PENDIDIKAN DAN PELUANG LAPANGAN KERJA

By On Wednesday, November 13th, 2013 Categories : Sosiologi

Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi SDM yang tidak kalah pentingnya dengan investasi modal fisik. Di sejumlah negara menunjukkan bahwa pendidikan memberikan sumbangan yang sangat berarti terhadap pertumbuhan ekonomi. Tingkat pendidikan pekerja di Indonesia pada umum-nya sangat rendah. Pada tahun 2004, sebanyak 57,1% dari pekerja hanya berpendidikan di bawah SLTA. Pada jenjang pendidikan tersebut, pekerja belum memiliki cukup keterampilan yang memadai untuk bekerja. Berdasarkan data Sakernas 2004, pekerja dengan keterampilan yang memadai dengan pendidikan tinggi (di atas SLTA) hanya sekitar 12,3% dari 33,6 juta pekerja di sektor formal. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja di Indonesia masih didominasi dengan pekerja tingkat kualitas dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Kemajuan suatu perekonomian biasanya akan diikuti dengan perubahan dalam struktur lapangan kerja. Semakin maju suatu negara, lapangan kerja yang semula didominasi oleh sektor pertanian akan beralih ke sektor manufaktur (pertambangan, industri, listrik dan bangunan), kemudian bergeser ke sektor jasa (perdagangan, angkutan dan komunikasi, keuangan, dan jasa kemasyarakatan). Namun untuk negara berkembang, peralihannya adalah dari sektor pertanian ke sektor jasa, kemudian ke sektor manufaktur. Fenomena yang terjadi di Indonesia adalah para pekerja di sektor jasa (terutama pada sektor informal) jumlahnya meningkat disebabkan banyak tenaga kerja yang tidak terserap pada sektor manufaktur (under-utilized). Hal yang menarik untuk disimak adalah semakin berkembangnya Perguruan Tinggi di daerah kabupaten/kota, khususnya sejak diimplementasikannya otonomi daerah 1 Januari 2001.
Tawaran untuk memasuki Perguruan Tinggi bagi remaja usia sekolah dianggap lebih baik karena menawarkan jasa pelajaran yang cepat dan biaya terjangkau. Implikasinya, lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta meskipun teiah mampu meluluskan sarjana muda, sarjana maupun yang setingkat lebih tinggi, namun lulusannya tidak secara otomatis dapat memenuhi kebutuhan permintaan tenaga kerja. Penyebabnya adalah pekerjaan yang ditawarkan pada umumnya tidak sesuai dengan pendidikan yang ditamatkan oleh pencari kerja, akibatnya adalah semakin tinggi jumlah angka pengangguran terdidik. Pendidikan pada dasarnya merupakan serangkaian kegiatan yang direncanakan dalam upaya mengantarkan peserta didik untuk dapat hidup layak dalam lingkungan masyarakatnya kelak (memperoleh kesempatan untuk berusaha dan atau bekerja), tetapi seringkali pendidikan justru menyebabkan anak didik terasing dari lingkungannya yang cepat berubah dan tak bisa diduga. Hal ini banyak disebabkan oleh kurang tepatnya arah, isi, dan proses penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan. Berbagai penelitian membuktikan bahwa, keberhasilan negara-negara maju dalam pembangunan berbagai bidang lebih banyak ditentukan oleh ketersediaan SDM yang berkualitas dan bukan oleh melimpahnya sumberdaya alam. Apabila ditelaah lebih dalam, ternyata keberhasilan yang diraih oleh negara-negara maju tidak terlepas dari kebijakan pembangunan yang dikembangkannya di bidang pendidikan. Dalam hal ini, negara-negara maju pada umumnya menempatkan pembangunan pendidikan di garis paling depan. Dewasa ini banyak perubahan telah teriadi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Perubahan tersebut sebagai konsekuensi dari perubahan internal berupa kebijakan pemerintah maupun perubahan eksternal yang bersifat global. Perubahan tersebut diantaranya pemberlakuan UU No. 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, PP No. 25 tahun 2000 tentang pembagian kewenangan antara pusat dan daerah, UU. Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan dimulainya era AFTAyang menimbulkan persainga^ftenaga kerja semakin terbuka sebagaimana yang saya singgung sebelumnya. Di samping itu dengan dimulainya implementasi pelaksanaan UUD 1945 tentang keharusan penyediaan anggaran di bidang pendidikan sebesar 20% dari total APBN setiap tahunnya, diharapkan akan membawa perubahan yang mendasar terhdap kualitas SDM secara keseluruhan. Kesemuanya itu menggiring pada terjadinya perubahan paradigma dalam dunia pendidikan yang menuntut penataan secara komprehensif baik pada tataran kebijakan, regulasi, maupun implementasi di lapangan. Pendidikan harus mampu menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk dapat mampu bersaing di era global, memasuki dunia kerja, ataupun menciptakan lapangan kerja yang dapat menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data Sakernas (2004) pekerja berpendidikan tinggi dan menengah di perkotaan memiliki persentase dua kali lipat lebih besar daripada pekerja di pedesaan. Sementara itu, pekerja dengan tingkat pendidikan lebih rendah dari SLTA di perkotaan sebesar 43,6 persen, sebaliknya di perdesaan hampir 80 persen dan hanya 6,4 persen berpendidikan tinggi. Data BPS (2006) patut untuk disimak lebih jauh, yaitu mengenai peta sebaran angkatan kerja di Indonesia, yaitu sekitar 60,4% jumlah angkatan kerja di Indonesia masih terpusat di Jawa, kemudian Sumatera 19,94% dan paling sedikit di Papua sebesar 2,07%. (Gambar 1). Dari data ini menggambarkan bahwa Jawa sampai saat ini masih tetap merupakan pusat pertumbuhan ekonomi, padahal seharusnya melalui Otonomi Daerah sudah seharusnya terjadi shifting pembangunan ke di luar Jawa. Fenomena ini membuktikan bahwa selama 7 tahun setelah Otonomi Daerah diberlakukan, pembangunan belum sepenuhnya berpindah ke daerah, implikasinya adalah dari aspek ketenagakerjaan masih dicirikan oleh sebaran SDM yang handai dalam beberapa aspek, masih terpusat di Jawa. Situasi ketenagakerjaan yang tidak kondusif pada gilirannya akan berpengaruh pada investasi, karena pada umumnya investor akan melihat apakah upah minimum tenaga kerja di Indonesia cukup kompetitif dibandingkan negara lain. Apabila tuntutan upah tinggi sementara kualitas pekerjanya rendah, maka hal itu merupakan preseden buruk bagi dunia usaha dan perkembangan investasi serta pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu dalam menciptakan kondisi pasar tenaga kerja yang seimbang, baik di sektor pertanian, manufaktur dan jasa-jasa, maka kebijakan di bidang pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi dan Balai Latihan perlu diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Keberadaan lembaga-lembaga pelatihan ini harus mempunyai Sertifikat yang diakui baik secara nasional atau internasional. Berkembangnya sektor jasa di perkotaan diperkirakan sebagai alternatif bagi pekerja yang tidak terserap di sektor manufaktur. Dalam beberapa aspek, sektor jasa menjanjikan tingkat upah/gaji/pendapatan yang lebih besar dibandingkan sektor lainnya. Pada tahun 2002 rata-rata upah pekerja di sektor jasa sekitar 2,5 kali dan sektor manufaktur 1,5 kali dibandingkan di sektor pertanian. Dalam kaitan itu maka yang harus men-dapat perhatian penuh sejalan dengan meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, adalah penciptaan lapangan kerja melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil (UMKM). Perlu diciptakan iklim investasi yang kondusif melalui insentif fiskal, kemudahan memperoleh kredit modal kerja, kepastian hukum, keamanan, administrasi yang tidak berbelit, dan pembebasan pungutan liar. Dalam kondisi yang demikian, maka melalui sistem pendidikan dan pelatihan, perlu kiranya dilakukan pendekatan baru melalui metode pelatihan berdasarkan Competency Based Training. Dalam hal ini mahasiswa sesuai dengan bakatnya perlu mendapat bekal keahlian di bidang usaha sehingga kelak mereka dapat memilih menjadi seorang enterpreunership yang handal. Setiap individu perlu menguasai dan keterampilan fungsional praktis yang merupakan bekal dasar baginya menjadi seorang yang berdiri paling depan atau as a leader dan bukan sebagai seorang follower, baik menjadi seorang wirausaha yang berwawasan dan handal, mengolola industri tepat guna sesuai dengan potensi yang terkait dengan lingkungannya, atau pekerja profesional. Selain itu, orientasi pasar tenaga kerja lokal perlu dikembangkan ke arah pasar dunia dengan mencari akses baru ke negara-negara maju dengan menawarkan tenaga yang lebih terdidik dan profesional. Perubahan orientasi dari pasar lokal menuju pasar internasional akan menyelamatkan pengangguran tenaga kerja terdidik yang diperkirakan akan meningkat jumlahnya di masa mendatang.

PENDIDIKAN DAN PELUANG LAPANGAN KERJA | ok-review | 4.5