MENGENAL BATARA KALA

By On Sunday, April 6th, 2014 Categories : Budaya

MENGENAL BATARA KALA – Dewa putra Batara Guru (Dewa Siwa) yang berwujud fisik raksasa. Dalam pakem pe­dalangan diceritakan bahwa suatu ketika Batara Guru tengah bercengkerama dengan permaisurinya yang sangat cantik, yaitu Dewi Uma. Mereka terbang di atas samudera dengan lembu tunggangan bernama Lembu Andini. Di atas samudera itu Batara Guru me­lihat permaisurinya sangat menggairahkan sehingga timbul hasratnya untuk bersetubuh. Tetapi hal itu ti­dak berkenan di hati Dewi Uma, sehingga benih Ba­tara Guru jatuh di tengah samudera. Benih yang terjatuh itu kemudian berubah menjadi api yang ber­kobar-kobar dan tidak dapat dipadamkan. Sekalipun para dewa menggunakan kesaktiannya, mereka tidak berhasil memadamkan api tersebut. Segala macam senjata yang ditujukan kepadanya masuk ke dalam ji­wanya dan makin menambah kesaktiannya. Kemu­dian api itu berubah menjadi makhluk yang makin lama makin besar bentuknya, dan akhirnya menjadi seorang raksasa yang tidak terhingga besarnya.
Raksasa ini kemudian naik menuju Suralaya, tem­pat para dewa bersemayam, untuk menanyakan siapa­kah ayahnya. Di tempat itu ia bertemu dengan Batara Guru dan menyatakan maksud kedatangannya. Batara Guru mengakui putranya dan memberinya nama Ba­tara Kala. Dalam cerita wayang Purwa disebutkan ju­ga bahwa Batara Guru mencabut kedua caling putranya untuk mengurangi kesaktiannya. Caling itu kemudian menjadi senjata kaum Pendawa, yang ber­bentuk keris. Batara Kala juga diberitahu makanan­nya, yaitu bermacam-macam manusia yang termasuk golongan anak sukerta. Kata sukerta berasal dari kata suker yang artinya kotor, atau dalam keadaan tidak bersih. Setelah itu, Batara Kala dititahkan untuk ting­gal di Danau Madirda (Nusakambangan), dan diberi istri yang bernama Dewi Durga. Batara Kala segera diminta turun ke bumi untuk mencari mangsanya yang telah ditunjuk, yaitu manusia-manusia sukerta.
Sepeninggal Batara Kala, Batara Guru sadar bahwa jumlah manusia yang disebutkannya tadi terlalu ba­nyak, sehingga apabila tidak dihalangi mungkin ma­nusia akan punah dari muka bumi. Batara Guru kemudian memerintahkan Batara Narada agar menu­gaskan Batara Wisnu untuk menjadi dalang guna membatalkan perintah yang telah diberikan kepada Batara Kala. Batara Narada ditugaskan sebagai pan- jak (penyanyi), Batara Brahma sebagai penabuh gen­der (salah satu alat gamelan). Ketiga dewa yang turun ke bumi ini dipimpin Batara Wisnu dengan nama Da­lang Kandabuana, yang bertugas meruwat manusia- manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan Batara Kala, sehingga mereka bisa diselamatkan.
Diceritakan pula bahwa pada waktu itu ada seorang janda di desa Mendangkawit, bernama Sumawit. Ia mempunyai seorang anak tunggal laki-laki menjelang remaja bernama Joko Jatusmati. Suatu hari, Joko Jatusmati disuruh oleh ibunya untuk mandi di Danau Madirda. Karena patuh kepada perintah ibunya, ia berangkat menuju danau yang ditunjuk. Sesampainya di danau itu, ia berjumpa dengan Batara Kala. Batara Kala minta kesediaan pemuda itu untuk dimakan, ka­rena ia termasuk manusia yang menjadi mangsanya. Sadar akan bahaya yang mengancamnya, Joko Ja­tusmati segera melarikan diri. Batara Kala menge­jarnya. Ia bersembunyi di antara orang-orang yang sedang mendirikan rumah, tetapi dikejar oleh Batara Kala. Kejar-mengejar terjadi di tempat pembangunan rumah itu, sehingga rumah itu roboh. Pemuda itu ke­mudian lari dan bersembunyi di tempat orang yang sedang membuat jamu dengan menggunakan pipisan (anak batu giling). Di sini pun ia ditemukan oleh Ba­tara Kala. Dalam usahanya untuk menghindarkan diri, ia terantuk pipisan dan pipisan itu patah. Selanjutnya ia bersembunyi di dapur yang tengah digunakan untuk menanak nasi. Di sini pun terjadi kejar-mengejar, sehingga dandang (periuk tempat mengukus nasi) ro­boh. Joko Jatusmati lari ke luar dapur melalui hala­man depan rumah. Batara kala segera mengejarnya, namun ia terjatuh karena kakinya terlilit oleh batang waluh yang kebetulan ditanam di halaman itu. Batara Kala kehilangan jejak calon mangsanya.
Cerita lain menggambarkan keadaan di desa Mendangkamulan. Di desa itu terdapat seorang anak laki-laki bernama Buyut Wangkeng, yang mempu­nyai seorang anak wanita tunggal bernama Rara Pri- pih yang baru saja menikah. Namun pasangan suami-istri muda ini tidak pernah akur, sehingga Rara Pripih meminta kepada ayahnya agar ia segera dice­raikan dari suaminya. Sang ayah tidak menyetujui usul anaknya, dan meminta si anak membatalkan niat­nya. Si anak menyetujui saran ayahnya, dengan suatu permohonan agar diadakan pertunjukan wayang. Buyut Wangkeng segera menyuruh menantunya men­carikan dalang yang bersedia mempergelarkan per­tunjukan wayang untuk meruwat anaknya, dan dipanggillah Dalang Kandabuana. Banyak orang yang datang melihat pertunjukan itu, termasuk Joko Jatusmati dan Batara Kala. Di dalam pergelarannya, dalang ini mengucapkan bermacam-macam mantra dan membaca tulisan yang terdapat pajda tubuh Batara Kala yang bisa melemahkan segala kesaktian Batara Kala. Hal ini dilakukannya atas perintkh Dewa Siwa atau Batara Guru.
Akhirnya Dalang Kandabuanjk, yang\merupakan penjelmaan Batara Wisnu, dapat menyelesaikan tugasnya, yaitu menghalangi Batara Kala yang me­ngejar-ngejar manusia calon mangsanya. Bahkan Ba­tara Kala dapat dihalau kembali ke tempatnya semula.
Para anak buah dan pengikutnya yang berupa kela­bang, kalajengking, dsb., dapat dimusnahkan dengan mengucapkan mantra-mantra itu, dan bumi pun men­jadi aman serta damai kembali. Ketika hendak kem­bali ke tempat asalnya, Batara Kala, Dewi Durga, dan para pengikutnya yang lain meminta bagian dari sa­jian yang telah disediakan. Dewa atau Batara Kala meminta batang pisang, itik, entok, dan burung mer­pati, sedangkan Dewi Durga minta kain sindur dan bangun tulak. Dengan demikian, sebagai unsur pokok upacara ruwatan selanjutnya, selain sajian yang ber­macam-macam, orang harus juga mempergelarkan wayang Purwa dengan lakon Murwakala, yaitu ten­tang riwayat kehidupan Batara Kala.
Dari mitologi tersebut, orang Jawa pada khususnya mempunyai kepercayaan untuk meruwat anak atau orang yang tergolong anak sukerta, agar terhindar dari bahaya atau bencana dalam hidupnya. Yang termasuk orang sukerta, antara lain: (1) anak tunggal, pria atau wanita (ontang-anting atau unting-unting); (2) anak yang lahir tanpa tembuni (lumunting); (3) anak empat bersaudara yang terdiri atas perempuan semua (sarim- p i) atau laki-laki semua (saramba); (4) anak lima ber­saudara yang wanita semua atau laki-laki semua {pandhawi atau pandhawa); (5) anak lima bersaudara yang terdiri atas empat pria dan seorang wanita {pan­dawa madangke) atau empat wanita dan seorang pria (pandawa ipil-ipil)\ (6) anak dua orang laki-laki se­mua atau wanita semua (uger-uger atau kembang se­pasang); (7) anak dua orang, seorang pria dan seorang wanita (gedana-gedini); (8) anak tiga orang, dengan urutan pria, wanita, pria {sendang kaapit pancuran), atau sebaliknya wanita, pria, wanita {pancuran kaapit sendang).
Selain itu, menurut kepercayaan orang Jawa ada beberapa hal lain yang harus dilakukan atau di­pantangkan agar terhindar dari kala, yang artinya ben­cana, yaitu: (1) tidak boleh membiarkan bambu yang tidak beruas tetap tinggal utuh {pring wung-wung); (2) tidak boleh menanam pohon waluh di halaman de­pan rumah; (3) tidak boleh membiarkan rumah yang tengah dibangun tanpa tutup keyong\ (4) tidak boleh duduk di muka pintu bagi anak gadis; (5) tidak boleh membuang kutu yang masih hidup; (6) tidak boleh meninggalkan beras dalam lesung; (7) tidak boleh be­pergian jauh seorang diri (jisim lumampah), atau ber­dua saja {batang ucap-ucap), atau bertiga {gotong mayit)-, (8) menjaga agar rumah yang telah dibangun tidak roboh.
Menurut kepercayaan orang Jawa, hal-hal di atas merupakan penghalang Batara Kala ketika mengejar mangsanya, sehingga mangsanya itu bisa terlepas dari bahaya maut. Karena itulah Batara Kala waktu itu mengeluarkan peringatan bagi umat manusia untuk ti­dak melakukan hal-hal yang menghalanginya.
Selain orang Jawa, masyarakat Bali juga percaya akan adanya bencana yang disebabkan oleh Batara Kala, yang mereka sebut Buta Kala. Menurut keper­cayaan orang Bali, Buta Kala merupakan pesuruh de­wa yang kedudukannya lebih rendah daripada dewa umumnya, karena ia berasal dari dunia bawah. Buta Kala mempunyai sifat tidak baik, selalu memusuhi manusia, selalu membawa bencana bagi manusia, dan selalu mengganggu manusia kalau manusia tidak me­nyediakan sajian khusus untuknya. Oleh sebab itu, orang Bali selalu menyediakan sajian khusus, yang di­sebut mecaru untuk Buta Kala. Selain itu, pada setiap tilem atau bulan genap, dibuatkan sajian besar untuk­nya pada upacara Mecaru Besar.

MENGENAL BATARA KALA | ok-review | 4.5