MENGENAL CIRI PUSAT SUBJEK GAMBARAN SESEORANG

By On Wednesday, November 20th, 2013 Categories : Psikologi

Perbedaan potensial kedua ialah mengenai berarti atau tidaknya ciri tertentu pada seseorang lebih banyak ketimbang pada orang lain. Pendekatan penyamarataan hanya mengasumsi bahwa semua ciri dimasukkan ke dalam proses meskipun nilainya tidak ada. Pendekatan kognitif-perseptual mengasumsi bahwa beberapa yang melekat itu lebih-berarti , dari. ciri – lainnya. Contohnya, pasangan ciri “hangat-dingin” nampaknya diasosiasikan dengan sejumlah karakteristik lain, sedangkan pasangan “sopan-kurang sopan” pada umumnya diasosiasikan dengan lebih sedikit. karakteristik. Ciri-ciri yang banyak diasosiasikan dengan berbagai macam karakteristik dinamakan ciri pusat.
Dalam sebuah pertunjukan klasik tentang betapa pentingnya ciri pusat tersebut, Asch (1946) memberikan kepada para subjek gambaran seorang yang memiliki tujuh ciri, yakni cerdas, terampil, rajin, hangat, penuh keyakinan, praktis, dan berhati-hati. Subjek lainnya juga mendapatkan daftar serupa dengan perkecualian bahwa “hangat” diganti dengan “dingin”. Kedua kelompok kemudian diminta menggambarkan orang itu serta menunjukkan yang mana di antara pasangan berbagai ciri tersebut yang paling sesuai dengannya. Gambaran yang dihasilkan sangat berbeda. Penggantian “dingin” dengan “hangat” membuat perubahan besar terhadap orang lain tersebut. Sebaliknya, dalam kondisi lain, Asch bukan memakai pasangan “hangat-dingin” melainkan “sopan-tidak sopan”. Dia menemukan bahwa penggantian “sopan” dengan “tidak sopan” kurang sekali menunjukkan perbedaan dalam gambaran menyeluruh subjek atas orang lain tersebut.
Telaah berikut yang dilakukan oleh Kelley (1950) meniru hasil ini dalam latar belakang lebih realistis. Para mahasiswa kuliah psikologi diberi gambar dosen tamu sebelum orang itu mulai berbicara. Dalam uraian itu tercakup tujuh sifat yang serupa dengan yang dipergunakan Asch; yakni sebagian mahasiswa.menerima gambar berisi kata “hangat”, dan sebagian lainnya diberitahu bahwa pembicara itu “dingin”; dalam segi lain, daftar yang dipakai adalah sama. Dosen itu kemudian memasuki ruangan dan memimpin diskusi selama lebih kurang dua puluh menit, dan sesudah itu para mahasiswa diminta memberikan kesan mereka tentang dirinya. Seperti dalam telaah Asch, terdapat per¬bedaan besar antara kesan yang dibentuk para mahasiswa yang diberitahu bahwa dosen itu dingin. Lain daripada itu, para mahasiswa yang mengharapkan pembicara merupakan seorang yang hangat cenderung berinteraksi dengannya secara lebih bebas dan lebih banyak berbicara dengannya. Gambaran yang berbeda itu tidak saja mempengaruhi kesan para mahasiswa terhadap dosen tersebut, melainkan juga perilaku mereka terhadapnya.
Model penyamarataan disadur untuk mengendalikan fenomena semacam itu. Versi penilaian-pukul-rata mengasumsi bahwa beberapa ciri itu lebih penting daripada lainnya,, dan karena itu dinilai lebih berat. Dapat diperkirakan bahwa hangat merupakan salah satu di antaranya. Biasanya, sangat penting bagi kita untuk tahu apakah seseorang hangat atau dingin. Dan yang mungkin kurang penting ialah mengetahui apakah ia peloncat yang baik atau tidak. Jadi, kita menilai berat sekali setiap informasi kehangatan atau sikap dingin sampai pada kesan menyeluruh, dan memberikan penilaian ringan kepada informasi mengenai kemampuan meloncat. Contoh ini juga menggambarkan pandangan Asch tentang bagaimana konteks mempengaruhi arti. Dalam konteks pesta, “sikap hangat-dingin” mungkin merupakan ciri pusat, karena sedemikian pentingnya bagi kita untuk menyukai seseorang atau tidak. Tetapi dalam konteks pertandingan basket atau Olimpiade, “sikap hangat-dingin” tidak sangat pokok, dan kemampuan meloncat mungkin akan dinilai lebih berat.

MENGENAL CIRI PUSAT SUBJEK GAMBARAN SESEORANG | ok-review | 4.5