkan emosi apa yang digambarkan. Beberapa di antara potret-potret tersebut. Telaah lainnya menggunakan manusia hidup atau suara-suara terpisah dari jasmani.
Dengan kerangka teknik yang luas ini, tidak mengherankan kalau hasilnya juga bermacam-macam. Telaah-telaah sebelumnya kelihatannya menunjukkan bahwa orang tidak dapat menilai emosi melalui ekspresi wajah lebih baik ketimbang penilaian untung-untungan. Telaah-telaah yang menyusul kemudian menunjukkan bahwa orang dapat membuat pemisahan dari kelompok besar emosi tersebut, meskipun mereka tidak dapat membuat pemisahan yang sempurna atas masing-masing emosi pribadi tersebut. Woodworth (1938) menyatakan bahwa emosi dapat diatur berdasarkan “continuum” enam-segi, dengan kemudahan membedakan setiap dua emosi yang dihubungkan kepada jarak antarmereka pada continuum ini. Ini menghasilkan sejumlah telaah semacam itu. Biasanya telaah itu setuju dalam menemukan orang yang mengekspresikan tujuh kategori emosi. Ketujuh kelompok itu adalah:
1. Kebahagiaan, kegembiraan.
2. Terkejut, heran.
3. Takut.
4. Kesedihan.
5. Kemarahan.
6. Muak, penghinaan.
7. Perhatian, atensi.
 
Kelihatannya orang pandai membedakan emosi dalam kategori yang tiga, empat atau lima unsur terlepas — mereka jarang mengacaukan kebahagiaan dengan kemuakan atau rasa terkejut dengan perasaan menghina. Mudah sekali bagi orang untuk membedakan emosi yang menyenangkan dari yang tidak menyenangkan di wajah orang lain (lagi-lagi menunjukkan pentingnya dimensi evaluatif dalam persepsi manusia). Akan tetapi, menurut mereka adalah tidak mungkin mendiskriminasikan emosi dalam kategori yang sama atau hanya satu kelompok saja.
Banyak riset dilakukan dengan menilai unsur kepribadian yang lebih mapan, seperti mendominasi-mengalah atau butuh berafiliasi. Kerja seperti ini lebih mematahkan semangat karena berbagai alasan. Pertama-berbagai prasangka dapat mempengaruhi para pengamat. Kedua-sangat sukar mengukur unsur kepribadian, jadi terdapat masalah dalam mengidentifikasi kriteria yang pantas. Masalah ketiga yang bahkan paling serius ialah, menurut beberapa psikolog (seperti Mischel, 1979), setiap unsur kepribadian yang diungkapkan hanya mempengaruhi perilaku secara konsisten dalam serangkaian situasi terbatas. Yang dimaksud ialah bahwa kita mungkin mempunyai pembawaan yang unik dan khusus, yang membuat kita bereaksi secara teratur menurut cara khusus kita sendiri dalam situasi apa pun yang diberikan, tetapi rangkaian situasi yang satu mungkin tidak konstan dengan situasi lainnya. Oleh karena itu, akan lebih bermanfaat untuk menganggap unsur kepribadian mempergunakan berbagai rangkaian situasi terbatas daripada menganggap unsurlah yang banyak mempergunakan segala situasi.
Contohnya, para psikolog biasanya akan membicarakan tentang unsur umum kejujuran atau ketidakjujuran, dan karena itu meng-gambarkan seseorang sebagai “jujur” dan “tidak jujur”. Walau demikian, implikasi karya Mischel adalah bahwa kita sebaiknya menggeneralisasi kejujuran seseorang hanya dalam, susunan situasi yang lebih terbatas. Kita mengenal seseorang yang seringkah menipu di meja bilyar atau ketika sedang bermain golf; dia kelihatan sering mengulang sodokan yang keliru tanpa menghukum dirinya sendiri. Tetapi dia merupakan seorang yang benar-benar adil dalam urusannya dengan rekan-rekan sekerjanya atau bawahannya. Apakah kita harus menggambarkannya secara umum sebagai seorang yang “tidak jujur”? Atau lebih pantas kalau kita menyebutnya sebagai orang yang jujur dalam tugas profesinya tetapi penipu dalam pertandingan?
Masalah yang ditimbulkannya dalam keakuratan persepsi manusia ialah bahwa seandainya unsur kepribadian dibatasi sampai susunan situasi tertentu, akan jadi semakin sukar bagi para pengamat untuk membuat penilaian yang akurat. Para pengamat harus melihat kecenderungan orang tersebut maupun situasinya secara akurat. Para pengamat mempunyai kecenderungan untuk menyalahkan unsur kepribadian umum pada masyarakat dengan tidak mengindahkan fakta bahwa masyarakat dapat berperilaku berlainan pada beberapa situasi yang berlainan pula. Untuk alasan-alasan tersebut, para ahli psi-kologi sosial percaya bahwa masyarakat lebih akurat menilai emosi seseorang dibandingkan pembawaan kepribadian yang mapan.

PENGENALAN EMOSI DAN KATEGORI EMOSI | ok-review | 4.5