MENGENAL MUHAMMAD DIMYATI (1912-1958)

By On Friday, February 21st, 2014 Categories : Review

Seorang otodidak yang karena ketekunannya berhasil menjadi tokoh wartawan dan pengarang, walaupun pendengarannya kurang berfungsi dan sulit bicara sejak kecil. Ia hanya bersekolah sampai kelas 4 sekolah rendah.
Dimyati pernah menjadi redaktur mingguan Adil di Surakarta, suatu mingguan bernapaskan Islam yang pada masa itu ternama dan berwibawa. Dalam majalah bulanan Al-Fath, yang merupakan adik kandung Adil, dari tahun 1934 sampai 1942 Dimyati memegang rubrik pojok.
Pada masa sebelum perang, Dimyati memenangkan perlombaan mengarang roman yang diselenggarakan sebuah penerbit di Bukittingi. Romannya berjudul Ramona. Pada jaman Jepang, roman karangan Dimyati yang berjudul Tangan Menceneang Bahu Memikul memenangkan sayembara bagi majalah Jawa Baru.
Nama samaran yang dipakainya di berbagai media berlain-lainan, antara lain, Zubaidah, Lamdahur, Abu Ubaidah, Kamaruzzaman, dan Djoko Lelono. Gaya bahasa yang dipakainya sama sekali tak mencerminkan bahwa dia berasal dari suku Jawa. Bahkan HAMKA, yang suatu ketika menjenguknya di rumahnya di Solo, tadinya menyangka Muhammad Dimyati orang Minang.
Buku Dimyati yang berjudul Manusia dan Peristiwa terbitan Balai Pustaka, disalin ke dalam bahasa Rusia tanpa pengetahuan, apalagi izinnya.

MENGENAL MUHAMMAD DIMYATI (1912-1958) | ok-review | 4.5