MENGENAL NOAM CHOMSKY

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Sosiologi

Noam Chomsky adalah seorang teorisi bahasa, filsuf, sejarah intelektual, dan kritisi sosial, la merupakan salah satu pemikir yang paling berpengaruh dalam periode moderen dan satu dari sedikit ilmuwan yang karyanya dibaca secara sangat luas. Setelah meraih gelar doktoral dalam linguistik dari Universitas Pennsylvania di tahun 1955, ia bergabung dengan Massachusetts Institute of Technology, yang mempromosikannya sebagai profesor penuh di tahun 1961, anggota tetap dewan fakultas di tahun 1966, dan akhirnya menempatkannya sebagai salah satu anggota senat guru besar institut yang sangat bergengsi itu (kebanyakan anggotanya adalah pemenang hadiah Nobel) di tahun 1976. Banyak sekali ahli linguistic. Model itu juga telah menciptakan berbagai perubahan dan kemajuan penting dalam studi kebahasaan. Berbagai bidang kajian baru terbuka, sehingga peluang para ilmuwan terdorong untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam dan lebih banyak. Di samping itu. tingkat perubahan dan kemajuan yang berlangsung dewasa ini masih cukup cepat sekalipun diukur berdasarkan standar pada deisade 1990-an sehingga gramatika generatif pada dekade pertama abad 20 masih sama pen-tingnya untuk saat ini. Bahwasanya program minimalis telah mendekati sempurna saat ini tidak berarti bahwa prospek pengembangan studi kebahasaan dan berbagai disiplin ilniu yang terkait telah menyempit, bahkan seperti yang diyakini oleh Chomsky sendiri, prospek pengembangannya pada pertengahan dekade 1990an dan masa-masa selanjutnya tetap terbuka lebar. Konsekuensi penting berikutnya dari karya teknis Chomsky adalah terkuaknya bukti kuat bagi rasionalisme epistemologis seperti yang dikemukakan oleh Chomsky sendiri. Bukan rahasia kalau Chomsky sangat dipengaruhi oleh perkembangan filsafat sejak awalnya dan bahwa ia beralih ke studi serius mengenai Cartesian, yang kemudian berhasil ia bangkitkan dan ia perbaharui, tidak lama setelah ia menemukan terobosan yang revolusioner itu. Penemuan-penemuan itu pula yang memungkinkannya beranjak lebih jauh dari temuan-temuan programatik penting dari tradisi Cartesian. Dalam kalimat lain, ia bukan hanya berhasil memahami tradisi pemikiran itu melainkan juga mengembangkannya. Jadi, ia turut menciptakan mengembangkan era filsafat moderen yang tidak sekedar merupakan lanjutan dari revolusi kognitif pada dekade 1950-an.
Bagi Chomsky, seperti halnya bagi Descartes, tidak ada variasi yang berarti di kalangan manusia, meskipun aspek-aspek fisik superfisialnya memang cukup beragam. Artinya, setiap manusia memiliki hakekat yang sama dan setara. Karena itu. Chomsky sangat menentang rasisme, (pembedaan jenis kelamin) dan berbagai kecenderungan in-elgaliterian lainnya. Keyakinannya ini, dan kemampuan teknis linguistiknya yang sangat dalam. merupakan dasar bagi keberhasilan studinya lebih jauh mengenai hakikat manusia dan masyarakat, termasuk mengenai konsep-konsep dasar dalam tata sosial manusia. Namun ini tidak berarti bahwa Chomsky merupakan tokoh tunggal dalam studi mengenai tokoh sosial, ataupun sebagai pencipta “gramatika universal” (sebuah ilmu kognitif baru). Namun jasanya dalam pengembangan studi-studi tersebut, termasuk dalam pemahaman kaitan antara interaksi sosial dan struktur linguistik, tidak bisa dikecilkan. Bahkan, penjelasan mengenai keterkaitan kedua hal tersebut dan hubungannya dengan domain-domain kognitif lainnya, telah membuka perspektif baru dalam ilmu-ilmu social dan humaniora. Teorinya mengenai hubungan sosial dan politik, yang agaknya bertolak dari “naluri meraih kebebasan” dan dorongan aktualisasi diri sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia (sekaligus membedakannya dari hewan) cenderung memberi ulasan yang simpatik terhadap gagasan perjuangan kelas dan ide-ide dasar yang melandasinya. Namun tulisan-tulisan “non-profesional” Chomsky lebih tepat disebut sebagai analisis tentang masyarakat kontemporer, dan bukan teori sosial atau politik, yang dikemasnya dengan standar intelektual tinggi. Sikap egaliternya juga sering mendorong Chomsky untuk bersikap kritis terhadap sepak-terjang negaranya sendiri yang kini dianggap satu-satunya negara adidaya.

MENGENAL NOAM CHOMSKY | ok-review | 4.5