MENGENAL FERNAND BRAUDEL

By On Monday, October 7th, 2013 Categories : Filsafat

Fernand Braudel adalah salah satu ahli sejarah yang paling berpengaruh di abad keduapuluh ini. Ia adalah satu dari tiga pendiri dari apa yang disebut dengan mahzab Annates dalam ilmu sejarah di Perancis. Ia mengikuti jejak dari ahli sejarah sebelum Perang Dunia Kedua seperti Lucien Febre dan Marc Bloch dalam mengupayakan revitalisasi studi sejarah dengan memperbaiki metode-metodenya dan memperhatikan ilmu-ilmu sosial. Akan tetapi, Braudel melangkah iebih jauh daripada para pendahulu, dengan memperkenalkan konsep dan pendekatan yang benar-benar baru dalam ilmu sejarah. Dengan cara yang lebih sistematis dari pendahulunya, Braudel berusaha mengemansipasikan sejarah dari pembagian tradisionalnya menjadi sejarah politik, ekonomi, dan kebudayaan, dan mencari sejarah total suatu masyarakat. Tujuannya adalah mengintegrasikan segenap aspek masa lalu manusia. dengan titik berat pada perubahan lingkungan dan gaya hidup orang-orang awam dan masyarakat secara keseluruhan. Mau tidak mau, pendekatan ini menimbulkan penggeseran titik berat dari sejarah politik dan konstitusional, yang selama ini menjadi pusat kajian para sejarahwan, yang oleh Braudel dan pengikutnya diistilahkan sebagai ‘histoire evenementielle’. Karya Braudel yang paling penting dan terkenal, tentang dunia Mediteranian pada masa Philip II, pertama kali terbit pada 1949 dan mendapat sambutan yang luas dan hampir bisa dikatakan universal. Edisi kedua yang direvisi ulang dan telah diperluas diterbitkan pada 1966. Dalam usaha yang keras ini, Braudel melintasi segenap batas politik dan kebudayaan, sebagaimana yang ia lakukan dalam praktek dan prosedur ilmu sejarah, la berusaha menyingkap cakupan dan dampak- dampak yang luas dari keruntuhan masyarakat Mediteraian di abad keenambelas, dan ia berhasil membuat sintesis yang mengagumkan dari Ucapkah anggun atas data dan interpetasi ekonomi, demografi, kebudayaan serta politik. Tentu saja bukan keinginan Braudel untuk mengesampingkan fenomena politik, ia hanya ingin menanganinya dengan cara bani, dalam konteks kecenderungan-kecenderungan sosial-ekonomi jangka menengah dan jangka panjang. Maka salah satu tujuannya yang mendasar adalah mencari pemahaman baru mengenai pergeseran perhatian politik raja Spanyol, Philip II, dari Mediterania menuju Atlantik, sebuah perubahan kebijakan Spanyol yang terjadi pada 1580-an. Dasar pendekatan Braudel adalah kategorisasi yang ia lakukan atas proses-proses sejarah yang terjadi serempak dalam berbagai level dan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ia melihat bahwa beraneka-ragam kecenderungan itu terjadi pada tiga level, dan kadang-kadang ia mengibaratkan proses perubahan sejarah itu seperti sebuah gedung yang memiliki tiga lantai. Di tingkat paling rendah, ia menempatkan perubahan-perubahan di bidang pertanian, maritim dan lingkungan demografis yang lambat dan berjangka panjang. Di tingkat kedua. Braudel meletakkan pergeseran-pergeseran jangka menengah di bidang ekonomi dan kebudayaan, yang terjadi antara satu hingga dua abad. Terakhir, di tingkat paling atas, ia menempatkan segenap fluktuasi dan ‘peristiwa’ dalam pengertian yang lazim. Pendekatan baru terhadap sejarah ini dikembangkan lebih jauh dalam karya Braudel kedua, sebuah trilogi yang ambisius, berjudul Civilisation ma terielle et capitalisme (1967-79) (terjemahan bahasa Inggrisnya Civilization and Capitalism 1973-82), yang berkenaan dengan evolusi ekonomi dan sosial dunia sejak dari akhir Abad Pertengahan hingga revolusi industri. Kendati Braudel berpendapat bahwa faktor-faktor material adalah determinan kunci dalam perubahan sosial, dan ia tidak keberatan memakai konsep dari Marx, termasuk istilah kapitalisme yang muncul begitu jelas dalam karyanya yang belakangan, namun sistem Braudel —sebagaimana cara kerja Mazhab Annaies secara umum— pada hakekat- nya berada di luar tradisi Marx karena ia tidak menempatkan konflik kelas sebagai pusat masalah. Dalam pandangan sementara cendikia- wan, kelemahan-kelemahan pembuktian dalam karyanya yang terdahulu lebih nyata lagi terlihat pada karyanya yang belakangan. Peliputan detail yang tidak begitu hati-hati, kekeliruan yang sering terjadi dalam penyajian fakta dan interpretasi data, dan secara umum evaluasi-evaluasi yang kurang meyakinkan, telah mengurangi nilai karyanya yang terakhir ini. Sejumlah sejarawan sekarang juga melihat kelemahan serius dalam keseluruhan pendekatan Braudel, yang terdapat dalam keseluruhan auvre-nya, kecuali dua karya besarnya, termasuk sejumah besar buku-buku pendek dan esai-esainya. Secara khusus mereka merasakan bahwa cara Braudel menangani inter- kasi antara sejarah sosial-ekonomi dan politik tidaklah meyakinkan dan kurang memuaskan. Jadi, penggeseran titik-berat secara radikal yang ia lakukan atas kekuatan politik dan militer, dan dampak ‘peristiwa’ atas perkembangan sosial-ekonomi, menimbulkan sejumlah distorsi-distorsi, yang kadang-kadang besar, dalam tulisan-tulisannya.
Pengaruh gagasan Braudel dan sejauh mana pendekatannya dipakai sebagai pendekatan modern dalam studi sejarah, berbeda-beda di tiap negara, namun cukup jelas terlihat di sejumlah negara Eropa dan sebagian besar negara Amerika Latin serta di Amerika Utara. Berulangkah dinyatakan bahwa ia adalah ‘sejarawan yang masih hidup yang tak diragukan lagi kebesarannya’, namun kerap pula ia dikatakan cenderung menerima secara membabi-buta karya-karyanya telah menjadi semacam gaya di kedua belahan Atlantik. Beberapa departemen sejarah di berbagai universitas, dan sejumlah kerja sama proyek-proyek riset dan publikasi ilmu sejarah, telah memakai Braudel dan pendekatannya sebagai haluan yang mengarahkan studi mereka.

MENGENAL FERNAND BRAUDEL | ok-review | 4.5