MENGENAL BOVEN DIGUL

By On Friday, February 21st, 2014 Categories : Antropologi

Digul Atas, adalah tempat pengasingan di tepi Sungai Digul Hilir, Irian Jaya, yang dipersiapkan dengan tergesa-gesa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menampung tawanan pemberontakan PKI pada tahun 1926. Boven Digul kemudian digunakan pula sebagai tempat pembuangan pemimpin-pemimpin pergerakan nasional. Jumlah tawanan yang dibuang ke Boven Digul 1.308 orang. Tokoh-tokoh pergerakan nasional yang pernah dibuang ke sana antara lain Sayuti Melik (1927-1938), Moh. Hatta (1935-1936), Muchtar Lutfi, Ilyas Yacub (tokoh Permi dan PSII Minangkabau).
Luas Boven Digul sekitar 10.000 hektar. Daerah ini berawa-rawa, berhutan lebat, dan sama sekali terasjrjg. Hubungan ke daerah lain sulit kecuali melalui laut. Berbagai suku Irian yang masih primitif berdiam di sepanjang tepian sungai. Karena belum tersedu sarana kesehatan, penyakit menular sering berjangkit. Penyakit malaria membawa banyak korban dengan serangan demam kencing hitamnya. Sebagai contoh, Ali Arkham meninggal karena penyakit ini.
Tempat pembuangan pejuang kemerdekaan itu terbagi atas empat bagian, yakni Tanah Merah, Gunung Arang (tempat penyimpanan batu bara), zone militer (yang juga menjadi tempat para petugas pemerintah), dan Tanah Tinggi. Sewaktu rombongan pertama datang, Digul sama sekali belum merupakan daerah pemukiman. Merekalah yang dipaksa menebangi hutan dan menyediakan lahan bagi tempat pemukiman.
Rombongan pertama sebanyak 1.300 orang, sebagian besar dari Pulau Jawa, diberangkatkan pada bulan Januari 1927. Dan akhir Maret 1927 menyusul rombongan lain dari Sumatra; jumlahnya ratusan orang. Mula-mula mereka ditempatkan di Tanah Merah; dua tahun kemudian, setelah melalui seleksi ketat, sebagian dipindahkan ke Tanah Tinggi.
Pada tahun-tahun pertama, ratusan orang meninggal karena kelaparan atau penyakit. Penderitaan ini menyebabkan banyak orang buangan mencoba lari ke Australia. Mereka menggunakan perahu-perahu kecil buatan sendiri, tetapi sedikit saja yang berhasil. Sebagian terpaksa kembali, lainnya mati tenggelam. Selain itu, muara sungai dijaga oleh kapal Belanda, sementara orang Irian, ketika itu, menunjukkan sikap tidak bersahabat.
Pada waktu Perang Pasifik meletus, tawanan Boven Digul diungsikan oleh Belanda ke Australia. Setelah Sekutu memperoleh kemenangan, mereka kembali atau dikembalikan ke tempat asal di Indonesia. Untuk memperingati para pejuang yang gugur, di Digul didirikan sebuah monumen.

MENGENAL BOVEN DIGUL | ok-review | 4.5