MENGENAL KERATON KANOMAN

By On Wednesday, April 9th, 2014 Categories : Antropologi, Budaya

MENGENAL KERATON KANOMAN – Terletak di pusat kota Ci­rebon, di Kelurahan Lemahwungkuk. Dengan usia yang sudah mencapai beberapa abad, keraton ini tam­pak kurang terawat, dilihat dari gedungnya maupun lingkungannya, sekalipun, menyimpan banyak benda bersejarah. Luasnya 5 hektar.
Keraton ini menjadi tempat diam raja-raja Kesul­tanan Kanoman. Ketika Sultan Kanoman X wafat pa­da 25 Mei 1989, ia diganti Sultan Kanoman XI. Upacara jumenengan pada 17 Juli 1989 ditandai de­ngan penyerahan pusaka keraton, Keris Sarpa Naga, dari Pangeran Haji Nurun, adik mendiang Sultan Ka­noman X, ke tangan Sultan Kanoman XI.
Sejarah.
Asal usul lahirnya keraton ini dapat dite­lusuri dari Caruban Purwaka Caruban Nagari. Dari babad tersebut diketahui bahwa keraton ini berkaitan erat dengan tokoh Sunan Gunung Jati. Setelah sunan ini meninggal tahun 1586, kedudukannya sebagai Sultan Cirebon diganti putranya Pangeran Emas yang bergelar Panembahan Ratu dan dikenal sebagai Raja Cirebon II. Kekuasaan kemudian beralih ke putranya panembahan Ratu II atau Raja Cirebon III. Nama lain raja ini ialah Penembahan Girilaya, karena setelah wafat, ia dimakamkan di Girilaya, 2 kilometer dari Imogiri, tempat makam Sultan Agung. Dari perka­winan Penembahan Girilaya dengan putri Sunan Amangkurat I (raja Mataram yang menggantikan Sul­tan Agung tahun 1645), lahir tiga putra, yaitu Pange­ran Martawijaya, Pangeran Kertawijaya, dan Pa­ngeran Wangsakerta.
Setelah Panembahan Girilaya wafat, Kesultanan Cirebon terpecah menjadi dua, Kesultanan Kasepuh­an dan Kanoman. Pangeran Kartawijaya naik tahun 1667 sebagai Sultan Sepuh I, dengan gelar Sultan Ra­ja Syamsudin, Pusat pemerintahannya di Keraton Pakungwati yang disebut juga Keraton Kasepuhan. Pangeran Kertawijaya, bergelar Sultan Muhammad Badarudin, mendirikan keraton baru, yaitu Keraton Kanoman.
Peninggalan Penting. Keraton ini menyimpan se­jumlah peninggalan bersejarah yang memperlihatkan kebesaran kesultanan di masa lampau.
P aksi Naga Liman, sebuah kereta berbentuk aneh, berwujud makhluk paduan burung-naga-gajah. Kere­ta ini digunakan para raja dari Keraton Kanoman un­tuk menghadiri upacara kebesaran. Kereta kerajaan ini ditarik enam kuda. Untuk permaisuri disediakan kereta lain, Jempana. Baik Paksi Naga Liman maupun Jempana dianggap sebagai benda keramat. Dalam se­tiap bulan Maulud, banyak peziarah membawa sesaji dengan harapan dapat beroleh berkah daripadanya, yaitu perkasa di udara, di laut, dan di bumi. Harapan ini sesuai dengan arti kata-kata: paksi yang berjaya di angkasa, naga yang berjaya di laut, dan liman yang berjaya di bumi.
Peralatan regalia meliputi keris sarpa naga, pa­yung kebesaran songsong tunggal naga, dan mande mustika, yaitu singgasana kesultanan.
Benda pusaka yang lain meliputi gamelan sekaten, tombak, wayang golek, ranjau, perisai, serta alat pe­rang. Cendera mata yang memperlihatkan hubungan keraton dengan dunia luar ialah cermin Napoleon Bo­naparte, mesin jahit dari Raffles, dan guci dari Cina.

MENGENAL KERATON KANOMAN | ok-review | 4.5