MENGENAL GEORG WILHELM F. HEGEL

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Filsafat

Barangkali tidak ada filsuf yang lebih berpengaruh dalam kesadaran Eropa modern daripada Hegel. Namun ironisnya, Hegel adalah satu dari banyak pemikir yang sering disalahpahami dan pemikiran atau ajaran-ajarannya didistorsikan oleh teman maupun lawannya, bahkan hingga sekarang, kendati sejak 1970-an telah terkumpul karya para cendikiawan yang khusus menyimak karya-karya Hegel. Stereotipe-stereotipe lama masih tetap bertahan. Hegel digambarkan sebagai idealis yang ‘terlalu cinta kelembutan’ realitas di belakang penampakan; rasionalis-lengkung; ahli sejarah profesional yang bete noire dengan filsafat sejarahnya yang a priori-, pemberi apologi bagi pemerintah otoriter Prusia dan konservatisme Restorasi; atau nabi Machtpolitik dan totalitarianisme. Kendati dewasa ini jenis kritik yang muncul tidak sekasar dahulu, melainkan lebih subtil dan canggih, tetap saja sosok Hegel sering diselewengkan. Para cendekiawan tampaknya enggan, bahkan takut-takut, untuk memulai kajiannya dari ujung spektrum yang lain, atau untuk menerima Hegel tanpa prasangka sebagai realis yang membumi, yang tertarik pada apa yang kita sebut fenomena sosiologis (dan Volksgeist sehingga Hegel seyogyanya dilihat dengan cara ini dan bukan sebagai nasionalisme Romantik); atau untuk melihat dirinya sebagai orang yang selalu antusias kepada ide-ide revolusi Perancis, yang dalam banyak hal lebih dekat kepada radikalisme Benthamine ketimbang konservatisme Burkeian, yang mencoba menggunakan filsafat untuk memaparkan logika dari klaim manusia modern atas realisasi-diri dan kebebasan, dan dengan demikian menjadi rasionalitas bagi negara demokrasi modern. Belum banyak ilmuwan yang mau mengakui Hegel sebagai seorang pemikir yang tidak berada di luar tradisi demokrasi liberal, melainkan berada di dalamnya secara realistik-sosiologis.
Adalah sesuatu yang paradoks bahwa Marx menerima sosok Hegel seperti apa adanya, padahal dalam kritiknya terhadap filsafat politik Hegel, Marx menyerang gagasan kenegaraan Hegel dalam bentuknya yang paling masuk akal. Marx bahkan ingin memperlihatkan bahwa gagasan Hegel itu adalah sebuah ilusi dari kesadaran palsu yang teralienasi pada masyarakat borjuis atau, lebih tepatnya kalangan anti-masyarakat, yang tidak mungkin menjadi realitas dalam dunia modern. Marx mengagumi detil dan kejernihan pandangan Hegel terhadap masyarakat modern serta realisme sosiologinya meski sifatnya terbalik, ibarat negatif foto. Bagi para pemikir Marxis modem, adalah suatu dogma yang tak tergoyahkan bahwa Marx mendemistifikasi Hegel, menggeser titik-beratnya dari Geist (Tuhan) kepada manusia, dan seterusnya. Dalam kenyataannya, mereka justru menciptakan mitos baru; bukan negara melainkan apa yang disebut Hegel seba-gai ‘momen-momen’, seperti ‘masyarakat sipil’, adalah segaia-dalam-segala, dan negara tidak berdaya untuk mengintervensi dan mengkoreksi setan-setan yang demikian destruktif karena merajalelanya liberalisme ekonomi, yang menurut analisis kalangan Marxis sudah sampai pada taraf yang akut; khususnya produksi dari pobel atau kaum proletar yang teralienasi. Hegel dikatakan telah menjelaskan sesuatu sebagai jalan keluarnya. Kendati penafsiran semacam ini bagaikan melihat sesuatu lewat teleskop dari ujung yang keliru, Hegel menjadi korban distorsi-distorsi kaum liberal yang antara lain mengatakan bahwa Hegel menyamakan masyarakat dan negara. Pandangan Hegel terhadap kebudayaan industri modern dan perdagangan dikritik habis-habisan, demikian pula rancangan dialektiknya untuk mengembangkan kontradiksi inheren dalam segenap partisi kebenaran, dan yang diterapkan bukan hanya dalam pemikiran melainkan juga kenyataan yang dipikirkan itu. Sebuah penafsiran ulang atas tema alienasi dibutuhkan oleh siapa saja yang tidak ingin menjadi Marxis. Di Inggris dan AS khususnya ini menjadi sebuah gaya berpikir. Pengaruh Zeitgeist tampaknya cukup jelas dalam pemikiran Hegel muda yang mengutamakan komunitas ketimbang negara, suatu konsentrasi yang cenderung bersandar pada aspek-aspek tertentu dari pemikirannya yang tidak matang, khususnya sikapnya yang antusias untuk mencapai ‘kebulatan yang indah’ dari gaya hidup Yunani kuno. Hegel dewasa pun ditafsirkan dengan cara pandang ini. Segenap penafsiran ini ternyata gagal untuk memahami makna dan signifikansi dimensi relijius dari filsafat Hegel. Ia sendiri mengklaim bahwa filsafat sepenuhnya adalah kebenaran rasional kristiani, dan bagaimana ini tercermin dalam konsep atau pemikiran, Hegel mengatakan bahwa dunia konkret merupakan alat untuk Akal, sebagai kebalikan dari pemahaman ilmiah untuk mengenal obyek-obyeknya dengan cara memisahkan dan membagi-baginya. Ini berarti Hegel menekankan perlunya menerima realitas, tanpa tak terelakkannya mengabaikan pembagiannya dan konflik ilmiah untuk mencapai harmoni dan kesatuan sejati dalam jiwa manusia dan masyarakat. Hegel juga menolak semua keyakinan yang ada dalam ‘batas’ simptom patologi alienasi. Kesatuan sejati adalah kesatuan dalam perbedaan, tidak seperti kesatuan tanpa perbedaan sebagaimana dalam polis Yunani kuno, dan suatu negara rasional, sebagaimana dipahami para filsuf, dengan sendirinya akan menolak totalitarianisme. Sebuah negara mesti bersifat pluralistik, di samping sifatnya yang universal. Ada ‘kekuatan ajaib’ dalam negara modern yang membuatnya mampu menampung perbedaan, dan ini sangat penting mengingat dunia selalu mencari partikularitas yang menghancurkan kesatuan primitif ala polis Yunani. Inilah yang melahirkan kebebasan yang telah berkembang sepenuhnya (telah berkembang dalam segenap pengertian obyektif seperti etika, hukum, politik, dan sosial) dalam negara modem yang membuat sejarah terasa masuk akal dan perkembangannya dapat dilacak oleh para filsuf. Di balik sejarah dan negara terdapat kebebasan absolut yang abadi di bidang seni, agama dan filsafat; negara dan kebebasannya bukanlah tujuan itu sendiri.
Hegel menjelaskan sesuatu yang menjadi jalannya: Geist manusia modern, klaim mereka terhadap kebebasan dan institusi-isntitusi yang diperlukan untuk mewujudkan klaim itu. Dalam banyak hal ia mengantisipasi Max Weber yang memperhitungkan negara modem sebagai institusi umum impersonal yang tidak menjadi milik siapa pun namun semua individu bisa mengakuinya sebagai milik mereka sejauh mereka melihat adanya kepentingan di dalamnya, dan yang kemudian sering menimbulkan ketegangan antara kebebasan dan kontrol, kemerdekaan dan keteraturan. Dalam Grundlinien der Philosophie des Rechts (1821) (Philosophy of Right), Hegel menjabarkan hal ini secara rinci, jauh melebihi apa saja yang dapat ditemukan dalam karya hampir semua filsuf yang menyebut dirinya empirik. Hegel tidak merasa perlu memperluas secara berbahaya garis pandangannya ke dalam hal-hal yang bersifat kebetulan dan terikat waktu. Tapi pandangan yang mengatakan bahwa hal ini harus dihapus dari kajian ilmiah juga berlebihan. Akan tetap bermanfaat untuk mencari sebab-musabab di belakang anakronisme semacam itu. Ini cocok dengan dialektika Hegel, yang tidak berbentuk deduksi ketat ‘tesis, antitesis dan sintesis’ yang secara logika tidak kuat, melainkan terwujud sebagai cara berfikir yang konkret dan multidimensional mengenai pengalaman manusia; pemaparan Hegel tentang pengalaman semacam itu sebenarnya sederhana, namun para pengamat mengharapkan hal-hal lain sehingga itu menjadi salah satu kesulitan dalam memahami Hegel. Satu- satunya penguji adalah kejujuran pada hidup itu sendiri. Tapi setiap orang yang mendekati Philosophy of Right dengan semangat yang benar, akan dapat melihatnya sebagai sebuah ikhtisar dari arus bacaan tanpa terbentur pada kelantangan serta common sense-nya sehingga mereka akan mampu menghargai kekuatan kritiknya atas semua pemikiran abstrak mengenai kebebasan dan negara dalam bentuk sosiologis murni. Namun pemahaman yang benar mengenai Hegel membutuhkan pengetahuan yang luas akan latar belakang sejarah (yang tidak dimiliki oleh kebanyakan kritisi), sedemikian rupa sehingga seseorang dapat melakukan penyesuaian seperlunya agar sampai pada relevansinya. Karena itu, para pemula dianjurkan untuk memulai dari karangan-karangan tentang filsafat sejarah, yang oleh Hegel sendiri dirancang untuk pemula, kendati gagasan ini memiliki bahaya-bahaya sendiri. Ini bukan jalan pintas menuju filsafat Hegel, yang berupa lingkaran, di mana ujungnya ada di pangkal. Dialektika Hegel mengembalikan landasan realisme sosiologis, sebagaimana disadari oleh Marx, dan liberalisme politik akan lebih bersih dan lebih sehat jika para pendukungnya menyadari hal ini dan tak terlalu sibuk memburu kelinci-kelinci ‘totalitarian dan konservatif di pedesaan, tanpa peta yang lengkap.

MENGENAL GEORG WILHELM F. HEGEL | ok-review | 4.5