MENGENAL ATRIBUSI SEBAB-AKIBAT

By On Friday, November 22nd, 2013 Categories : Psikologi

Secara menyeluruh, penemuan riset nampaknya mengikuti pola yang digambarkan prinsip kovariasi dan prinsip keraguan. Kelihatannya manusia meninjau kembali informasi yang mereka peroleh tentang perilaku mereka sendiri, atau perilaku orang lain, dan mengatribusikannya kepada penyebab intern atau ekstern, tergantung dari informasi yang diterima. Jika terdapat bukti yang kuat tentang sifat intern, maka dibuatlah atribusi intern. Jika terbukti bahwa tidak terdapat penyebab intern atau hanya penyebab yang lemah saja, maka dengan bukti paksaan ekstern dibuatlah atribusi ekstern.
Harold Kelley telah menganalisis atribusi yang paling formal dan dapat dipahami, yang dinamakannya model ko variasi. Sudah kita lihat di muka bahwa prinsip kovariasi mengemukakan bahwa “Pengaruh yang ada diatribusikan kepada kondisi yang ada ketika terjadi pengaruh tersebut dan yang tidak ada ketika pengaruh tadi juga tidak ada” (1967, hal. 194). Namun Kelley memperdalam analisisnya untuk mengkhususkan bahwa manusia menggunakan tiga jenis informasi tertentu agar sampai kepada atribusi sebab-akibat. Hal itu diteliti guna melihat apakah terdapat pengaruh yang sama atau tidak atasV(l) sasaran stimulusM2) aktor (manusia), danL(3)Tton-teks. Ini mungkin paling mudah dipahami dengan memakai contoh sederhana. Andaikata teman kita Susi datang ke tempat kerja suatu hari dan mengatakan bahwa semalam dia telah mengunjungi klub malam di wilayahnya. Dia bercerita bahwa acara pertunjukannya adalah lawak. Bahwa dia telah tertawa terpingkal-pingkal atas lawakannya, dan menganggap bahwa pelawak merupakan orang terlucu yang pernah ditontonnya, dan bahwa kita harus melihat pertunjukan tersebut.
Kita menghendaki atribusi sebab-akibat atas tawa gelinya. Jika penyebabnya adalah karena pelawak itu memang benar-benar sangat lucu, maka kita harus menuruti nasehatnya. Tetapi jika memang Susi agak aneh, atau situasi malam itu yang istimewa, maka kita pasti enggan untuk pergi menonton. Artinya, kita berusaha memutuskan apakah perilaku Susi disebabkan sesuatu yang istimewa atas sasaran stimulus (pelawak), pada sang aktor (Susi), atau kepada konteksnya (orang-orang yang berada bersamanya, minuman dan sebagainya).
Kelley menyatakan bahwa kita harus mencari atribusi dengan meneliti setiap dimensi secara bergantian. Ini menyangkut pemberian jawaban terhadap tiga pertanyaan, yakni: (1) Apakah perilaku itu khusus bagi sasaran stimulus tertentu? Apakah Susi selalu mentertawakan setiap pelawak, ataukah ia hanya khusus tertawa keras-keras bagi pelawak yang satu ini? (2) Apakah perilaku tersebut khusus bagi seorang aktor tertentu? Pernahkah kita mendengar laporan serupa dari orang lain, atau apakah Susi satu-satunya yang mentertawakan pelawak tertentu ini? (3) Apakah perilaku itu khusus bagi konteks atau keadaan tertentu? Apakah dia tertawa setiap menonton pelawak itu, atau dia kebetulan tertawa malam itu ketika tempat pertunjukan penuh penonton dan dia berada bersama sahabat karibnya serta minum lebih banyak dari biasanya.
Teori Kelley menyatakan bahwa manusia menggunakan ketiga macam informasi ini guna dapat sampai kepada atribusi sebab akibat, yakni:
(1) Informasi yang jelas (distinctive). Apakah tindakan seseorang yang sedemikian hanya berkaitan dengan sasaran stimulus ini, dan bukan sehubungan dengan sasaran lain?
(2) Informasi berdasar konsensus. Apakah orang lain bertindak serupa dalam situasi seperti ini? Apakah orang lain juga menyukai pelawak tersebut?
(3) Informasi yang konsisten. Apakah orang ini secara konsisten bereaksi dengan cara yang sama di waktu-waktu lain atau dalam situasi lain? Apakah Susi memberikan reaksi secara demikian kepada pelawak tersebut hanya satu kali ini saja?
Kelley menghipotesiskan bahwa proses tersebut terjadi jika kita mengatribusikan pengaruh tertentu atas penyebab tertentu. Dengan cepat kita meninjau simpanan informasi kita tentang ketiga dimensi ini. Tinjauan tersebut lebih dapat bersifat implisit dan otomatis daripada penuh kesengajaan dan kesadaran, namun kita tetap meninjau apa yang kita ketahui. Untuk membuat atribusi ekstern yakni, apakah kemampuan melawak sang pelawak merupakan penyebab sebenarnya dari gelak tawa Susi, maka harus dilalui ketiga ujian itu secara pantas, yaitu dengan: sangat jelas, konsensus penuh, dan konsistensi tinggi. Reaksi yang diambilnya harus jelas bagi sang pelawak dan bukan bagi orang lain; orang lain harus menyukai sang pelawak; dan dia harus menyukai sang pelawak secara konsisten dalam situasi ini maupun situasi lainnya.
Untuk membuat atribusi intern yaitu, untuk mengatribusikan ketawa gelinya kepada disposisi umumnya untuk men tertawakan segala sesuatu, maka harus terdapat kejelasan rendah, konsensus rendah, dan konsistensi tinggi. Dia mentertawakan semua pelawak sedangkan orang lain tidak, dan dia tertawa di sembarang tempat setiap saat. Mc Arthur (1972) membuat telaah sistimatik yang pertama tentang ramalan Kelley. Ia menghadapkan peristiwa hipotetik kepada para subjek, yang bervariasi dakm jenis konsensus, kejelasan, dan konsistensi informasi yang dapat mereka kumpulkan, kemudian mengukur atribusinya. Kondisi pertamanya sama, dan meningkatkan atribusi sasaran sendiri karena dia telah berhasil dalam ketiga ujian yang diadakan. Semua orang juga tertawa, Susi tidak mentertawakan pemain mana pun, namun dia selalu mentertawakan pemain yang seorang ini. Jadi, jelas dia adalah seorang pelawak yang lucu. Umumnya para subjek juga berpandangan demikian; dengan mendapatkan pola informasi ini, maka 61 persen mengatribusikan reaksi mereka kepada sang pelawak (yang 39 persen membuat atribusi lain).
Kondisi kedua menjuruskan para pengamat untuk membuat atribusi terhadap seseorang: yaitu, Susi mentertawakan setiap pelawak “dan selalu mentertawakan pelawak yang satu ini— namun hampir tidak seorang pun turut tertawa. Pastilah Susi seorang yang mudah geli (86%). Kondisi-ketiga mengarahkan kita un- tuk berpikir bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam konteks: yakni, dia tidak mentertawakan siapa pun juga, dia hampir tidak mentertawakannya sebelum ini, dan hampir tidak seorang pun tertawa. Pastilah telah terjadi sesuatu yang unik. Dan 72 persen telah mengatribusikan tawanya kepada keadaan khusus tersebut.

MENGENAL ATRIBUSI SEBAB-AKIBAT | ok-review | 4.5