MENGENAL FRANZ BOAS

By On Monday, October 7th, 2013 Categories : Antropologi

Franz Boas yang lahir di Jerman pada 1858 dan menjadi warga-negara AS pada 1892. telah mendominasi perkembangan institusional maupun perkembangan paradigma intelektual dalam ilmu antropologi Amerika abad 20. Setelah Perang Dunia Kedua, ia mempelopori perkembangan antropologi sebagai sebuah disiplin profesional yang didasarkan pada konsep budaya, dan mendirikan subdisiplin yang mencakup antropologi budaya, fisik, dan linguistik dan juga arkeologi prasejarah. Disamping fokus perhatiannya pada profesionalisme ilmiah, Boas sendiri dididik dalam bidang (psiko) fisik di negara asalnya, Jerman, dan dengan demikian mengalami kontak dengan psikologi pedesaan {folk} Wundt dan antropolog Bastian (budaya pedesaan Eropa) dan Virchoiv (antropometri). Disertasi Boas di University of Kiel pada 1881 tentang warna air laut mendorongnya memperhatikan subyektivitas inheren pada persepsi pengamat. Karyanya di bidang geografi dengan Fiesher pada mulanya mendukung determinisme lingkungan, namun ekspedisinya ke Baffin Land, Eksimo pada 1882-3 mengarahkannya pada argumen yang lebih lunak, yang menekankan pada interaksi budaya dan lingkungan.
Boas menetap di Amerika Utara hanya pada 1887, setelah menyadari di sana ada peluang lebih besar bagi seorang mahasiswa Yahudi muda yang ambisius itu. Di tahun-tahun berikutnya ia terlibat secara krusial dalam perkembangan antropologi Amerika di pusat-pusat pertamanya. Kerangka institusional bagi munculnya Antropologi Boasian umumnya berkolaborasi dengan universitas, yang menjamin berlangsungnya pelatihan akademis untuk antropolog profesional, dan museum yang mensponsori riset dan publikasi. Boas sendiri menetap di New York, mengajar di Columbia mulai 1896 hingga 1936, Sebelumnya ia menjabat sebagai Filolog Kehormatan di Biro Etnologi Amerika yang mendomiĀ¬nasi antropologi Washington dan proyek pemerintah. Melalui F.W. Putnam dari Harvard, ia mengorganisir antropologi di Pekan Raya Dunia Chicago pada 1892 dan mengadakan jalinan dengan pusat karya arkeologi di Harvard. Para mahasiswa Boas sendiri mendirikan program-program di lain tempat, terutama Kroeber di Berkeley, Speck di Pennsylvania, dan Sapir di Ottawa. Kira-kira menjelang tahun 1920, aliran antropologi Boasian telah berdiri dengan kokoh sebagai paradigma dominan di kawasan Amerika Utara. Posisi teoritis Boas acapkali digolongkan sebagai partikularisme historis, yang mengklaim bahwa evolusi non-linear belumlah cukup sebagai model untuk menjelaskan keaneka-ragaman budaya manusia. Watak manusia didefinisikan sebagai variabel dan tradisi yang dipelajari. Kendati ia amat berminat pada perkembangan-perkembangan sejarah, Boas berpendapat bahwa perkembangannya tidak mesti mengikuti tahapan beraturan, juga tidak mesti berarah-tunggal dari yang sederhana ke kompleks. Ia bersimpangan lebih jauh lagi dari penganut teori evolusi seperti E.B. Taylor ketika ia berpendapat bahwa proses belajar budaya pada dasarnya berlangsung secara tidak sadar dan tidak rasional. Boas menyusun contoh-contoh etnografis khusus untuk mempertahankan adanya batas-batas generalisasi teoretis dalam antropologi, dan ilmu sosial pada umumnya. Hukum-hukum’ iimu sosial, sebagaimana ilmu alam, tidaklah mustahil terbentuk dalam prinsip kendati masih prematur dalam prakteknya. Generalisasi-generalisasi pokok antropologi sifatnya lebih psikologis (1991b), namun studi-studi Boas sendiri jarang mengatasi level dasar deskripsi etnografis. Mahasiswa-mahasiswanya yang belakangan, khususnya Margaret Mead dan Benedict, mengelaborasi gagasan-gagasannya yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan dan personalitas. Peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat khusus tidak bisa merekonstruksi masyarakat secara terperinci tanpa adanya catatan-catatan tertulis. Sebaliknya, Boas menekankan dimensi-dimensi sejarah dari fenomena budaya yang bersifat khusus yang secara sinkron dapat diamati. Sebagai contoh, distribusi adalah metode rekonstruksi utama yang ia pakai untuk melacak difusi (peminjaman) motif-motif foklore dan kombinasi-kombinasinya di Northwest Coast. Unsur-unsur dalam satu kebudayaan berasal dari sumber yang tersebar, bukan sumber tunggal. Boas menerapkan argumen yang sama untuk masalah linguistik, dengan berasumsi bahwa bahasa adalah bagian dari kebudayaan. Sikap skeptisnya terhadap jauhnya hubungan genetis bahasa-bahasa Indian Amerika memang sejalan dengan kekurangannya di bidang filologi Indo-Eropa, dan menyebabkannya sering berbeda pendapat dengan bekas mahasiswanya. Edward Sapir, yang karya linguistiknya lebih canggih. Di lain pihak, Boas memberi sumbangan penting kepada ilmu linguistik, dengan menjadi orang pertama yang menyusun teori tersendiri mengenai ras, bahasa dan kebudayaan sebagai variabel yang menggolongkan keragaman umat manusia (191 la), la keluar dari tradisi Indo-Eropa, karena bersikeras akan adanya ‘sisi dalam’ (inner form) (Steinthal) dalam masing-masing bahasa pada pola gramatikanya, dan mengembangkan kategori-kategori analitis baru yang cocok untuk bahasa-bahasa Indian Amerika.
Boas berpandangan bahwa pentingnya data lapangan tangan pertama dalam kebudayaan-kebudayaan yang masih hidup dan ia berulang-ulang kembali ke Kwakiult dan suku-suku North west Coast lainnya. Ia melatih informan-Informan pribumi untuk mencatat kebudayaan mereka sendiri, dan mengumpulkan teks-teks bahasa asli untuk keperluan foklore maupun linguistik. h terutama memperhatikan pencatatan kebudayaan simbolik seperti suku-suku ini. dengan berfokus pada kesenian, mitologi, agama dan bahasanya, dan ia berpengaruh dalam pengembangan disiplin-disiplin foklore dan linguistik seperti halnya dalam antropologi. Riset Boas sendiri menjangkau segenap cakupan antropologi sesuai definisinya di Amerika Utara. Di bidang arkeologi ia mempelopori pengembangan program-program riset di Meksiko dan Southwest untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan yang khusus sifatnya. Dalam antropologi fisik ia menunjukkan bahwa sisi-utama dari para imigran awal dapat berubah dalam satu generasi saja dan dengan begitu menggambarkan hakikat kelenturan dan variabilitas manusia. Lebih jauh ia mengembangkan metode-metode statistik khusus untuk studi pertumbuhan manusia, dengan menggunakan studi longitudinal dan variasi garis-keluarga untuk menunjukkan peran lingkungan dalam mengubah heriditas. Lebih jauh, Boas mengabdikan diri pada gagasan bahwa antropologi memiliki konsekuensi-konsekuensi pada masyarakat umumnya, dengan berargumen bahwa ras-ras manusia pada hakekatnya sederajat (didefinisikan dalam konteks variabilitas stastistikal), khususnya untuk merespon peristiwa Nazi Jerman, dan masing-masing pola budaya dinyatakannya absah. Oleh karena itu, Boas adalah orang yang paling berjasa memberi karakteristik pada disiplin antropologi di Amerika Utara. Selama karirnya yang panjang, ia dan para mahasiswa penerusnya mempertahankan cakupan, metode, dan teori khusus yang diterapkan terutama dalam studi tentang Indian Amerika. Antropologi Amerika Utara yang perhatian dan sub-bidangnya kian beragam sejak Perang Dunia Kedua ternyata masih menampakkan akar-akar Boas.

MENGENAL FRANZ BOAS | ok-review | 4.5