PENGARUH ASAM GLUTAMAT PADA RANSUM AYAM PETELUR

By On Wednesday, November 13th, 2013 Categories : Teknologi

Pembangunan peternakan diantaranya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani peternak dan untuk memenuhi gizi masayarakat. Peternakan ayam merupakan salah satu pilihan dalam usaha memenuhi kebutuhan protein hewani yang berupa daging maupun telur. Namun demikian, beberapa kendala perlu diperhatikan dalam usaha peternakan ayam petelur, yaitu bagaimana mempertahankan produksi yang tinggi dengan kualitas yang optima; dan efisien dalam penggunaan ransum. Dalam penyusunan ransum unggas yang perlu diperhatikan adalah pemenuhan kebutuhan zat gizi yang sangat ditentukan oleh kualitas dari bahan pakan yang akan digunakan. Selanjutnya agar unggas dapat berproduksi tinggi, maka dalam pakannya harus cukup mengandung energi, protein dan asam amino serta zat yang saling melengkapi. Penurunan kandungan protein dalam ransum merupakan salah satu cara untuk menekan harga ransum karena protein yang terkandung dalam ransum merupakan bagian yang termahal. Sedangkan biaya ransum merupakan komponen yang terbesar dari total biaya produksi, yaitu sebesar 70-75 %. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan d ari penurunan ransum akan menurunkan produksi dan kualitas telur. Sebaliknya pemberian ransum dengan tingkat protein yang tinggi selain menyebabkan harga ransum menjadi lebih mahal, juga menyebabkan tingginya kandungan nitrogen dalam ekskreta yang merupakan salah satu penyebab pencemaran lingkungan.
Masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan diantaranya pencemaran bau, tanah maupun air yang disebabkan karena kadar nitrogen. Salah satu cara untuk mencegah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh nitrogen adalah dengan cara menurunkan kadar protein kasar dalam ransum ayam petelur. Keadaan protein yang rendah pada ransum, meskipun asam amino esensialnya cukup, mungkin asam amino non esensialnya kurang dapat disintesis dalam jumlah yang memadai. Sifat asam amino non esensial tergantung dari jumlah protein kasar yang tersedia dalam ransum. Pada keadaan protein kasar yang rendah ini, asam amino non esensial yang ditambahkan kedalam ransum dapat digunakan sebagai pengganti protein kasar (Larbier dan Leclercq, 1992). Asam glutamat merupakan asam amino non esensial yang berperan penting dalam sintesis asam amino. Hal ini yang menjelaskan mengapa pada asam amino non esensial dalam ransum, asam glutamat merupakan sumber nitrogen non spesifik yang efektif (Maynard et al, 1984). Selanjutnya ditambahkan oleh Lehninger (1992), bahwa dalam biosintesis asam amino non esensial, precursor rantai karbonnya berasal dari asam alfa keto dan gugus aminonya berasal dari transaminasi asam glutamat. Penambahan asam glutamat lebih efektif untuk meningkatkan pertumbuhan pada ayam yang diberi ransum hanya mengandung asam amino esensial saja dibandingkan jika diberikan pada ransum yang juga mengandung asam amino non esensial yang lain. Berdasar uraian tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan asam glutamat pada ransum ayam petelur yang berkadar protein rendah terhadap produksi telur dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan dengan mengukur kandungan nitrogen ekskretanya. Kebutuhan protein u ntuk ayam petelur tidak ditentukan oleh kandungan protein kasar saja tetapi lebih tepat didasarkan pada asam-asam amino yang terkandung di dalam pakannya dan keseimbangan asam-asam amino tersebut serta ketersediaannya untuk sintesis protein tubuh dan agar produksi telur akan tetap optimal. Kebutuhan asam amino dapat dipenuhi dengan mencukupi kebutuhan protein minimum dalam ransum, kemudian dalam ransum ini di-tambahkan asam-asam amino yang diperlukan. Akan tetapi pada kondisi yang normal lebih sering dijumpai defisiensi asam amino (Wahyu, 1992). Pemberian protein yang berlebihan tidak ekonomis dan tidak dibenarkan seperti halnya pada kekurangan protein, sebab protein yang berlebihan tidak dapat disimpan dalam tubuh, akan tetapi dipecah dan nitrogennya dikeluarkan melalui ginjal. Pemberian pakan yang kaya protein menyebabkan naiknya suhu tubuh, feses berbau busuk dan ginjal bekerja keras. (Kamal.1990). Asam-asam amino dibutuhkan untuk menyusun jaringan-jaringan tubuh, sehingga protein yang dibutuhkan oleh ayam lebih tepat didasarkan pada asam amino esensial yang diperlukan.Lebih lanjut dinyatakan bahwa pada dasarnya sifat dari asam-amino non esensial tergantung dari jumlah protein kasar yang tersedia dalam ransum. Dalam keadaan kadar protein kasar ransum rendah, maka asam amino non esensial kurang dapat disintesis dalam jumlah yang cukup sehingga kebutuhan protein untuk ayam lebih tepat dinyatakan atas dasar kebutuhan asam amino esensial secara mandiri dan kebutuhan asam amino non esensial secara keseluruhan. Apabila ayam sudah mendapatkan asam amino esensial dalam jumlah yang cukup,  masih diperlukan nitrogen (protein kasar) untuk sintesis asam amino non esensial yang dibutuhkan (Uzu, 1982). Nitrogen yang digunakan untuk mensintesis asam amino non esensial dapat berasal dari asam amino non esensial lainnya maupun dari kelebihan asam amino esensial. Karena tubuh harus mendapatkan nitrogen tersebut dari pakan, maka banyak yang berpendapat bahwa asam amino non esensial juga merupakan masukan yang esensial (Kanoni etal, 1992). Hasil penelitian Penz dan Jensen (1991) menunjukkan bahwa ayam petelur yang mendapat ransum dengan penambahan asam amino non esensial pada kadar protein menjadi 13 % ternyata tidak berpengaruh terhadap bobot dan persentase albumen. Selanjutnya hasil penelitian Deschepper dan Groote (1995) menggunakan ransum berkadar protein rendah dengan penambahan asam amino esensial maupun asam amino non esensial menunjukkan performan yang sama dengan ransum kontrol (berprotein tinggi).
Penambahan asam amino non esensial berupa asam glutamat atau asam aspartat dapat meningkatkan secara cepat kandungan protein kasar dalam ransum. Penambahan asam glutmat pada ransum pada umumnya sebanyak 8-15% yang masing-masing menigkatkan 5% kandungan protein kasar (Nelson, 1989). Hasil penelitian dengan menggunakan protein kasar sebesar 13; 16 dan 19% pada ransum ayam petelur ternyata bobot dan produksi telur serta konsignsi pakan meningkat sejalan dengan peningkatan kadar protein dan metionin yang d itambahkan (Calderon d an Jensen, 1990). Selanjutnya Penz dan Jensen (1991) mrngemukakan bahwa perbedaan bobot telur disebabkan meningkatnya kadar nitrogen dalam ransum, sehingga kadar protein ransum menjadi 16 % dengan penambahan asam glutamat dan glisin. Sedangkan hasil penelitian Koelkebeck et al (1991) menunjukkan bahwa pada kadar protein kasar (10; 13 dan 16 %) produksi telur meningkat sesuai dengan kadar protein kasarnya. Menurut Etches (1996) bobot putih telur, kuning telur dan kerabang akan meningkat seiring dengan meningkatnya umur dan bobot telur, tetapi peningkatan ini tidak proporsional. Protein yang berlebihan dalam ransum merupakan suatu pemborosan, karena sebagian besar asam amino yang terdapat pada protein tersebut mengalami proses deaminasi dan selanjutnya akan digunakan sebagai sumber energi dan nitrogennya akan diekskresikan melalui urine. Nitrogen yang diekskresikan oleh ayam adalah dalam bentuk asam urat (Kamal, 1995). Jumlah nitrogen dalam ekskreta akan dapat menurun, sehingga dapat mengatasi masalah lingkungan diantara n ya pen cemara n bau,pencemaran tanah apabila dalam penyusunan ransumnya berkadar protein yang rendah dengan penambahan asam amino sintetis dalam ransum tersebut (Moran et al, 1992). Demikian pula menurut Keshavarz dan Jackson (1992) bahwa penurunan ekskresi nitrogen dapat diatasi dengan pemberian ransum dengan kadar protein rendah dengan suplementasi asam amino sintetis terutama lisin dan metionin. Hasil penelitian Harimurti (2004) dengan penurunan level protein kasar 18 %, 16 %, 14 % dan 12% yang dikoreksi penambahan lisin, metionin dan treonin, ternyata kandungan nitrogen ekskreta temdah pada level 12 %. Rotter et al (1996) juga menambahkan bahwa perbedaan dalam kadar protein ransum dan kandungan asam aminonya akan berpengaruh terhadap kandungan nitrogen yang terdapat pada ekskrela. Selanjutnya Deschepper dan Grote (1995) menyatakan bahwa, pada ransum yang berkadar protein rendah dan dalam ransum tersebut ditambahkan asam amino esensial maka efisiensi penggunaan protein lebih baik, sedangkan pada ransum kontrol yang sesuai dengan rekomendasi NRC (1997), maka kadar nitrogen akan menurun sebanyak 26 %. Materi penelitian menggunakan ayam petelur Strain Lohmann 402 sebanyak 50 ekor umur 23 minggu. Ayam ditempatkan pada sangkar baterai koloni terbuat dari kawat berjumlah 25 koloni. Setiap koioni digunakan untuk 2 ekor ayam. Alat yang digunakan adalah timbangan sebanyak 2 buah terdiri dari timbangan digital merek O’Haus kapasitas 1,20 kg dengan kepekaan 0,01 gram untuk menimbang telur dan bahan pakan dalam jumlah kecil. Timbang┬Čan kapasitas 19 kg dengan kepekaan 1,0 gram untuk menimbang ayam dan bahan pakan dalam jumlah besar. Selain itu digunakan alat untuk mencampur pakan, semprotan, alat kebersihan dan alat untuk analisis di laboratorium. Bahan penyusun ransum penelitian terdiri dari jagung kuning giling, bungkil kedelai, tepung ikan, minyak kelapa, Dicalcium Phosphate, tepung kapur, vetmix poultry, garam dapur dan filler yang berupa pasir halus dan kering. Selain itu menggunakan asam amino sintetis L-Lisin HCL, DL-Methionin, L-Threonin. Dan L/DL Triptophan. Ransum yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 4 macam, yaitu : R1, R2, R3, R4 dan ransum komersial ( L – 18) sebagai ransum pembanding. Sangkar dan perlengkapannya disemprot dengan antiseptik sebelum digunakan, selanjutnya s angkar dan perlengkapan dibersihkan setiap hari. Ayam petelur berjumlah 50 ekor berumur 24 minggu dibagi secara acak menjadi 4 kelompok masing-masing 10 ekor sesuai dengan perlakuan ransum penelitian yaitu R1, R2. R3, R4 dan ransum pembanding yaitu ransum L- 18. Setiap perlakuan terdiri atas 5 ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 2 ekor ayam.
Data yang diambil selama penelitian meliputi: konsumsi pakan, konsumsi protein kasar, produksi telur dan kandungan nitrogen ekskreta. Konsumsi pakan dihitung setiap seminggu sekali dengan cara menimbang jumlah pakan yang diberikan dikurangi jumlahpakan sisa (g/sangkar). Konsumsi protein kasar dihitung dengan cara mengalikan konsumsi (g/ekor) dengan kandungan protein kasar ransum (%), sehingga dapat diketahui jumlah konsumsi protein kasar dalam g/ekor/hari. Produksi telur setiap hari dicatat dengan ketentuan waktu mulai pukul 06.00 sampai dengan pukul 18,00 WIB. Produksi telur (%HDA) dihitung dengan cara menjumlahkan telur selama 28 hari. dibagi (jml hari x jumlah ayam) x 100% merupakan rata-rata produksi telur selama satu siklus. Kemudian direkapitulasi dalam bentuk tabel selama penelitian. Cara penampungan ekskreta adalah sore hari pukul 18.00 WIB. Tempat penampungan ekskreta ayam dialas dengan plastik untuk menampung ekskreta secara total ekskreta. Kemudian keesokan harinya pukul 06.00 WIB pada setiap plastik penampungan dilakukan pemisahan antara ekskreta dan benda-benda selain ekskreta, misal bulu-bulu maupun pakan ayam yang tercampur kedalam ekskreta tersebut.

PENGARUH ASAM GLUTAMAT PADA RANSUM AYAM PETELUR | ok-review | 4.5