MENGATASI PERASAAN KESEPIAN

By On Tuesday, November 12th, 2013 Categories : Psikologi

Lansia adalah tahap terakhir dari perkembangan manusia, tahap yang dimulai sejak usia 50 tahun. Periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat. Bila dilihat berdasarkan usia kronologisnya, maka banyak para ahli menyebutkan bahwa lanjut usia dimulai pada usia 65 tahun, sedangkan menurut Burnside lanjut usia terjadi pada usia 60 tahun sampai meninggal. Siklus kehidupan lansia ditandai dengan berbagai peristiwa. Dimulai dengan peristiwa pensiun, kematian salah satu pasangan hidup dan diakhiri dengan kematian si lansia sendiri. Pada saat seseorang berada pada masa lanjut usia, lansia dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa dihindari, yaitu menjadi tua dan akhirnya hanya bisa menerima kenyataan tanpa bisa berbuat apa-apa. Kn’sis yang dialami lansia kerapkali isebabkan oleh adanya protes dari dalam batin manusia sendiri yang sudah sekian lama terkurung dalam benteng yang dibangunnya. Setiap orang dihadapkan pada  keterbatasannya setelah menyadari kemunduran-kemunduran fisik akibat proses menjadi tua. Masa pensiun tidak dapat dielakan lagi, sementara gejala-gejala memasuki senja kehidupan mulai tampak, seperti tubuh yang makin lemah dimakan usia, penyakit yang kian mudah menyerang dan menggerogoti sendi-sendi kehidupan, mundurnya kekuatan serta daya ingat dan akhirnya kematian sebagai kesudahannya (Hulme, 2000:38).
Di zaman sekarang yang bercirikan “budaya muda”, setiap individu perlu tetap muda atau sekurang-kurangnya berusaha tampil tetap muda. Akan tetapi penipuan diri yang kosong ini tidak dapat mengubah kenyataan bahwa siapapun secara pelan-pelan menjadi lanjut usia, dan akhirnya menghadapi krisis lanjut usia. Orientasi pada budaya muda itu mempersulit orang dalam proses menjadi lanjut usia dengan rasa bahagia, sebab lansia hanya mendapat sedikit pengertian dan bantuan dari masyarakat dalam menghadapi krisis masa transisi itu. Kenyataan hidup amat pahit yang harus dihadapi lansia adalah menghadapi peristiwa kematian dan kehilangan pasangan hidup atau teman-teman, namun hal ini tidak dapat dihindari oleh satu orang manusiapun. Kehilangan pasangan hidup memang menimbulkan masalah-masalah baru bagi lansia pria maupun wanita. Menurut Hurlock (1975:130) proses penyesuaian kehilangan pasangan hidup akan bertambah sulit dimasa tua dan dapat menimbulkan perasaan kesepian (loneliness) pada diri lansia. Peplau dan Perlman (1982:192) mengatakan, kesepian merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan yang terjadi pada saat jaringan hubungan sosial seseorang menurun, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Lansia dan kesepian adalah dua hal yang saling berkaitan erat satu sama lain dan menjadi per-masalahan yang amat perlu diperhatikan. Kesepian berbeda dengan kesendirian. Kesendirian yaitu suatu keadaan dimana seseorang tidak bersama dengan orang lain. Seseorang dapat merasa sepi walaupun sedang tidak sendirian, akan tetapi dapat juga merasa sendiri, tetapi tidak sepi. Kesepian pada lansia juga dfpengaruhi oleh kebahagiaan terhadap keadaan rumahnya, Bagi lansia yang menyukai tempat tinggalnya, sedikit yang merasa kesepian. Banyak kasus- kasus kesepian ditemukan pada lansia yang pindah tempat tinggal bukan karena keinginan sendiri. Lansia dengan ekonomi rendah cenderung mempunyai masalah kesepian lebih tinggi. Pada umumnya para lansia menikmati hari tuanya dilingkungan keluarga. Hal ini disesuaikan dengan nilai budaya bangsa yang ada, dimana orangtua yang telah berusia lanjut harus dihormati, dihargai, dan dibahagiakan. Bahkan dalam tuntutan agama, orang yang lebih muda dianjurkan untuk menghormati dan bertanggung jawab atas kesejahteraan orang yang lebih tua, khususnya orang tua sendiri (Depsos RI, 1997). Padahal dengan kehidupan masyarakat seperti sekarang ini, dimana masing-masing orang tentu mempunyai urusan/ pekerjaannya sendiri, komunikasi dan keakraban dalam kehidupan keluarga akan menurun intensitasnya. Akibatnya harapan dari orang- orang lanjut usia untuk mendapatkan kehangatan dan kasih sayang serta perhatian dari keluarganya mungkin tidak dapat tercapai. Dengan kondisi seperti ini, maka para lansia berusaha mencari jalan lain untuk dapat terus berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Hal ini membuat para lansia mencari alternatif tempat tinggal lain, yaitu panti werdha. Panti werdha adalah suatu unit pelaksanaan teknis dibidang pembinaan kesejahteraan sosial bagi para lanjut usia, berupa pemberian penampungan, jaminan hidup seperti makan dan pakaian, pemeliharaan kesehatan, pengisian waktu luang termasuk rekreasi, bimbingan sosial, mental serta agama, sehingga lansia dapat menikmati hari tuanya dengan diliputi ketentraman lahir dan batin (Direktorat Bina Kesejahteraan Anak, Keluarga, dan Lansia.Dep Sos, 1993: 3). Untuk mengatasi masalah kesepian yang dihadapi oleh lansia tentu diperlukan usaha yang disebut dengan strategi coping. Lazarus (1976:74) menggunakan coping sebagai istilah lain dari penyesuaian diri, hanya saja konsep penyesuaian lebih luas dan mengarah pada seluruh reaksi individu terhadap lingkungan dan tuntutan internal, coping lebih mengarah pada apa yang dilakukan individu untuk mengatasi situasi stress atau tuntutan yang membebani secara emosional. Menurut Lazarus dan Folkman, coping merupakan perubahan kognitif dan perilaku yang berlangsung terus menerus untuk mengatasi tuntutan eksternal dan internal yang dinilai sebagai beban atau melampaui sumber daya individu dan dapat membahayakan well-beingnya (keberadaannya). Dari pengertian tersebut, dapat dijelaskan bahwa coping lebih merupakan suatu proses daripada trait dan juga menjelaskan adanya perbedaan coping dengan perilaku otomatis, dengan membatasi coping pada tuntutan yang dinilai membebani individu. Strategi coping yang digunakan adalah Problem Focused Coping dan Emotional Focused Coping. Dalam Problem Focused Coping individu akan berusaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, sehingga individu segera terbebas dari masalah tersebut. Sedangkan dalam Emotional Focused Coping, yang dilakukan individu hanyalah meredakan emosi yang ditimbulkan oleh stressor (sumber stress). Bagi para lansia yang tinggal dipanti werdha tentu mempunyai caranya sendiri untuk mengatasi perasaan kesepiannya, begitu pula dengan para lansia yang tinggal dirumah. Adanya perbedaan tempat tinggal inilah yang membuat penulis ingin meneliti strategi coping yang digunakan oleh masing-masing lansia berkaitan dengan tempat tinggal. Dengan demikian permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah : apakah ada perbedaan perasaan kesepian antara lansia yang tinggal dipanti werdha dan dirumah ?

MENGATASI PERASAAN KESEPIAN | ok-review | 4.5