MENGATASI PERSETERUAN

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Antropologi

Di berbagai masyarakat pra industri, ada tiga tingkatan perseteruan yang berkonsekuensi pertumpahan darah. Pada tingkat yang lebih intim, perseteruan berlangsung di lingkungan keluarga atau lingkungan pemukiman terdekat, yang nafsu pembunuhannya semata-mata muncul atas dasar alasan mistik atau tahyul atau karena sesuatu hal yang diyakini bisa merusak fondasi yang paling mendasar dari hubungan kekerabatan di lingkungan yang bersangkutan. Sedangkan pada tingkatan yang luas, seperti dalam perang, perseteruan dan pembunuhan dilakukan di luar kerangka tatanan sosial, dan norma-norma moral tidak berlaku di sini. Di antara kedua tingkatan tersebut terdapat pratek pembunuhan yang cenderung dimaksudkan untuk menumbuhkan kesan atau motivasi tertentu di kalangan orang-orang terdekat. Perseteruan biasanya merupakan dampak terjadinya suatu kematian yang membangkitkan perasaan sakit hati dan dendam berdarah dari suatu kelompok terhadap kelompok lain. Dendam ini harus diselesaikan namun tidak selamanya harus dengan pertumpahan darah, karena bisa pula diselesaikan dengan mekanisme tertentu seperti pembayaran kompensasi.
Jika mekanisme itu yang digunakan, maka biasanya pihak ketiga dilibatkan sebagai perantara, yakni mereka tidak memiliki kaitan langsung dalam konflik itu. Dalam prakteknya penyelesaian secara tuntas seringkah sulit dilakukan karena perasaan dendam memang tidak mudah dihapuskan begitu saja. Hubungan antara perseteruan dan aliansi (antara lain melalui pernikahan) merupakan suatu topik kajian yang menarik. Keduanya sesungguhnya merupakan institusi perantara utama yang memicu dan meredam pertumpahan darah. Urusan dendam ini tidak hanya menyangkut hubungan antara pembunuh dengan yang terbunuh, dan aliansi pernikahan juga demikian karena kepentingan-kepentingan yang dilibatkannya bukan sekedar menyangkut dua orang yang menjadi suami dan istri, melainkan juga segenap anggota keluarga besar dari kedua belah pihak. Inisiasi pernikahan dan pembalasan dendam agak mirip, di mana keduanya harus dilakukan melalui serangkaian negosiasi panjang yang kemudian diakhiri dan disegel dengan pembayaran kompensasi. Keduanya juga cenderung bersifat permanen. Transformasi struktural antara kedua institusi tersebut merupakan pijakan dari berbagai bentuk hubungan sosial. Keduanya bahkan bisa dipandang sebagai dua sisi dari koin yang sama di mana yang satu menawarkan hubungan kekerabatan sedangkan yang lain menawarkan ancaman. Jika yang satu menopang reproduksi, maka yang lain justru mengancam akan menghentikannya. Tinjauan ini telah dirangkum oleh Blake Michaud (1975) yang mengatakan: “keduanya merupakan dua aspek dari proses yang sama. Ketidakjelasan yang terkandung dalam aliansi pernikahan acapkali mengakibatkan pembalasan dendam, sedangkan untuk menyelesaikan perbatasan dendam institusi pernikahan seringkah terpilih untuk digunakan. Dalam prakteknya, pernikahan yang dimaksud untuk mengubur kenangan dan rasa sakit hati akibat Kemauan orang cenderung langgeng berbarengan dengan perasaan dendam itu sendiri. Daiam kondisi seperti ini, pertumpahan darah merupakan bentuk penyelesaian yang paling tuntas, sedangkan bentuk-bentuk penyelesaian lainnya sekedar merupakan satu gencatan senjata”.

MENGATASI PERSETERUAN | ok-review | 4.5