MENGENAL SEJARAH KERAJAAN DEMAK

By On Thursday, February 20th, 2014 Categories : Antropologi

Sebuah kerajaan bercorak Islam yang berkembang di pantai utara Jawa pada abad ke-16, dengan Demak sebagai pusat pemerintahannya. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1500 sampai 1550. Raja pertamanya Raden Patah, anak raja Majapahit dari seorang ibu Cina. Raja Majapahit terakhir, yang dalam legenda-legenda bernama Brawijaya, mengawini seorang putri Cina dari Campa. Ketika putri ini sedang hamil, ia dihadiahkan kepada Ario Damar, seorang vasal Majapahit yang berkuasa di Palembang. Raden Patah lahir di Palembang.
Setelah dewasa ia kembali ke Majapahit dan memperoleh kekuasaan atas daerah Demak. Raden Patah makin bertambah besar pengaruhnya, lebih-lebih setelah mendapat dukungan dari beberapa raja Islam di daerah pesisir. Atas dukungan raja Jepara, Gresik, dan lain-lain, Raden Patah naik takhta Kerajaan Demak dan melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Ia memerintah sampai tahun 1518, dan sejak pemerintahannyalah Demak menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa.
Basis perekonomian Kerajaan Demak adalah perdagangan, khususnya perdagangan antarpulau. Oleh sebab itu, Kerajaan Demak merupakan sebuah kerajaan maritim. Kota Demak sendiri merupakan pelabuhan dan pusat perdagangan yang ramai, lebih-lebih setelah pelabuhan Juana dikosongkan dan ditinggalkan oleh Majapahit pada tahun 1513. Pelabuhan-pelabuhan lain di bawah pengaruh Demak antara lain Jepara, Tuban, Sidayu, Kotakembar, Jaratan, dan Gresik.
Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak rupa-rupanya telah menjadi tempat penimbunan perdagangan padi ke seluruh pulau, terutama ke Malaka.
Sejak tahun 1511 hubungan perdagangan antara Demak dan Malaka mulai terganggu, karena pada tahun itu Malaka direbut oleh Portugis. Untuk melindungi kepentingannya, Demak, di bawah pimpinan Pati Unus, menyerbu Malaka-Portugis pada tahun 1513.
Raja Demak kedua, Pangeran Sabrang Lor, masa pemerintahannya tidak banyak diketahui. Ia seorang bangsawan yang kesatria, seorang raja yang tegas mengambil keputusan. Menurut catatan Tome Pires, pada masa pemerintahannya Demak memiliki angkatan laut dengan 40 kapal jung.
Baru pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, raja Demak yang ketiga, Kerajaan Demak mencapai masa kejayaannya. Pada masa pemerintahannya (1524—546) Demak diproklamasikan menjadi pemerintahan Kesultanan. Mesjid Demak kemudian dibangun sebagai lambang kekuasaan Islam. Sultan Trenggono sendiri menggunakan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Daerah kekuasaannya juga diperluas ke arah barat dan timur, dengan memerangi raja-raja yang belum takluk kepada Demak.
Ekspedisi Demak ke Jawa bagian barat dilancarkan pada tahun 1526, dengan tujuan mendahului orang-orang Portugis yang mulai membangun hubungan dengan raja-raja di daerah ini. Sebagai hasilnya, Cirebon dan sebagian daerah Pajajaran jatuh ke tangan Demak. Ke arah timur, ekspedisi militer dilancarkan untuk memerangi Majapahit sejak sekitar tahun 1525 sampai tertumpasnya sisa-sisa laskar Majapahit pada tahun 1527. Kota Majapahit dimusnahkan dan semua peralatan keraton dibawa ke Demak. Pada tahun 1527 Tuban juga dapat ditaklukkan. Kemudian pada tahun 1528 Wirosari diduduki. Surabaya ditaklukkan juga pada tahun 1531. Selanjutnya Pasuruhan ditaklukkan pada. tahun 1535. Pada tahun 1541 dan 1542, para penguasa di Lamongan, Blitar, Wirosobo mengakui kekuasaan Demak. Kemudian berturut-turut pada tahun 1543, 1544, dan 1545, Demak menaklukkan daerah-daerah Penanggungan, Kediri, dan daerah hulu Sungai Brantas, seperti Malang. Sampai tahun 1545 ini, kekuasaan Kesultanan Demak meliputi hampir seluruh Jawa, Sumatra Selatan, dan beberapa daerah lain.
Pada tahun 1546, penyerbuan terhadap Blambangan di ujung timur Pulau Jawa dilancarkan. Tetapi sebelum penyerbuan ini berhasil, Sultan Trenggono mendadak meninggal dunia. Pasukan Demak di Blambangan kemudian ditarik mundur, dan di Demak sendiri terjadi perebutan kekuasaan dan pembunuhan di kalangan keluarga istana. Sunan Prawoto, yang berhasil membunuh Pangeran Sedo Lepen dan mendapat dukungan sejumlah wali, berhasil naik takhta. Tetapi tak lama kemudian ia juga terbunuh oleh putra Pangeran Sedo Lepen. Setelah itu, Pangeran Kalinyamat tampil dan merasa berhak atas takhta kesultanan. Tetapi ia juga akhirnya bernasib sama dengan Sunan Prawoto.
Pada masa-masa yang kacau ini, Jipang bergolak. Atas dukungan Sunan Kudus, Ario Penangsang dari Jipang menuntut takhta Kesultanan Demak. Hadiwijaya, Adipati Pajang, bersekutu dengan ratu Kali- nyamat tampil dan menentang Jipang. Pertempuran sering terjadi dalam perebutan kekuasaan ini. Akibatnya, Kesultanan Demak menjadi lemah. Beberapa daerah kekuasan Demak, antara lain Cirebon, Gresik dan Surabaya mulai melepaskan diri. Sementara itu, perdagangan Demak mengalami kemerosotan. Pelabuhan Demak menjadi sepi. Perdagangan lau; Jawa sebagian besar telah berpindah ke Jepara. Karena itu, sejak paruh kedua abad ke-16 dan 17, Jepara muncul sebagai pusat perdagangan dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di kepulauan. Ini semua menambah lemah Kesultanan Demak.
Dalam peperangan-peperangan yang terjadi, Hadiwijaya memperoleh kemenangan dan Ario Penangsang terbunuh. Hadiwijaya mengangkat dirinya sebadai Sultan Demak dengan dukungan raja-raja daerah pesisiran. Sultan Hadiwijaya kemudian memindahkan pusat kekuasaannya ke Pajang. Sementara itu Demak dijadikan daerah kadipaten dengan seorang penguasa yang takluk kepada Pajang. Dengan demikian, bermulalah dinasti baru, Dinasti Pajang.

MENGENAL SEJARAH KERAJAAN DEMAK | ok-review | 4.5