PENGANGGURAN DAN PERMASALAHANNYA

By On Wednesday, November 13th, 2013 Categories : Sosiologi

Rendahnya tingkat pertumbuhan pasca krisis ekonomi telah berakibat pada tingginya tingkat pengangguran. Apabila kita melihat pertumbuhan ekonomi tahun 2006 yang tumbuh sebesar 6,1%, maka jumlah pengangguran terbuka sebesar 10,9 juta orang. Pada tahun 2007 perekonomian tumbuh dengan 6,3 persen, jumlah pengangguran terbuka diharapkan turun menjadi 10,0 juta orang. Pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi diharapkan akan tumbuh sebesar 6,8 persen, dan jumlah pengangguran terbuka akan turun dibawah 10 juta orang. Secara keseluruhan dapat dikatakan, bahwa dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar itu ternyata belum mampu menyerap seluruh jumlah angkatan kerja baru yang memasuki jumlah lapangan kerja yang tersedia, di samping itu karena kurang memadainya kompetensi yang dimiliki calon tenaga kerja. Menurut pengamat Indef, bahwa setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan sekitar 300.000 lapangan kerja. Oleh karena itu, untuk menyerap jumlah lapangan kerja dan mengatasi pengangguran, diperlukan pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen per tahunnya. Apabila kita melihat perkembangan pe-ngangguran dari latar belakang pendidikan, terdapat 31 % yang berperifcidikan SD kebawah, 25% berpendidikan SLTP, 36% -berpendidikan SLTA, dan 7% berpendidikan Perguruan Tinggi. Ditinjau dari lokasinya junmlah pengangguran terbesar terdapat di Jawa yaitu sekitar 63,24%, 22,79% di Sumatera, 4,3^% di Kalimantan, 7,69% di Sulawesi, dan 2,7% di Nusa Tenggara. Tingginya jumlah pengangguran di Jawa dan Sumatera (Gambar 2) menggambarkan bahwa kedua pulau tersebut memiliki daya tarik bagi pencari kerja sehingga tejadi migrasi secara besar-besaran dari kepulauan lainnya, padahal peluang kerja di Jawa dan Sumatera juga terbatas. Hal ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tajam di kedua pulau tersebut, yang pada akhirnya melahirkan meningkatnya jumlah pengangguran terbuka. Dilihat dari jumlah dan penyebarannya, nampak bahwa pengangguran merupakan masaiah besar yang penanganannya tidak mudah. Namun demikian, perlu dicari dan terus dikembangkan upaya untuk mencegah dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Dampak langsung yang ditimbulkan oleh masalah penggangguran diantaranya adalah kemiskinan yang akan memicu peningkatan kriminalitas baik kuantitas maupun kualitasnya. Apabila ditelaah secara seksama, paling tidak ada empat penyebab utama terkait dengan masalah pengangguran atau ketenagakerjaan dan kemiskinan di Indonesia saat ini:
1. Ketidaksesuaian antara kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kerja (tamatan, pendidikan formal) dengan tuntutan kompetensi yang diminta oleh pengguna (dunia usaha dan dunia industri baik di dalam maupun di luar negeri). Salah satu upaya untuk mengatasi kesenjangan ini adalah dengan menyediakan program pendidikan dan pelatihan bagi mereka dengan kurikulum yang berorientasi pada dunia kerja (market oriented) untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja (demand driven) yang dapat dilakukan baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal.
2. Ketidakberdayaan angkatan kerja lulusan pendidikan formal karena selain kompetensi yang tidak memadai, juga karena kurang percaya diri, tidak mandiri, kurang inisiatif, tidak memiliki daya saing, dan belum mengetahui secara pasti apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan studi. Untuk itu, perlu dikembangkan program pelatihan yang mampu membentuk manusia yang memiliki kompetensi sesuai permintaan pasar, sekaligus memiliki kepercayaan diri, mandiri, penuh prakarsa dan daya saing, serta mengetahui bidang kerjanya.
3. Jiwa kewirausahaan (Entrepreneurship) dari angkatan kerja Indonesia yang rendah. Lulusan pendidikan formal cenderung lebih menitikberatkan pada upaya menjadi pencari kerja (job seekers) dan bukan pencipta lapangan kerja (job creators). Penyediaan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai dengan dunia kerja belum sepenuhnya menjawab tantangan masalah ketenagakerjaan di Indonesia. Oleh karena itu, kurikulum yang perlu terus dikembangkan adalah memuat materi tentang kewirausahawan.
4. Kemampuan berbahasa asing yang rendah menyebabkan tenaga kerja Indonesia tidak mampu bersaing dalam meraih peluang kerja di luar negeri. Kemampuan berbahasa asing merupakan kelemahan umum dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

PENGANGGURAN DAN PERMASALAHANNYA | ok-review | 4.5