MENGENAL THOMAS ALVA EDISON, (1847-1931)

By On Tuesday, February 25th, 2014 Categories : Teknologi

Penemu jenius di bidang teknologi asal Amerika Serikat, yang telah mematenkan lebih dari seribu temuannya, antara lain lampu pijar listrik, fo­nograf, dan proyektor film.
Selain itu, ia juga menciptakan laboratorium riset in­dustri yang pertama di du­nia. Walaupun mengenyam pendidikan formal hanya selama tiga bulan, berbagai temuannya mengubah si­kap dan cara hidup ma­nusia.
Ketika baru menginjak usia 10 tahun, Edison men­jadikan ruang bawah ru­mah ayahnya sebagai se­buah laboratorium. Walau­pun jenius, Edison selalu mengatakan bahwa segala yang telah dihasilkannya terutama karena kerja ke­ras. Ia memang membukti­kannya. Ia tahan bekerja berhari-hari dan hanya ber­henti sejenak bila ia me­mang merasa perlu beristirahat. Ia mencoba apa sa­ja, mulai dari obat-obatan sampai alat listrik. Dalam percobaan yang dilakukannya, Edison tidak meman­faatkan matematika atau ilmu pengetahuan lainnya untuk menyingkat waktu penemuannya. Ia tidak ber­putus asa bila gagal. Ia menganggap kegagalan juga sebagai penemuan, yakni penemuan yang tidak da­pat dimanfaatkan. Edison terus mencari jalan untuk memperbaiki penemuannya sendiri maupun penemuan orang lain. Dengan demikian, ia selalu melahirkan pe­nemuan yang lebih baik daripada sebelumnya.
Rasa ingin tahu tentang penyebab terjadinya se­suatu merupakan sifatnya yang menonjol sejak kecil. Karena terlalu banyak bertanya, ia dianggap dungu oleh gurunya. Oleh sebab itu, Edison diajar sendiri oleh ibunya yang juga seorang guru. Ketika umurnya baru sembilan tahun, Edison tidak mau menerima be­gitu saja pelajaran kimia yang diperolehnya dari se­buah buku karya seorang guru kimia terkenal saat itu. Ia mencoba sendiri semua eksperimen satu demi sa­tu. Pada umur 12 tahun, ia mulai mencari nafkah de­raan menjual koran dan makanan kecil di atas kereta api. Ia bahkan mencetak sendiri koran Weekly He­rald, dan memanfaatkan waktu senggangnya untuk membuat eksperimen kimia di gerbong barang. Ke­mampuannya mengirim telegram dengan kawat diper­oleh dari seorang kepala stasiun. Edison pun men­dapat pekerjaan sebagai operator. Pekerjaannya yang baru ini juga mengundang minat eksperimentalnya un­tuk mengembangkan alat pengirim telegram yang le­bih praktis dan lebih baik. Beberapa penemuannya di idang ini kemudian dibeli oleh sebuah perusahaan telegraf. Dengan uang yang diperolehnya, Edison membangun bengkel sendiri di Newark, Amerika Se­rikat, dan mulai memproduksi penemuannya.
Tahun 1876, Edison pindah ke Menlo Park, Ame­rika Serikat. Pada tahun ini juga ia berhasil memper­baiki alat telepon dengan menambahkan karbon trans­miter ciptaannya sendiri. Sebelumnya, kedua penele­pon harus berbicara keras-keras supaya dapat saling mendengar. Tahun 1877 ia menemukan sesuatu yang benar-benar baru dan orisinal, yakni piringan hitam atau fonograf.
Penemuan cahaya listrik Edison sebenarnya tidak orisinal. Tahun 1867, ahli listrik Rusia, Paul Jablochkov, berhasil membuat penerangan listrik jalanan de­ngan apa yang disebut lampu lengkung. Yang menja­di keinginan Edison adalah penerangan lebih kecil yang dapat dipasang di rumah-rumah dan kantor. Lalu ia pun membuat bola lampu. Setelah gagal be­berapa kali, Edison akhirnya menemukan filamen te­pat yang memungkinkan bola lampu bernyala terus-menerus dengan arus listrik. Penemuannya ini dike­nal sebagai lampu pijar.
Edison menerima banyak penghargaan. Tempat ke­lahiran dan rumahnya dipugar; laboratoriumnya di Menlo Park diboyong seutuhnya menjadi bagian dari museum raksasa Greenfield Village di Dearborn, Mi­chigan, Amerika Serikat; sedangkan laboratoriumnya di West Orange dijadikan monumen nasional. Bagi rakyat Amerika Serikat, Edison merupakan contoh dan lambang keberhasilan melalui kerja keras. Ke­tubannya yang semakin menjadi tidak menghalangi­nya untuk tetap berkarya sampai ia meninggal dunia pada umur 84 tahun.

MENGENAL THOMAS ALVA EDISON, (1847-1931) | ok-review | 4.5