MENGENAL AUGUSTE COMTE

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Sosiologi

Auguste Comte adalah filsuf dan ilmuwan sosial terkemuka yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu kemasyarakatan atau sosiologi. Seperti diisyaratkan oleh motto aliran pemikirannya, yakni “ketertiban dan kemajuan”, kunci pemikiran dalam berbagai riset dan pemikirannya adalah prinsip-prinsip penciptaan ketertiban kultural dan politik demi mengembangkan dan memajukan masyarakat. Comte lahir di kota Montpellier di Perancis selatan dari keluarga kelas menengah konservatif. Comte menerima didikan ilmiah yang baik di Ecole Polythecnique di Paris, sebuah pusat pendidikan berhaluan liberal. Dari tahun 1817 hingga 1824, Comte bekerjasama dengan tokoh radikal Henry De Saint-Simon yang memberinya banyak pengaruh intelektual. Semakin matang pemikirannya, Comte justru kian kehilangan kepercayaan pada agama katolik yang dianutnya. Comte mengembangkan gagasan-gagasan seperti yang dianut oleh pemikir konservatif Joseph De Maistre, dan kemudian mencoba memadukan gagasannya dengan model-model pemikiran ala katolik abad pertengahan yang kemudian dikenal dengan sebutan “agama kemanusiaan” (religion of humanity). Tulisan-tulisan Comte dapat dibagi menjadi dua tahapan yang masing-masing lebih mencerminkan aspek-aspek yang berbeda dari visi tunggalnya mengenai masyarakat dan pengetahuan, ketimbang perubahan penekanan fundamentalnya. Tahapan pertama dapat diwakili oleh tulisan Comte yang menonjol yang terdiri dari enam jilid yakni Courde philosophie positive (1830-42) yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Positive Philosophy of Auguste Comte, 1896). Kumpulan tulisan ini merupakan landasan ilmu pengetahuan epistemologis. Dalam karya berikutnya, terutama Discours surl’esprit positif (1884) atau Discourse on the Positive Spirit; Systeme de politique positive (1848-54) atau System of Positive Polity (1875-77), serta Catechism of Positive Religion (1858), Comte merumuskan suatu cetak biru bagi tatanan sosial yang baru, termasuk “agama kemanusiaan” yang diyakininya merupakan landasan etik. Bagi Comte “positivisme” bukan semata-mata doktrin ilmu alam yang juga merupakan rute pengembangan ilmu sosial dan humaniora namun juga merupakan sumber nilai bagi reorganisasi sosial. “Sosiologi” pada dasarnya ilmu pengetahuan yang mencoba mencerna hal tersebut. Dalam Cours Comte mengemukakan “hukum tiga tahapan” yang terkenal itu. Comte menyatakan bahwa pikiran manusia pada awalnya bersifat teologis karena selalu beroperasi menggunakan idiom kekuatan-kekuatan spritual. Pada perkembangan selanjutnya, yakni pada tahap pencerahan, pikiran manusia berkembang ke tahap “metafisik” yang secara umum bersifat negatif. Yang terakhir, pikiran manusia akan berkembang lagi sehingga mampu menangkap hubungan kausalitas antara berbagai fenomena dan pada tahap itulah pikiran manusia mencapai tahapan ilmiah atau “positif”. Ketiga tahapan tersebut juga erat kaitannya dengan berbagai karakteristik dan kelembagaan sosial dan politik yang ada. Setiap ilmu pengetahuan berkembang melalui pola-pola yang sama, yang kemudian berpuncak pada tahapan positif, ilmu matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi dan sosiologi juga berkembang melalui pola-pola yang sama.
Pandangan Comte atas sosiologi sangat programatis. Ia berpendapat bahwa sesungguhnya analisis untuk membedakan “statika dan “dinamika sosial, analisis masyarakat sebagai suatu sistem yang saling tergantung haruslah didasarkan pada konsensus. Terlepas dan keraguan religiusnya, Comte memberikan pemikiran-pemikiran yang jernih. J.S. Mill memperkenalkan karyanya dalam bahasa Inggris, pada masa ketika filsafat positif berkembang sebagai tandingan individualisme liberal ekstrim. Istilah-istilah Comte pun dipakai secara luas dan bahkan Spencer yang berbeda haluan dengannya juga menggunakan istlah “sosiologi . Meskipun karya-karyanya jarang dibaca saat ini. paradigma fungsionalis dan paradigma ilmiah alamiah yang dirumuskan oleh Comte tetap memberi warna menonjol dalam sosiologi dewasa ini.

MENGENAL AUGUSTE COMTE | ok-review | 4.5