MENGENAL IDRUS (1921-1979)

By On Monday, March 24th, 2014 Categories : Review

Penulis prosa Indonesia ang­katan 45. Meskipun ia tidak aktif dalam gerakan sastra 45, karyanya mempunyai ciri berbeda dengan angka tan Pujangga Baru sebe­lumnya. Ia menulis dalam bahasa sehari-hari dengan gaya sarkastik yang ring­kas, sederhana, dan tanpa hiasan kata-kata.
Idrus mengangkat masa­lah sosial yang terjadi pada jamannya sebagai tema utama tulisannya. Dalam beberapa karyanya ia me­maki habis-habisan keada­an buruk dan kacau selama revolusi dan jaman Jepang, juga orang-orangnya. Ia selalu menonjolkan ber­bagai kelemahan manusia. Ia menamakan konsep sastranya ini “kesederhanaan baru”, yang dipelajari­nya dari kaum ekspresionis Belanda tahun 1930-an, terutama dari prosa Willem Elsschot yang dikagumi­nya (Gaya sastra ini mengejar ketepatan apa yang hen­dak dikatakan dalam bentuk seharusnya, tidak kurang dan tidak lebih).
Walaupun Idrus sudah menulis sejak jaman Jepang, bukunya baru diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1948, yakni Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Karyanya yang diterbitkan kemudian adalah Aki (1950) serta Perempuan dan Kebangsaan (1950). Karyanya yang disebut terakhir itu dimuat dalam majalah Indonesia nomor khusus, bertema sindiran terhadap H.B. Jassin serta dirinya sendiri. Tulisan- tulisannya yang lain adalah Dokter Bisma (1945), Jibaku Aceh (1945), dan Kejahatan Membalas Den­dam (1945).
Pada tahun 1950-an dan 1960-an Idrus dikenal se­bagai penulis cerpen, esai, dan direktur sebuah maja­lah sastra. Sewaktu mengajar sastra di Kuala Lumpur, Malaysia, kumpulan cerpennya, Dengan Mata Ter­buka (1961) dan Hati Nurani Manusia, diterbitkan di negara itu. Novel terakhirnya, Putri Penelope (1973), diterbitkan di Australia, ketika ia mengajar di .negara ini. Karya-karyanya setelah tahun 1950 tidak sepadat dan sekuat berbagai karyanya dalam jaman Jepang dan revolusi.
Idrus dikenang melalui berbagai cerpennya yang ia tulis sejak awal kariernya, seperti Kisah Sebuah Celana Pendek, Kota Harmoni, Sanyo, dan Surabaya. Sete­lah jamannya berakhir, drama-dramanya tak pernah dipentaskan, karena lebih bersifat sastra daripada te­ater.

MENGENAL IDRUS (1921-1979) | ok-review | 4.5