PEMROSESAN SKEMATIS

By On Tuesday, November 26th, 2013 Categories : Antropologi

Keuntungan Yang Diperoleh. Skema itu penting karena membantu kita mfmroses sejumlah besar informasi secara cepat dan ekonomik. Tentu saja skema membuat pemrosesan berjalan lebih efisien dalam berbagai cara. Ia membantu kita menginterpretasikan informasi.baru, menarik kesimpulan yang tegas melalui penggunaannya, dan mengevaluasikan apakah kita setuju atau tidak. Ia membantu kita menghadapi masa depan dengan menyusun harapan kita tentang apa yang mungkin akan terjadi. Keuntungan-keuntungan pemrosesan skematik ini sudah diperagakan melalui berbagai telaah yang luas. Skema dapat membantu ingatan. Ingatan seringkah bekerja paling baik jika kita dapat mengulang beberapa wakil skematik kejadian atau orang dari masa lalu, karena skema dapat membawa banyak rincian bersamanya. Sebagai contoh, Cohen (1981) memberikan sebuah pita video tentang seorang suami isteri kepada para subjek. Sebagian dari subjek diberitahu bahwa wanita itu ahli perpustakaan, dan sebagian lagi bahwa dia pelayan restoran. Beberapa bagian menonjol dari wanita tersebut cocok dengan skema ahli perpustakaan (yang diukur secara- terpisah), seperti mengenakan kacamata, makan slada, minum anggur, dan memainkan piano. Lainnya cocok dengan skema pelayan restoran, seperti memiliki bola boling di kamarnya dan tidak mempunyai rak buku, makan kue ulang tahun dari coklat. Kemudian para subjek diminta mengingat rincian pita video. Mereka lebih ingat kepada rincian yang konsisten dengan skema, biarpun mengulang ingatan itu segera dilakukan ataupun satu minggu kemudian. Selain itu, seperti telah ditunjukkan terlebih dahulu, pemrosesan skematik dapat dilakukan hanya melalui usaha membentuk kesan atas orang lam. Hamilton (9181) menemukan bahwa subjek yang diminta untuk membentuk kesan atas pemberi stimulus, sehingga oleh karenanya, menjalankan “rangkaian-kesan,” lebih banyak ingat pada informasi mengenai pemberi stimulus tersebut daripada subjek yang diminta untuk mengingat sebanyak yang mereka bisa. Dapat diduga bahwa rangkaian-kesan itu telah merangsang para pengamat untuk menggunakan berbagai “skema yang sesuai dengan seseorang” guna membantu mereka menyusun dan mengingat bahannya secara lebih baik. Tetapi, materi yang tidak konsisten dengan skema tidak selalu diingat secara buruk. Kadang-kadang diingat lebih banyak dibandingkan hal-hal yang tidak sesuai dengan skema. Hal ini mungkin disebabkan karena sukar sekali mempelajari materi yang tidak benar-benar cocok dengan skema. Kecepatan pemrosesan seringkali ditingkat-1977) mempertentangkan para subjek dengan skema-pribadi-sendiri sebagai orang yang bebas atau yang terikat, dengan subjek yang tidak mempunyai skema sama sekali. Dia kemudian membacakan kalimat-kalimat kepada mereka tentang perilaku bebas dan perilaku terikat tertentu. Orang yang memiliki skema dapat menunjukkan lebih cepat daripada mereka yang tidak mempunyainya tentang apakah perilaku itu khusus mengenai diri mereka atau tidak. Telaah Brewer et al. (1981) tentang reaksi terhadap potret wanita tua dan muda yang sudah diuraikan sebelumnya itu, memberikan hasil yang serupa: Waktu typnjrosesan berlangsung lebih lama bagi yang consisten-dengan-skema daripada yang informasinya konsisten. Tetapi tidak semua riset menemukan bahwa skema mempercepat pemrosesan. Dalam beberapa kasus, mengulang ingatan skema akan memperlambat kelancaran karena diperkenalkannya informasi yang jauh lebih rumit. Mengingat kembali jauh lebih besar gunanya bagi pernyataan yang jelas konsisten atau jelas tidak konsisten dengan prototip yang diberikan kepada para subjek. Jika pernyataan itu tidak cocok atau melanggar prototip tersebut, semakin sulitlah mengingat. Skema dapat membantu kita mengisi informasi yang; tercecer seandainya terdapat kesenjangan di dalam pengetahuan kita. Kalau kita membaca kartu identitas seorang polisi tetapi tidak ada keterangan mengenai pakaiannya, maka kita membayangkan dirinya mengenakan seragam berwarna coklat. Kita membayangkan perawat sebagai pribadi yang hangat dan penuh perhatian, dan seorang ratu agak menjaga jarak dan angkuh. Informasi yang tercecer digantikan rincian yang konsisten dengan skema, meskipun kita harus mengarangnya. Skema juga membantu kitajne; nginterpretasikan informasi baru. Misalnya, jika seorang dokter anak mendiagnosis pasien penderita gondongan, itu akan memungkinkannya membuat serangkaian kesimpulan lain dengan penuh keyakinan, yakni: bagaimana penderita tersebut tertular penyakit itu, gejala-gejala apa yang ada, berapa lama masa jangkitnya, apa pengobatan yang terbaik untuknya, dan sebagainya. Bagi seorang yang tidak mempunyai skema mengenai penyakit gondongan, semuanya tidak mungkin dilakukan. Masalahnya akan nampak penuh rahasia. Skema memungkinkan didapatnya kesimpulan yang meyakinkan tentang hal-hal yang sebenarnya kurang jelas. Skema juga memberikan harapan normatif mengenai apa yang akan terjadi. Sebaliknya, pengharapan itu dapat menentukan apakah suatu situasi menyenangkan atau tidak menurut kita. Andaikan seorang pelajar Inggris yang memiliki nilai bagus mengajukan permintaan untuk masuk sekolah kedokteran tetapi ditolak dan digantikan seorang pelajar Spanyol yang nilainya lebih buruk, maka hal ini akan melanggar apa yang diharapkan pelajar Inggris tersebut dan pantas jika membuatnya marah. Hal itu juga berlaku bagi orang kulit hitam yang telah bekeija keras supaya dapat menjadi terpelajar tetapi tetap sulit mendapat pekerjaan yang sesuai dengan tingkat kemahirannya. Perasaan terhalang pengharapan relatif seseorang itu dicatat sebagai salah satu penyebab timbulnya kerusuhan di daerah kumuh dan bentuk pemberontakan sosial lainnya. Beberapa Kendala. Semua keuntungan pemrosesan skematik ini juga mempunyai kerugian sebagai akibatnya. Kecenderungan menerima informasi baru hanya jika ia sesuai dengan skema untuk mengisi kesenjangan pikiran dengan menambahkan unsur-unsur yang konsisten dengan skema, untuk menerapkan skema meskipun ia tidak begitu cocok, dan tidak bersedia mengubah skema, semuanya ini dapat menjadi kendala. Kita dengan mudah disesatkan penyederhanaan yang berlebih-lebihan. Penyusunan cenderung membuat kita buta terhadap ketidakkonsistenan; penyederhanaan dengan mudah menyeret kita ke masalah penyederhanaan yang berlebih-lebihan; dan abstraksi dapat menjauhkan kita dari realitas konkret. Banyak sekali contoh di lingkungan sekitar kita mengenai bahaya pembuatan stereotip sehingga hampir tidak perlu membicarakannya secara panjang lebar. Setiap orang tahu bahwa orang sering berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan stereotip yang umumnya dianut oleh kelompok mereka, sehingga karenanya pemrosesan skematik dapat menjuruskan pengamat kepada kesimpulan yang salah mengenai anggota individual kelompok tersebut. Teori kepribadian implisit dapat juga menjurus ke kesalahan, karena terdapat kecenderungan kuat pada orang untuk mengambil kesimpulan dari hadirnya satu ciri yang dianggap mewakili ciri lainnya. Jika orang tahu bahwa seseorang itu cerdas, maka mereka berharap bahwa orang itu juga imajinatif, pandai, aktif, teliti, penuh pertimbangan, dan bertanggung jawab. Jika orang tahu bahwa seseorang tidak bersikap hati-hati, orang juga berharap bahwa dia bersifat menjengkelkan, suka membual, dingin, senang mengritik, dan seterusnya. Kesimpulan-kesimpulan itu tidak logis berasal dari ciri yang diberikan; melainkan didasarkan asumsi mengenai kepribadian. Inteleginsia tidak harus berarti aktivitas, begitu pula sifat teledor tidak harus berarti menjengkelkan. Kecenderungan membuat asumsi ini adakalanya disebut kekeiiruan logika, karena orang melihat ciri tertentu selalu berada bersama dan menyimpulkan bahwa seseorang yang memiliki, salah satu ciri juga memiliki ciri lainnya. Contoh-contoh yang diberikan sebelumnya tentang “belajar dari masa lalu” menggambarkan beberapa kekurangan dari pemrosesan skematik. Penerapan “pelalajaran dari Munich” mungkin kurang pantas di negara-negara Dunia Ketiga semacam Lebanon, El Salvador, dan Vietnam, di mana perang disebabkan konflik kelas, agama, dan kesukuan yang sudah usang, serta nasionalisme anti kolonial. “Pelajaran dari Munich” ini adalah bahwa para diktator akan selalu berusaha
memperluas wilayah mereka, sehingga negara- negara merdeka harus melawannya dan menentang setiap ekspansi. Teori ini pada awal tahun 1960-an berubah menjadi “teori domino” yang serupa mengenai ekspansi kaum komunis, yang menyatakan bahwa komunisme melebarkan sayapnya ke seluruh dunia, dan setiap kali sebuah negara jatuh ke tangan komunis, negara tetangganya terancam bahaya. Menurut teori ini, adalah berbahaya bagi kita untuk membiarkan sebuah negara jatuh di bawah dominasi komunis. Ketika konflik Vietnam semakin berlarut-larut, semakin jelaslah bahwa peperangan yang terjadi di sana bukan merupakan konflik murni antara dunia bebas dengan ekspansi kaum komunis. Ia juga melibatkan keinginan orang-orang Vietnam sejak dulu agar bebas dari dominasi bangsa asing, baik Cina, Perancis, ataupun Amerika Serikat. Dan di dalamnya terlibat permusuhan terhadap rejim politik yang korup yang sudah dijadikan sekutu oleh Amerika Serikat di Vietnam Selatan. Dalam konflik berikut, “pelajaran Munich” juga telah mencegah pembuat kebijaksanaan politik luar negeri melihat dengan jelas kekuatan pertentangan agama di Lebanon yang sudah bertahun-tahun, yang membuat konflik Rusia-Amerika hampir serupa dengan kekerasan pada perang saudara antara orang-orang Libanon. Di Amerika Tengah, “pelajaran Munich” telah membutakan banyak orang Amerika terhadap ketidakadilan dan korupsi di sana, yang mengakibatkan timbulnya gerakan revolusioner yang kuat di antara penduduknya. Apakah pihak Rusia atau Amerika terlibat di dalamnya atau tidak, namun revolusi tersebut banyak mendapat dukungan penduduk setempat. Demikianlah, pemrosesan skematik menguntungkan di bidang kecepatan dan efisiensinya untuk membuat berbagai kejadian dapat dipahami dan dapat diprediksi. Kerugiannya ialah bahwa ia dapat menjerumus ke interpretasi yang keliru, prediksi yang tidak akurat, dan cara respons yang kurang luwes. Bahkan perlawanan terhadap ketidakpastian ini kadang-kadang mencegah terjadinya’ perubahan yang tidak rasional dan merusak. Jika Anda mempunyai skema kuat tentang kemampuan penangkap bola pujaan Anda dan tentang peranan variasi kesempatan dalam baseball, Anda pasti tidak akan menghukumnya karena dia kalah dalam tiga pertandingan pertama di musim panas. Dan jika skema hubungan akrab Anda mengalami percekcokan sekali waktu, maka hubungan dengan pacar Anda tidak akan putus hanya karena selama dua malam berturut-turut Anda telah bertengkar dengannya. 1. Pendekatan pemahaman sosial tentang persepsi sosial menguraikan bagaimana orang membentuk kesan yang terpadu dan berarti sehingga menggabungkan pengetahuannya mengenai pemberi stimulus tersebut. 2. Perhatian kita sangat tersita stimulus yang menonjol, seperti warna menyolok, bergerak, baru, atau istimewa. Berbagai stimulus yang menonjol mempunyai pengaruh yang tidak proporsional terhadap kesan kita, dan dapat mengalihkan diri kita dari informasi yang lebih benar. 3. Kita cenderung secara otomatik mengkategorikan orang dan ciri-cirinya. Kategori itu biasanya memantulkan persamaan penampilan alamiahnya.’ 4. Kategorisasi mempermudah pemrosesan pengalaman sosial yang rumit tetapi juga dapat menjurus kepada persepsi yang terlampau disederhanakan, semacam pembuatan stereotip kelompok. 5. Struktur kognitif yang dinamakan skema membantu kita menyusun informasi mengenai dunia sosial. Skema membuat pemrosesan informasi lebih cepat dan efisien, membantu ingatan, mengisi informasi yang tercecer, dan melengkapi harapan normatif. Walau demikian, kadang-kadang mereka memberi kesalahan informasi atau membuat kita menolak bukti yang benar tetapi tidak konsisten. Adakalanya mereka menghasilkan kesan yang berprasangka.

PEMROSESAN SKEMATIS | ok-review | 4.5