MENGENAL KAKAKTUA-KAKAKTUAAN

By On Sunday, April 6th, 2014 Categories : Ilmu Alam

MENGENAL KAKAKTUA-KAKAKTUAAN – Suatu kelompok bu­rung bercirikan adanya jambul yang dapat mengem­bang atau menutup. Kelompok burung ini sangat menarik, karena mempunyai kemampuan meniru be­berapa suara yang diajarkan. Tubuhnya padat dengan sayap kuat. Kepala dan lehernya pendek. Paruhnya besar, kuat dan melengkung dengan ujung runcing. Kakinya pendek dengan dua jari kaki menghadap ke depan dan dua jari lagi menghadap ke belakang. Fungsi jari-jari ini untuk memanjat atau memegang suatu benda.
Pada umumnya, burung ini menghuni hutan datar­an rendah, padang rumput, hutan yang terbuka, dan tepi hutan. Pakannya terdiri atas biji-bijian, buah- buahan, serta serangga dan larvanya. Sarangnya, yang beralas ranting-ranting yang telah dipotong pendek atau rumput kering, disusun di lubang pohon. Jumlah telurnya yang putih beragam, bergantung pada jenis.
Alkai Raja mempunyai bulu berwarna hitam kea­bu-abuan. Kepalanya dihiasi jambul dengan beberapa helai bulu panjang. Warna paruhnya hitam dan kaki­nya abu-abu tua. Selaput pelangi matanya cokelat tua. Di antara mata dan paruh terdapat bagian tidak berbu­lu yang berwarna merah muda dalam keadaan biasa, dan menjadi merah jika dalam gembira atau bahaya. Panjang tubuhnya dapat mencapai 60 sentimeter.
Alkai raja mendiami hutan dan padang rumput. Bu­rung ini sering tampak sendiri, berpasangan, atau da­lam kelompok kecil bertengger di puncak pohon yang tinggi atau terbang di atas kanopi hutan. Burung me­mulai kegiatannya setelah matahari terbit dan kembali ke tempat bertengger sesaat menjelang matahari ter­benam. Pakannya biji-bijian, buah-buahan, dan larva serangga. Dalam keadaan bahaya, alkai raja akan sa­ling mengingatkan dengan teriakan yang keras.
Di alam, alkai raja berkembang biak sekali dalam setahun. Sarangnya, yang beralas ranting-ranting ke­cil, disusun dalam lubang pohon, biasanya pohon ma­ti. Telurnya yang hanya satu butir, berwarna putih, dierami kedua induknya secara bergantian. Daerah penyebarannya Kepulauan Aru, Irian Jaya, dan pulau- pulau sekitarnya, serta Semenanjung Cape York di Australia utara. Untuk menghindari kepunahan, jenis ini dilindungi oleh undang-undang.
Kakaktua Barat mempunyai bulu tubuh berwarna putih, dengan warna kuning muda di bagian bawah bulu primer sayap, ekor, dan bulu penutup telinga. Kepalanya dihiasi jambul kuning yang melengkung ke depan. Selaput pelangi matanya cokelat pada bu­rung jantan dan cokelat kemerahan pada burung beti­na. Warna paruhnya hitam keabu-abuan dan kakinya abu-abu tua. Panjang tubuhnya 33 sentimeter.
Kakaktua barat menyukai daerah hutan yang terbu­ka dan tepi hutan, serta jarang dijumpai dalam hutan. Burung ini sering tampak berpasangan atau dalam ke­lompok kecil; sedangkan ketika mencari makan, bina­tang ini sering tampak dalarrt kelompok besar. Suaranya terdengar ramai. Di dalam fiutan yang hijau, warna bulunya yang putih terlihat sangat mencolok. Pakannya terdiri atas biji-bijian dan buah-buahan. Sa­rangnya disusun dalam lubang Dohon. Di dalam sangkar, pada musim berkembang biak, burung ini meng­hasilkan tiga butir telur yang berwarna putih. Penge­raman yang dilakukan kedua induknya berlangsung selama kurang lebih 24 hari. Induk jantan mengerami telur-telur itu pada siang hari. Anak burung dapat me­ninggalkan sarang sekitar 10 minggu sesudah mene­tas. Penyebaran kakaktua barat meliputi Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, antara lain diLombok, Sum­bawa, Flores, Sumba, Timor, dan Samao (Semau).
Kakaktua Irian secara sepintas mirip kakaktua ba­rat. Perbedaannya terletak pada ukuran tubuh yang le­bih besar dan warna kuning di bagian bawah bulu primer sayap, ekor, dan bulu penutup telinga lebih tua. Kepalanya dihiasi jambul kecil kuning yang melengkung ke atas. Warna selaput pelangi matanya cokelat tua pada burung jantan dan merah pada bu­rung betina. Paruhnya hitam keabu-abuan dan kaki­nya abu-abu. Panjang tubuh sekitar 50 sentimeter.
Kakaktua irian menyukai hutan dataran rendah dan padang rumput. Suaranya ramai dan warna putihnya tampak mencolok di dalam hutan. Selama musim ber­kembang biak burung ini sering tampak dalam pa­sangan atau kelompok kecil; sedangkan di luar musim itu, binatang ini ditemukan dalam kelompok besar. Tiap kelompok memiliki tempat bertengger yang te­tap. Dengan berteriak keras, kelompok kakaktua irian meninggalkan pohon tempat bertengger pada saat matahari terbit dan kembali menjelang matahari ter­benam. Di samping buah-buahan dan biji-bijian, ka­kaktua irian makan bunga, pucuk daun, umbi-umbian, serta serangga dan larvanya.
Musim berkembang biak kakaktua irian berbeda- beda untuk setiap tempat. Perkawinannya didahului dengan cumbuan yang sederhana. Burung jantannya melangkah dengan gagah di sepanjang batang yang menuju burung betina. Dengan jambul mengembang, burung jantan menarikan kepalanya naik turun sambil bersuara, lalu keduanya saling mengusap bulu dan menyentuh paruh.
Sarang burung kakaktua irian dibuat dalam lubang pohon yang terletak dekat air, umumnya pada pohon yang tinggi. Telurnya yang 2—3 butir dierami kedua induknya selama kurang lebih 30 hari. Anak burung dapat meninggalkan sarang sekitar 6—9 minggu setelah menetas. Penyebarannya meliputi Irian Jaya, Ke­pulauan Aru, Australia bagian utara dan timur. Burung ini dimasukkan juga ke Selandia Baru, Ke­pulauan Palau, Ceramlaut dan Goramlaut. Kakaktua Malut mempunyai bulu yang seluruhnya berwarna putih, kecuali di bagian bawah bulu sayap dan ekor yang berwarna kuning. Pada saat mengem­bang, jambulnya yang besar dan putih tampak seperti kipas rangkap, namun ketika tenang membentuk tu­dung yang meluas melewati tengkuk. Selaput pelangi matanya cokelat tua pada burung jantan dan cokelat kemerahan pada burung betina. Warna paruhnya hi­tam keabu-abuan dan kakinya abu-abu. Panjang tu­buhnya sekitar 46 sentimeter.
Kakaktua malut sering terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil, dan terbang di atas puncak po­hon yang tinggi. Warna bulunya yang putih dan sua­ranya yang keras sangat mencolok di hutan. Pakannya terdiri atas biji-bijian dan buah-buahan.
Di dalam sangkar, burung yang berhasil berkem­bang biak menghasilkan dua butir telur. Kedua induk­nya mengeram sekitar empat minggu, lalu meme­lihara anaknya sampai berumur 2—3 bulan. Penye­barannya di Maluku utara dan tengah, yakni di Pulau Halmahera, Ternate, Tidore, Bacan, dan Obi.
Kakaktua Seram berbulu putih seluruhnya dengan dibasuh warna merah muda yang tampak jelas di ba­gian dada. Bulu sayap dan ekor bagian bawahnya ber­warna jingga. Kepalanya dihiasi jambul besar ber­warna jingga. Warna selaput pelangi matanya hitam pada burung jantan dan cokelat kemerahan pada bu­rung betina. Paruh dan kakinya berwarna hitam. Pan­jang tubuhnya sekitar 52 sentimeter.
Kakaktua seram sering dijumpai di daerah pantai, dan jarang di daerah pegunungan. Suaranya yang melengking sering terdengar pada waktu terbang. Pa­kannya terdiri atas buah-buahan dan biji-bijian.
Pada musim berkembang biak, kakaktua seram membentuk pasangan dan membuat sarang di dalam lubang pohon yang tinggi. Telurnya, yang putih dan berjumlah 2—3 butir, dierami kedua induknya selama 25—30 hari. Ketika mengeram, kedua induk ini tidak pernah meninggalkan sarang bersamaan. Anak bu­rung akan tinggal di sa­rang sampai berumur 3 bulan. Penyebarannya di Seram, Saparua, dan Haruku.
Kakaktua Tanimbar berbulu putih. Bu­lu di sekeliling pangkal paruh dan pangkal bulu kepalanya berwarna jingga. Warna bulu pe­nutup telinganya ku­ning pucat, sedang bulu sayap dan ekor bagian bawah kuning.
Selaput pelangi mata burung jantan berwar­na cokelat tpa, sedang­kan yang betina cokelat kemerahan. Warna paruhnya putih keabu-abuan dan kakinya abu-abu. Panjang tubuhnya sekitar 32 sentimeter. Penyebarannya di Kepulauan Tanimbar.
Kakaktua Wasur secara sepintas mirip kakaktua tanimbar, hanya ukuran tubuhnya lebih besar dan bulu kerongkongannya berwarna jingga. Bulu penutup sa­yap dan ekor bagian bawah berwarna kuning. Paruh­nya berwarna putih. Warna selaput pelangi matanya cokelat tua dan kakinya abu-abu. Panjang tubuhnya 38 sentimeter.
Kakaktua wasur sering terdengar ramai dalam ke­lompok-kelompok besar, sehingga dari jauh pohon- pohon tampak seperti berdaun putih. Kebiasaannya yang tidak berubah adalah bertengger di pohon yang tumbuh dekat air. Burung ini memulai kegiatannya sebelum matahari terbit, lalu sepanjang hari mencari pakan. Bila hari panas, kakaktua wasur akan ber­lindung di pohon, menghabiskan waktu dengan meng- gigit-gigit daun atau batang pohon. Menjelang matahari terbenam, burung ini kembali ke tempat bertengger. Pakannya terdiri atas biji-bijian, buah- buahan, umbi, serta serangga dan larvanya.
Musim berkembang biak kakaktua wasur tidak te­tap dan sangat dipengaruhi keadaan iklim. Sarangnya disusun di dalam lubang pohon yang terletak dekat air. Telurnya, yang berjumlah 3—4 butir, menetas se­telah dierami selama kurang lebih 24 hari oleh kedua induknya. Penyebarannya meliputi Australia utara, barat laut, dan timur bagian dalam, serta Irian Jaya bagian selatan.

MENGENAL KAKAKTUA-KAKAKTUAAN | ok-review | 4.5