PENGARUH KONTEKS TERHADAP INFORMASI

By On Wednesday, November 20th, 2013 Categories : Psikologi

Andaikan bahwa para pengamat sedang mencoba membuat kesan yang berarti tentang seluruh pribadi, ketimbang hanya menerima setiap potongan informasi yang terpisah-pisah. Pemahaman mereka mengenai setiap penggal informasi baru sebagian tergantung dari konteks. Arti “cerdas” dalam konteks pengertian bahwa seseorang itu “ahli terapi yang hangat dan penuh perhatian” akan sangat bersifat positif. Tetapi, arti “cerdas” untuk seorang “mata-mata Rusia yang dingin dan kejam” akan bersifat lebih negatif; orang tersebut akan kelihatan semakin berbahaya. Untuk meramal dampak informasi baru, kita harus mengetahui konteksnya, karena hal itu akan mempengaruhi artinya.
Berbagai riset telah menunjukkan bahwa konteks memang mempengaruhi dampak yang diakibatkan informasi baru atas kesan yang ada. Tetapi, bagaimana pengaruh konteks dihasilkan, masih merupakan hal yang diperdebatkan. Bagi Asch (1946), yang lebih banyak bekerja berdasar pendekatan kognitif, keseluruhan itu lebih dari suatu bagian mekanis rata- rata. Para pengamat menciptakan keseluruhan yang bermakna dari informasi apa saja yang diberikan, dan keseluruhan akan berubah dengan adanya informasi yang berbeda. Jadi, setiap ciri yang diberikan akan mempunyai arti berbeda jika ia ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Hanya memakai bikini mempunyai arti yang sama sekali lain dalam gedung konser simfoni dibanding di pantai di musim panas, dan akan dinilai sangat lain meskipun ia dan kedua konteks tadi sama-sama menyenangkan. Menurut Asch, ciri baru akan mengalami pergeseran arti jika ditempatkan dalam konteks baru. “Kecerdasan” yang dimiliki seseorang yang dingin dan kejam dapat membahayakan, dapat menimbulkan sikap bermusuhan, dan merusak. Pada orang yang hangat dan penuh perhatian, “kecerdasan” diharapkan akan menunjang empati, kecakapan memahami persoalan, dan kemampuan memberi kepada orang lain.
Di pihak lain, Anderson (1966), konsisten dengan pendekatan penyamarataannya, menyatakan bahwa pengaruh konteks atas nilai ciri baru tersebut dapat diramalkan hanya dengan memukulratakan nilainya bersama-sama dengan informasi baru itu. Contohnya, kita andaikan “kecerdasan” bernilai +2 jika dia berdiri sendiri. Dan kita misalkan nilai gabungan dari “mata-mata Rusia yang dingin dan kejam” adalah —4. Dalam konteks ini, dukungan terhadap “kecerdasan” bagi kesan menyeluruh akan merupakan pukul rata dari keduanya, atau lebih kurang —1. Sebaliknya, jika nilai “hangat dan penuh perhatian” adalah +4, dapat segera Anda lihat bahwa “kecerdasan” akan bernilai +3 dalam konteks tadi. Anderson menggambarkan pengaruh konteks ini sebagai akibat generalisasi halo. Seperti dapat Anda lihat, dia tidak mengasumsi banyak pemikiran yang teliti; ciri baru itu hanya secara mekanis menyerap beberapa perasaan baik atau buruk yang diasosiasikan dengan konteks itu.
Beberapa riset telah dilaksanakan atas kedua penjelasan mengenai pengaruh konteks tersebut. Satu cara mendekati pertentangan tersebut adalah dengan menentukan apakah dalam kenyataan ciri yang diberikan itu mempunyai arti berbeda dalam konteks yang berbeda. Hamilton & Zanna (1974; Zanna & Hamilton, 1977) menemukan bahwa konotasi sebuah ciri tertentu jadi berubah jika ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Sebagai contoh, kata “angkuh” dalam konteks positif mempunyai konotasi “percaya diri-sendiri”. Dal&m konteks negatif, ia mengkonotasikan ‘ “kesombongan”. Bersamaan dengan itu, Wyer (1974) – menemukan bahwa penilaian atas konotasi-konotasi tersebut juga mencerminkan konteks. Untuk menggunakan contoh ini, konotasi (“kesombongan”) ciri asli (“angkuh”) yang diimplikasikan konteks negatif itu sendiri mempunyai penilaian negatif. Telaah semacam itu menunjukkan bahwa pengaruh kontekstual sebagian ditentukan fenomena-pergeseran-arti.

PENGARUH KONTEKS TERHADAP INFORMASI | ok-review | 4.5