MENGENAL TAMAN MAKAM PAHLAWAN NASIONAL KALIBATA

By On Monday, April 7th, 2014 Categories : Antropologi, Budaya

MENGENAL TAMAN MAKAM PAHLAWAN NASIONAL KALIBATA – Tempat pemakaman para pejuang dan pahla­wan Indonesia untuk ukuran nasional. Sebenarnya, secara keseluruhan, Indonesia memiliki 27 taman ma­kam pahlawan yang tersebar di setiap propinsi. Pengelolaannya dilakukan Departemen Sosial RI ber­dasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 13/1984. Tetapi, di antara kedua puluh tujuh taman makam pahlawan itu, hanya Kalibata satu-satunya ta­man makam pahlawan yang bertaraf nasional. Yang lainnya hanya untuk tingkat daerah.
Semula, taman makam pahlawan untuk daerah ibu kota Jakarta terletak di kawasan Ancol, dan dikelola Dinas Pemeliharaan Pemakaman Tentara Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya (KMKB-DR). Te­tapi karena dianggap sudah tidak memenuhi syarat, taman makam pahlawan itu dipindahkan ke daerah Kalibata, Pasar Minggu, di atas tanah seluas 5 hektar yang ketika itu masih merupakan hutan karet dan sta­tus pemilikannya dipegang Pabrik Sepatu Bata. Pe­mindahan ini dilakukan berdasarkan ketetapan Presiden Sukarno. Realisasi pembangunannya dise­rahkan kepada Zeni Angkatan Darat. F. Silaban ditun­juk sebagai arsiteknya.
Proses pembangunan Taman Makam Pahlawan Kalibata berlangsung setahun, sejak tanggal 6 Juli 1953. Pemborong yang bertanggung jawab atas pem­bangunan itu Biro AIA dan Dinas Bangunan Tentara Subterritorium (DBT Subter) III. Peresmiannya dila­kukan oleh Presiden Sukarno, tepat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1954. Pada saat peres­mian itu, petak A sudah terisi 121 makam pahlawan dan pejuang yang hampir seluruhnya merupakan pin­dahan dari Taman Makam Pahlawan Ancol.
Taman Makam Pahlawan Kalibata terdiri atas dua bagian, yaitu bagian yang terletak di kanan dan di kiri pintu gerbang. Yang di kanan pintu gerbang terdiri atas petak A, E, K, L, M, N, O, P, dan Q; sedangkan yang di kiri petak B, C, D, F, G, H, I, dan J. Perkembangan selanjutnya akan mengarah ke sebelah kanan pintu gerbang dan ditandai dengan abjad.
Kerangka pertama, pindahan dari Taman Makam Pahlawan Ancol, yang dimakamkan di Kalibata ada­lh kerangka Mochamad Dachlan Halim, putra Abdul Halim, yang lahir tanggal 31 Maret 1926 di Jakarta. Jabatan terakhir D. Halim adalah Komandan Staf/Cie/Wakil Komandan Batalyon 314, Brigade “D” Divisi Siliwangi di Cikampek, Jawa Barat. Pang­katnya kapten. Ia pernah bertugas di daerah Purwa­karta, Jawa Barat, dalam usaha menanggulangi pemberontakan DI/TII. Ia gugur tertembak peluru pemberontak yang melakukan penyergapan menda­dak ketika sedang berpatroli di Rancadarah.
Pemakaman jenazah pertama kali berlangsung tanggal 5 November 1954, bertempat di petak A. 106. Yang dimakamkan adalah jenazah H. Agus Salim yang lahir tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Sumatra. Ia meninggal dalam usia 70 tahun karena sa­kit. Semasa hidup, H.Agus Salim pejuang yang gigih membela bangsa Indonesia, baik melalui bidang poli­tik, agama, maupun pendidikan.
Ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 27 Desember 1961, berdasar­kan keputusan presiden RI No. 657/1961.
Pembangunan Lanjutan.
Sejak pertama kali diba­ngun hingga tahun 1989, Taman Makam Pahlawan Kalibata telah mengalami tiga tahap pembangunan lanjutan. Pembangunan tahap pertama selesai tahun 1974, kedua tahun 1975, dan ketiga tahun 1976. Ala­san dilakukannya pembangunan lanjutan ini karena ditinjau dari segi luas maupun kelengkapannya, Ta­man Makam Pahlawan Kalibata belum memenuhi syarat sebagai taman makam pahlawan bertaraf nasio­nal. Karena itu, dengan restu Presiden Suharto, taman makam pahlawan itu diperluas menjadi 25 hektar.
Untuk melaksanakan pembangunan lanjutan tahap pertama, berdasarkan SK Menteri Sosial No. K.04/VIII/MS/Kep/1973, dibentuk panitia antarde- partemen yang melibatkan, antara lain, Departemen Hankam, Kasgar Ibu Kota, dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Tugas panitia tersebut menyiapkan rancangan induk Taman Makam Pahlawan Kalibata dan tugu pahlawan nasional. Suatu sayembara umum mengenai pembuatan desain dan maket taman makam pahlawan nasional diadakan oleh panitia, dan kemu­dian dimenangkan oleh Tim Atelier 6, yang sekaligus ditunjuk sebagai perencana pembangunannya. Pelak­sana pembangunannya PT Silga.
Pembangunan lanjutan tahap pertama selesai pada tahun 1974 dan diresmikan pada peringatan hari- pahlawan 10 November 1974. Bersamaan dengan peringatan itu, dilangsungkan upacara pemakaman kembali kerangka pahlawan tidak dikenal yang gu­gur dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Kerangka-kerangka itu ditempatkan pada Tombe pah­lawan Tak Dikenal di monumen Pahlawan Nasional Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Pembangunan lanjutan tahap kedua dilaksanakan mulai tahun 1975. Pemborongnya PN Pembangunan Perumahan. Pada tahap ini dilakukan pembangunan plaza dan kelengkapannya, penyempurnaan jalan ma­suk, penerangan monumen dan sistem suara, penem­patan lambang Garuda Bhineka Tunggal Ika pada monumen, dan pembuatan tembok abadi dari marmer yang bertuliskan nama para pahlawan dan pejuang yang dimakamkan. Penempatan lambang Garuda pa­da monumen dan penyempurnaan Tembok Abadi di­lakukan oleh Departemen Seni Rupa ITB.
Pembangunan lanjutan tahap ketiga dilaksanakan pada tahun 1976, berdasarkan keputusan Presiden RI No. 19/1976. Penanggung jawab pelaksanaannya Gubenur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, diban­tu sebuah tim yang melibatkanj- Pemda DKI, Departemen Hankam, Departemen Sosial, Departe­men PUTL, dan Sekretariat Negara. Menteri Hankam, Menteri Sosial, dan Sekretaris Negara, bersama-sama bertindak sebagai pengawas pembangunan. Mereka bertugas mengawasi pelaksanaan, dan kalau perlu memberikan petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan. Se­mua tim, baik tim pelaksana, pembantu pelaksana, maupaun pengawas, bertanggung jawab langsung ter­hadap presiden. Pembiayaan pembangunan Taman Makam Pahlawan Kalibata ini diambil dari anggaran pemerintah.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 13/1984, ditetapkan bahwa Taman Makam Pahlawan Kalibata adalah Taman Makam Pahlawan Pengelolaannya dipercayakan kepada Departemen Sosial RI, sedangkan pelaksanaan upacara yang menggunakan tata upacara militer dikoordinasikan oleh Komando Garnisun Ibu Kota.
Letak Geografis dan Komponen.
TMPN Kalibata terletak di Kelurahan Kalibata, Kecamatan Mampang Prapatan, Wilayah Jakarta Selatan. Luasnya 25 hek­tar, dengan panjang 680 meter dan lebar 368 meter. Di utara, taman makam pahlawan ini berbatasan dengan Jalan Pahlawan (yang membatasi kampung Duren Ti­ga); di timur dengan pabrik sepatu Bata; di selatan de­ngan Jalan Kalibata Timur; dan di barat dengan Jalan Raya Pasar Minggu.
Komponen-komponen penting di taman makam pahlawan nasional ini yang mengandung arti simbo­lik, antara lain, pintu gerbang, monumen, ruang per­semayaman, tembok abadi, dan petak makam.
Pintu Gerbang TMPN Kalibata terbuat dari beton berlapis batu cadas. Panjangnya 12 meter dan lebar­nya 6 meter.
Plaza berfungsi sebagai tempat upacara. Jalan me­nuju tempat ini melalui 17 anak tangga penghantar de­ngan susunan bertahap. Angka tujuh belas diambil dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI.
Monumen merupakan titik pusat dari keseluruhan TMPN Kalibata. Monumen ini terdiri atas beberapa unsur, yaitu tunas, api abadi, tombe pahlawan tak di­kenal, dan lambang negara. Tunas terdiri atas lima tu­gu yang melambangkan perjuangan yang berko­bar-kobar; tombe pahlawan tak dikenal, mewakili pa­ra pahlawan tak dikenal yang telah gugur, merupakan manifestasi rasa hormat dan kenangan terhadap selu­ruh pahlawan; sedangkan lambang negara, Bhineka Tunggal Ika, menunjukkan pemersatu serta penegak kedaulatan dan keutuhan perjuangan bangsa dalam menegakkan kesatuan.
Ruang Persemayaman, berupa bangunan yang ter­letak di sebelah kanan pintu gerbang, dipergunakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum dikebumikan. Tujuannya untuk membuka kesempatan kepada handai taulan dan keluarganya memberikan penghor­matan terakhir. Bangunan ini berukuran 33 x 10 me­ter, dengan teras berukuran 20 x 4 meter.
Tembok Abadi terletak di sebelah kanan ruang per­semayaman. Tembok ini berukuran 39,6 x 3,6 meter, terbuat dari marmer. Di dinding ini terukir nama para pejuang dan pahlawan yang dimakamkan di sana.
Petak Makam terletak di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang. Di sebelah kiri terdapat 8 petak, dan di kanan 9 petak. Petak makam di kanan ini masih akan terus bertambah. Di petak sebelah kanan ini, tepatnya di pelak B. 18, terdapat makam pejuang paling muda, Bernhard Runtunuwu. Ia lahir pada tanggal 13 No­vember 1932 di Aceh. Pejuang ini sudah mencapai pangkat sersan mayor sebelum genap berusia 15 ta­hun. Ia gugur di front Kranji-Bekasi pada tanggal 13 Februari 1946 ketika sedang bertugas menggempur dan menyelidik tentara Sekutu/Belanda.
Komponen lain yang melengkapi TMPN Kalibata adalah Pertamanan. Pertamanan ini meliputi dua pe­tak taman melati seluas 2.376 meter persegi dan 1.498 meter persegi; taman air mancur yang terletak di sebe­lah kanan monumen, terdiri atas tiga bagian, masing- masing berukuran 949 meter persegi; taman bendera, seluas 750 meter persegi, terletak di depan pintu ger­bang; dan taman luar seluas 45.090 meter persegi, ter­letak di luar tembok perbatasan yang mengelilingi makam. Di belakang monumen terdapat suatu daerah perbukitan seluas 3.125 meter persegi, dan di sebelah kanan depan pintu gerbang dibuat kolam berukuran 30 x 25 meter dengan kedalaman 1,5 meter.
Di sebelah kiri pintu gerbang terdapat danau buatan selu s 4 hektar. Di belakang danau buatan ini terletak kompleks perumahan untuk karyawan yang berjum­lah 12 unit. Terpisah dari perumahan ini terdapat se­buah ruang kantor di sebelah kiri pintu gerbang, dan sebuah lagi di belakangnya. Untuk menjaga keama­nan dan kebersihan, tersedia empat pos keamanan, serta beberapa bak penampung dan pembakaran sam­pah. Ada pula instalasi air, dengan kapasitas bak pe­nampung 4.000 liter. Untuk keperluan penerangan, digunakan instalasi listrik PLN berkapasitas kekuatan 180 KVA dan terdiri atas 1.708 lampu besar dan kecil. Selain itu, tersedia dua unit perangkat sound system yang ditempatkan dalam satu ruangan di bawah plaza.
Tata Tertib.
Yang boleh dimakamkan di TMPN Kalibata hanyalah orang-orang yang memiliki persya­ratan tertentu, yaitu mempunyai bintang gerilya atau mahaputra, atau gugur dalam operasi tempur. Mereka yang memiliki bintang sakti atau bintang RI —yang terakhir ini presiden dan wakil presiden—bisa dima­kamkan di sana, namum harus dengan rekomendasi presiden RT yang sedang berkuasa. Bila tidak memi­liki salah satu dari semua persyaratan tersebut, seseo­rang masih bisa dimakamkan di taman makam pahlawan, asal dengan izin resmi dari presiden.
Pengunjung juga harus memenuhi persyaratan atau aturan tertentu, peraturan itu dibuat untuk menjaga dan menjamin kekhidmatan di tempat yang memiliki nilai-nilai kepahlawanan, pada saat upacara pema­kaman atau pelaksanaan ziarah berlangsung.
Pelaksanaan upacara pemakaman dikoordinir oieh Komando Garnisun Ibu Kota. Selain itu, Komando Garnisun Ibu Kota juga bertanggung jawab dalam mengatur pelaksanaan Ziarah Nasional, Apel Kehor­matan, dan Renungan Suci yang penyelenggaraannya bersifat nasional dengan suatu upacara kenegaraan, dan diikuti semua golongan. Ziarah Nasional dilaksa­nakan setiap Hari Proklamasi Kemerdekaan, tanggal 17 Agustus; sedangkan Renungan Suci dilakukan pa­da setiap peringatan hari pahlawan, tanggal 10 No­vember. Ziarah khusus, yang dilaksanakan oleh Komando Garnisun Ibu Kota, biasanya berlangsung dalam rangka kunjungan tamu negara, tamu menteri dan Pangab, atau Kepala Staf Angkatan/Kapolri. Zia­rah ini dilangsungkan dengan upacara resmi yang di­sertai peletakan karangan bunga di monumen.
Ziarah perorangan, yang dilakukan ahli waris atau anggota masyarakat, bisa dilakukan setiap saat setelah sebelumnya melapor kepada petugas yang ada di TMPN Kalibata. Ziarah rombongan, yaitu ziarah yang dilakukan secara kelompok, biasanya disertai pele­takan karangan bunga, bisa dilakukan setelah ketua rombongan meminta izin tertulis kepada Komando Garnisun Ibu Kota.
Dalam berziarah, setiap tamu dilarang menimbul­kan kegaduhan, mengucapkan ikrar atau pidato-pida­to, serta membawa poster, slogan, dan bendera-ben­dera organisasi atau bendera nasional. Selain itu, tan­pa seizin petugas, pengunjung dilarang mengambil gambar atau foto. Larangan-larangan lain yang biasa­nya berlaku di tempat umum, berlaku juga di TMPN Kalibata.

MENGENAL TAMAN MAKAM PAHLAWAN NASIONAL KALIBATA | ok-review | 4.5