MEREDAM EMOSI MENURUT JAMES

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Psikologi

Karena itu bidang riset emosi telah bergeser, dari yang semula didominasi oleh para psikolog dan ahli fisiologi menjadi sebuah bidang multidisipliner di mana para sosiolog dan antropolog ikut terlibat di dalamnya. William James menulis bahwa deskripsi verbal karya-karya klasik tentang emosi manusia serba tidak beraturan sehingga menyerupai “batu-batuan di sebuah lahan pertanian di New Hampshire”, tanpa “titik sentral pandangan dan prinsip deduktif atau generatif yang jelas Seratus tahun kemudian setelah munculnya esai terkenal -James (188) yang berjudul Mind, kita masih memperdebatkan masalah yang dikemukakannya. khususnya tentang peran perubahan-perubahan psikologis dalam emosi, serta komponen-komponen utama yang menentukan emosi manusia. Sejak James, sejumlah teonsi iain telah mencoba merumuskan teori-teori tentang pikiran dan perasaan, namun belum ada konsensus mengenainya. Keragaman pandangan itu antara lain disebabkan oleh tumbuhnya minat mempelajari pikiran dan perasaan manusia dari para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dalam waktu yang kurang lebih bersamaan sejak dua dasawarsa lalu. Setiap ilmuwan membawa perspektif disiplin ilmunya sendiri, sehingga keragaman pendapat yang terhin-darkan. Hal-hal yang tercakup dalam teori modern tentang emosi hampir sama dengan yang muncul dalam teori James. Ada tiga hal yang ramai diperdebatkan. Pertama tentang peranan perubahan-perubahan psikologis terhadap emosi. Pendapat James, yang kemudian dikena; sebagai teori periferal tentang emosi, menyatakan bahwa persepsi atas suatu rangsangan memicu perubahan-perubahan pada organ periferal seperti viscera (jantung, paru-paru. isi perut, dan sebagainya) dan otot-otot otonom sehingga emosi pada dasarnya adalah persepsi terhadap perubahan-perubahan fisik tersebut.
James memberi contoh kita sering gemetar kalau kita takut. Namun kita gemetar bukan karena kita takut. Sebaliknya kita takut karena kita gemetar. Jadi, selalu ada gejala fisiologis yang mengiringi emosi. Cannon (1927) mengkritik pendapat James itu dengan mengatakan bahwa emosi dan perubahan fisik tidak sejalan. Secara umum, rumusan Cannon itu sendiri diliputi kelemahan, namun hal itu penting karena menyuburkan minat untuk mempelajari emosi, termasuk dengan metode eksperimental (Laird dan Bresler 1992; Strack, Martin dan Stepper. 1988) yang berhasil mengungkap kaitan antara ekspresi raut wajah dengan emosi. Namun bukti-bukti keterkaitan itu sendiri ternyata belum memadai sehingga rumusan yang dikemukakan James masih sulit diterima oleh para periset modern. Esensi kritik Cannon adalah, perubahan-perubahan fisiologis terlalu acak untuk dijadikan parameter emosi. Pendapat ini mendorong para peneliti untuk melepaskan fokus pada kaitan antara emosi dan perubahan fisik, dan selanjutnya beranjak ke peran yang dimainkan oleh faktor-faktor kognitif seperti penafsiran individu terhadap apa yang terjadi di dalam dan di luar dirinya. Ada beberapa teori yang memberi perhatian besar pada faktor-faktor kognitif ini. Pertanyaan tentang peran sesungguhnya yang dimainkan oleh kognisi dalam emosi merupakan masalah utama kedua dalam teori dan riset mutakhir tentang emosi. Salah satu teori yang terbilang klasik adalah teori dua-faktor yang dirumuskan oleh Schachter (1964). Pada intinya, Schachter berpendapat bahwa kesadaran atas perubahan fisik semata tidak cukup untuk menimbulkan respon emosi. Diperlukan kondisi lain untuk menciptakan pembangkitan emosi (arousal% dan kognisi adalah faktor yang menentukan ada-tidaknya pembangkitan emosi tersebut. Karena itu, perubahan fisiologis yang sama bisa mengiringi emosi yang berlainan, tergantung pada faktor-faktor kognisinya. Orang takut biasanya gemetar, namun orang gemetar belum tentu takut karena perasaan gembira yang meluap-luap juga bisa membuat seseorang gemetar. Tetapi meskipun teori ini lugas dan menarik, bukti-buktinya kurang menunjang (Manstead dan Wagner 1981). Teori kognitif lainnya yang lebih kompleks antara lain diajukan oleh Lazarus dan rekan-rekannya serta ilmuwan lainnya. Mereka sepakat bahwa emosi harus dipandang sebagai proses sementara untuk memberi waktu bagi berfungsinya kognisi. Dalam menilai sesuatu, seseorang biasanya dihinggapi oleh emosi tertentu, sehingga jenis emosi bisa dikaitkan dengan penilaian terhadap situasi. Misalnya, emosi berupa amarah akan muncul jika seseorang menilai sesuatu itu buruk atau merugikannya. Rasa cemas akan muncul jika orang tersebut tidak tahu pasti apa yang dihadapinya. Konsensus ini sejak 1990-an berkembang ke soal peran penilaian sebagai salah satu sumber emosi. Namun studi-studi empiris belakangan ini menunjukkan hal sebaliknya: penilaian bukan penyebab emosi, melainkan justru merupakan akibatnya. Hal penting berikutnya dalam riset emosi dewasa ini terarah pada aspek-aspek sosial dan kultural dari emosi. Salah satu persoalan yang banyak dibahas adalah apakah emosi itu bersifat universal, ataukah terikat pada kebudayaan. Sebagian ilmuwan berpendapat emosi bersifat universal, dan semua orang, terlepas dari kebudayaan spesifiknya, punya emosi-emosi yang sama (rasa takut, amarah, rasa gembira, sedih, malu) dan ekspresinya pun serupa. Buktinya dikumpulkan dari studi tentang raut wajah. Orang-orang dari berbagai kebudayaan menunjukkan raut muka serupa ketika mereka mengalami emosi yang sama. Namun keterbatasan teoretis dan metodologis membuat teori ini kurang meyakinkan. Sementara itu sejumlah ilmuwan menegaskan bahwa emosi adalah suatu konstruksi sosial, dan karenanya, terkait dengan konteks kebudayaan. Harre, misalnya, mencoba mempelajari kosakata emosi dalam berbagai bahasa, dan di situ ia menemukan perbedaan-perbedaan istilah untuk merujuk pada perasaan yang sama. Namun pengamat lain tidak menerima hal itu sebagai bukti bahwa emosi punya konteks kebudayaan. Serangkaian riset yang kebanyakan dilakukan oleh para antropolog budaya dan sosiolog menunjukkan bahwa kebudayaan memang berperan, sekurang-kurangnya dalam mensosialisasikan emosi kita melalui seperangkat batasan/aturan emosi, keyakinan-keyakinan tentang emosi, ritual emosi, dan sebagainya. Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan di atas nampaknya terletak di tengah-tengah kedua pendapat tersebut. Ada aspek-aspek tertentu dari emosi yang bersifat universal, namun ada pula aspek-aspek lainnya yang terkait dengan kebudayaan secara spesifik. Mana yang lebih menonjol tergantung pada tingkat analisis dan aspek-aspek emosi yang diutamakan dalam riset.

MEREDAM EMOSI MENURUT JAMES | ok-review | 4.5