MENGATASI DISKRIMINASI ANTAR-KELOMPOK

By On Friday, November 22nd, 2013 Categories : Antropologi

Berbagai telaah menunjukkan bahwa tindakan mengkategorisasikan dapat menghasilkan diskriminasi jika tindakan itu melibatkan pengkategorian orang menjadi “kami” (kelompok-dalam) dan “mereka” (kelompok-luar). Bahkan pengkategorisasian orang yang sewenang-wenang untuk dimasukkan ke dalam kelompok yang dipertentangkan dengan kelompok lain pun dapat mengarah kepada perilaku diskriminatif. Jika suatu ketika seseorang merasa bahwa dia termasuk dalam suatu kelompok, maka orang itu cenderung lebih menyukai anggota kelompoknya sendiri dengan mengabaikan orang-orang yang bukan anggota (atau anggota kelompok lain). Kecenderungan ini dapat dilihat melalui evaluasi yang lebih menguntungkan para anggota kelompok-dalam daripada kelompok-luar, atau jatah hadiah yang lebih menguntungkan bagi para anggota kelompok-dalam. Sikap favoritisme bahkan dapat terlihat jika dasar keanggotaan kelompok adalah murni semaunya dan bahkan jika orang tersebut hanya sedikit sekali atau tidak mendapatkan sesuatu yang nyata dari kelompoknya.
Peragaan yang paling sederhana dari pengaruh diskriminasi antarkelompok minimal ini mungkin berasal dari serangkaian telaah yang dilakukan oleh Henri Tajfel dan rekan-rekannya (1971). Dalam telaah-telaah tersebut, para mahasiswa dibawa ke sebuah laboratorium dan dibagi menjadi dua kelompok berdasar prosedur asal-asalan. Dalam suatu telaah tertentu, mereka dibagi menjadi dua kelompok yang diperkirakan berdasar preferensi mereka terhadap dua pelukis modern yaitu Klee dan Kandinsky (meski dalam kenyataan mereka ditugaskan secara acak ke dalam kedua kelompok tersebut). Mereka tidak mempunyai interaksi aktual dengan sesama anggota kelompok (kelompok-dalam) atau anggota kelompok lain (kelompok-luar), tetapi mereka diminta untuk mengevaluasi semua individu dalam eksperimen itu dan membagikan hadiah kepada mereka. Penemuan umumnya ialah bahwa para pesertamengevaluasi secara positif dan memberi hadiah kepada para anggota kelompok-dalam dengan mengabaikan anggota kelompok-luar.
Mungkin Anda berpikir bahwa para subjek mempunyai perasaan suka yang khusus bagi para anggota kelompok-dalam karena mereka diduga telah dipilih berdasarkan ci tar asa yang sama di bidang seni, dan citarasa yang sama menjadi penentu terkuat bagi perasaan suka, seperti yang akan kita lihat dalam Bab 8. Eksperimen berikut lainnya lebih menjelaskan kepada para subjek bahwa penugasan mereka ke dalam kelompok-kelompok itu hanya dilakukan secara acak, dan bahwa mereka tidak mempunyai persamaan karakteristik dengan anggota kelompok-dalam lainnya. Locksley et al. (1980) menugaskan para subjek agar menjadi anggota Phi atau Gamma dengan menyuruh mereka rrienarik lembar undian dari sebuah kotak, dengan hasil yang serupa, yaitu: Para subjek membagikan lebih banyak hadiah kepada anggota kelompok-dalam daripada kepada anggota kelompok-luar.
Intinya ialah bahwa kategorisasi asal-asalan menjurus kepada favoritisme kelompok-dalam dan diskriminasi terhadap kelompok-luar, bahkan seandainyapun tidak ada keuntungan yang dapat diraih, suatu interaksi menyenangkan dengan kelompok-dalam, atau suatu interaksi tidak menyenangkan dengan kelompok- luar. Para subjek ini tidak diperkenankan menghadiahi diri mereka sendiri, dan tidak boleh mendapat hadiah dari anggota kelompok-dalam lainnya. Mereka tidak mempunyai interaksi dengan para anggota kedua kelompok tersebut sama sekali. Tindakan pengkategorisasian yang kognitif murni itu,’ lepas dari faktor-faktor lainnya, sudah cukup menimbulkan berbagai tanggapan berlainan terhadap kelompok-dalam dan kelompok-luar.

MENGATASI DISKRIMINASI ANTAR-KELOMPOK | ok-review | 4.5