MENGATASI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Antropologi

Ada tiga periode historis di mana kekerasan dalam rumah tangga menjadi masalah publik yang diperdebatkan seru, dan ditanggapi secara serius oleh kalangan reformis dan lembaga-lembaga negara: 1870-an, 1910-an, dan 1970-an hingga sekarang. Pada setiap periode ini, perdebatan berlangsung hangat, berbagai macam data dikumpulkan dan dianalisis, aneka rupa penjelasan dikemukakan, dan kebijakan-kebijakan reformasi dicanangkan. Dalam ketiga periode ini, gerakan emansipasi wanita memainkan peran penting. Masalah ini secara awam dikenal sebagai kasus pemukulan istri, dan dewasa ini juga ditafsirkan secara luas sebagai segala bentuk kekerasan terhadap kaum wanita. Temuan-temuan riset menunjukkan bahwa kekerasan ini ada di setiap kebudayaan dan periode sejarah, serta tak terbatas dalam institusi pernikahan saja. Meskipun sebagian besar kasus tak pernah dilaporkan, data statistik yang ada sudah memberi gambaran yang memprihatinkan. Antara 10 hingga 25 persen wanita yang menikah ternyata pernah mengalami kekerasan dari pasangannya. Bentuk kekerasan itu sendiri bervariasi, mulai dari sekedar tamparan sampai pada penganiayaan yang bisa mengakibatkan kematian. Hasil riset menunjukkan bahwa kekerasan itu biasanya disertai pula dengan bentuk agresi, pemaksaan dan intimidasi yang lain, dan ada kalanya dibarengi dengan penganiayaan. Di berbagai masyarakat, meskipun langka, selalu ada kasus pembunuhan istri oleh suaminya sendiri. Ada pula kasus pembunuhan suami oleh istrinya sendiri, sekalipun frekuensinya lebih sedikit dan biasanya sekedar merupakan respon terhadap kekerasan si suami. Bunuh diri (wanita lebih banyak melakukannya) merupakan konsekuensi berikutnya dari terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
Berbagai macam penjelasan telah dikemukakan oleh para ilmuwan sosial. Ada yang menyebut hal itu sebagai dampak dari penyakit sosial dan individu, ada puia yang menyebutnya sebagai konsekuensi dari kondisi interaksional, faktor situasional dan dinamika keluarga. Sejumlah ilmuwan menyodorkan kekuatan-kekuatan institusional, budaya dan ideologis sebagai penyebabnya. Dalam setiap perspektif ini. kontrol dan dominasi kaum pria mendapat perhatian yang berbeda-beda. Riset-riset historis dan antropologis kontemporer mengungkapkan bahwa konflik dalam rumah tangga biasanya bersumber dari rasa takut kaum pria akan kehilangan kekuasaan dan wewenangnya sebagai kepala rumah tangga; rasa cemburu; serta ketidakpuasan terhadap pelayanan istri di rumah (dalam soai makanan, pengasuhan anak, dan sebagainya). Kekerasan dalam rumah tangga tidak saja menarik minat akademis para ilmuwan, namun juga minat profesional para pekeria sosial dan pejabat pemerintah Para reformasi sosial, khususnya para tokoh dan gerakan emansipasi dan pembela hak-hak wanita, mencoba menjadikannya sebagai agenda pemerintah, dan menghimbau negara untuk ikut campur dengan berbagai cara guna mengatasinya. Para peneliti menyajikan pengetahuan sistematik tambahan bagi para pembuat kebijakan dalam mempertim-bangkan bantuan bagi korban. Melalui studi-studi tentanc hakikat kekerasan, para ilmuwan sosial juga melacak respon pemerintah terhadap kederasan rumah tangga. Terungkap bahwa keterlibatan pemerintah di sejumlah negara maju tidak / belum memberikan sumbangan efektif. Masih diperlukan berbagai kebijakan inovatif dalam kerangka program kesejahteraan pemerintah untuk mencegah terjadinya kekerasan ekstrim dalam rumah tangga, serta membantu para korbannya. Kekerasan dalam rumah tangga ini kian menarik minat para akademisi maupun para pejabat pemerintah, khususnya yang menangani kesehatan, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan umum. Di antara berbagai ilmu sosial, disiplin-disiplin sosiologi, kriminologi dan psikologi menyumbangkan paling banyak masukan akademis. Sementara itu. antropologi, psikologi evolusioner. kedokteran dan keperawatan, mulai mencurahkan perhatiannya pada kekerasan dalam rumah tangga untuk turut mengupayakan terciptanya penjelasan dan metode penanggulangannya yang lebih baik.

MENGATASI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA | ok-review | 4.5