MENGENAL SEJARAH KELUARGA

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Antropologi

Sejarah keluarga sebagai suatu bidang riset mulai muncul pada 1950-an, sebagai bagian dari tumbuhnya minat terhadap sejarah ekonomi dan sosial. Para ahli sejarah mencari informasi mengenai keluarga dari berbagai sumber, mulai dari dokumen-dokumen legal, catatan kasus pengadilan, sejarah nama-nama keluarga, lukisan kuno, naskah perjanjian di abad pertengahan dan juga berbagai penggalian arkeologis di lokasi-lokasi milik pribadi guna mengungkapkan cikal bakal kehidup¬an keluarga mulai dari zaman Yunani dan Romawi kuno hingga pada abad pertengahan (Gardner, 1986; Gotein, 1978; Humphreys, 1983; Klapisch-Zuber, 1985; Rawson, 1986; lihat pula Aries, 1962 dan juga Burton, 1989 untuk memperoleh tafsiran kritis terhadap pendapat- pendapat Aries mengenai kehidupan anak-anak pada abad pertengahan dan di masa Renaissance). Sebagian besar orang yang terlibat dalam sejarah keluarga adalah mereka yang ingin mencari pemahaman mengenai cikal bakal keluarganya sendiri. Umumnya para sejarawan keluarga tidak lagi puas hanya mengumpulkan nama dan tanggal-tanggal, namun mereka juga mencoba untuk mempelajari sejarah nenek moyang mereka dalam berbagai aspek dari pekerjaan, teman-teman dan tetangga. Kepustakaan mengenai studi ini sudah cukup banyak, dan sebagian di antaranya merupakan sumber informasi yang sangat berharga (Federation of Family History Societies. 1993; Hey, 1993). Federasi Peminat Sejarah Keluarga juga menerbitkan newsletter setiap enam bulan sekali yang berjudul Family History News and Digest yang memerinci berbagai kegiatan dan publikasi mereka. Di tahun 1994 tercatat lebih dari 80 perkumpulan pengemar sejarah keluarga yang aktif di Inggris dan Wales. Pada 1980 Anderson mengidentifikasikan empat pendekatan pokok yang digunakan oleh para sejarawan dalam mempelajari cikal-bakal keluarga, yakni psiko-histori, demografi, kajian aspek sentimen keluarga, dan ekonomi rumah tangga. Masing-masing pendekatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri.
Psiko-histori menjanjikan perspektif yang paling jernih mengenai motivasi, kesadaran dan kealpaan generasi lampau, namun banyak kesimpulan mereka yang tidak diterima oleh kaum sejarawan pada umumnya. Perubahan sikap terhadap hubungan antara orang tua dan anak, pernikahan, dan privasi telah dipelajari oleh para sejarawan yang menganut pendekatan aspek sentimen, yang mengandalkan pada sumber-sumber kepustakaan. Perhatian mereka curahkan pada kehidupan kaum elit yang memiliki catatan hidup terbaik. Mereka memilih kaum elit karena mereka menganggap perilaku elit tersebut seringkah menjadi rujukan perilaku anggota masyarakat lain, dan kehidupan kaum elit biasanya lebih kaya warna. Sementara itu para ahli sejarah yang menggunakan pendekatan demografi lebih mementingkan data-data perjuangan hidup di masa lampau. Mereka berfokus pada bentuk struktur rumah tangga, usia pada pernikahan pertama, pola pengasuhan anak dan pola kehidupan sehari-hari. Kelemahan pendekatan ini ter-letak pada ketidakmampuannya untuk meng-identifikasikan sikap-sikap yang melandasi perilaku tertentu. Sebagai contoh Anderson menyatakan bahwa kedekatan usia antara suami dan istri sulit dikemukakan sebagai bukti adanya hubungan pernikahan yang bersifat akrab dan egaliter, atau pun sebagai pijakan untuk menyatakan bahwa keluarga dan rumah tangga merupakan produk ekonomi dan sosial, bukannya sebagai konstruksi makna sosial para anggotanya. Upaya untuk mengaitkan bentuk-bentuk keluarga dengan proses ekonomi yang lebih luas merupakan fokus para sejarahwan yang menggunakan pendekatan ekonomi rumah tangga. Banyak hasil yang mereka dapatkan mengejutkan para sejarawan lainnya. Misalnya saja. mereka menyatakan bahwa pernikahan di usia muda tidak ada hubungannya dengan pola pewarisan harta keluarga. Mereka juga mencatat adanya suatu kesinambungan pola pembentukan keluarga pada zaman pra industri dan zaman industri (hasil-hasilnya dirangkum dalam Anderson, 1980). Namun pendekatan ekonomi rumah tangga ini lebih cocok diterapkan untuk menelaah lingkungan mikroekonomi ketimbang pada konteks ekonomi yang lebih luas akibat sulitnya pengukuran dampak-dampaknya. Masalahnya muncul dari adanya bias atas data-data yang digunakan. Para sejarawan yang menggunakan pendekatan ekonomi rumah tangga itu ternyata juga gagai memperhitungkan pengaruh faktor-faktor budaya yang menurut para sejarawan umumnya sangat berperan dalam menentukan bentuk-bentuk keluarga. Terbatasnya penjelasan yang diberikan oleh faktor-faktor demografi dan ekonomi sebagai determinan pola keluarga mendorong masuknya faktor-faktor kultural dalam agenda riset. Namun belum ada suatu cara yang disepakati sebagai metode terbaik untuk mengadakan riset keluarga. Ada upaya untuk mengintegrasikan pendekatan-pendekatan tersebut. Hareven (1987) berpendapat bahwa karya-karya sejarah keluarga umumnya mengabaikan aspek sentimen dan psiko-histori. Burgiere  menggunakan berbagai sumber untuk menyusun rangkuman riset-riset keluarga yang pernah dilakukan, namun komentar kritis yang dilakukannya sangat terbatas. Studi-studi lainnya berusaha mengukur pengaruh atau kekuatan lembaga-lemabaga kunci seperti gereja dan negara dalam menentukan perilaku keluarga. Mereka mengatakan bahwa pada abad pertengahan gereja menentukan sendiri hukum-hukum perkawinan sedemikian rupa agar sebagian besar warisan keluarga nantinya jatuh ke tangan para pendeta. Batasan antara pengaruh gereja Eropa Timur dan Barat yang mewarnai pola kolonisasi di awal abad pertengahan juga dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi perbedaan usia pernikahan dan pola rumah tangga di Eropa Barat dan Timur; usia pernikahan di Eropa Timur biasanya lebih dini dan pola pengaturan rumah tangganya lebih kompleks. Di Inggris, Poor Law diberlakukan oleh parlemen dengan tujuan mengurangi kesenjangan pendapatan antara pria dan wanita, antara kaum muda dan tua, serta antara keluarga yang punya anak banyak dengan keluarga yang anaknya sedikit. Untuk menghemat pengeluaran, undang-undang tersebut adakalanya memberi izin dibentuknya rumah tangga di kalangan penduduk usia muda penerima bantuan agar mereka memperoleh tambahan dana. Dalam setiap sistem hukum, hubungan-hubungan keluarga sangatlah bervariasi. Para ahli sejarah kini menyadari bahwa selain perbedaan yang mencolok pola keluarga antara Eropa Timur dan Barat, variasi regional dan lokal juga sangat besar, demikian pula halnya antara mereka yang kaya dengan yang miskin, serta antara mereka yang memiliki status tinggi dan yang berasal dari masyarakat kebanyakan; perbedaan-perbedaan itu bahkan dapat pula ditemukan pada unit-unit keria (hubungan keluarga pada kalangan proporsi tertentu ternyata berbeda dengan yang lain). Di setiap unit tersebut, status kaum wanita pun berbeda-beda.

MENGENAL SEJARAH KELUARGA | ok-review | 4.5