MENGATASI BANGKITNYA RASA TAKUT

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Membangkitkan rasa takut merupakan salah satu cara yang paling lazim untuk meyakinkan seseorang agar berbuat sesuatu. Seorang ibu memberitahu anaknya bahwa dia akan terlindas bila menyeberang jalan tanpa dirinya. Para pemimpin agama menakut-nakuti pengikutnya dengan ancaman penderitaan dan kutukan abadi. Calon politik memperingatkan bahwa bila para lawannya terpilih, ekonomi akan runtuh, rakyat akan kelaparan, dan perang akan berkecamuk. Para ahli lingkungan memperingatkan akan adanya kematian massal akibat kanker, adanya bahan kimia dalam organ vital kita dan matinya ikan dalam danau dan sungai yang tercemar. Para penentang pembaharuan lingkungan memperingatkan adanya peningkatan pengangguran. Semua argumen ini dibuat tanpa dasar emosional, tetapi biasanya berlandaskan pada keterbangkitan rasa takut yang kuat. Dengan diajukannya argumen tertentu yang menyetujui suatu pendapat, sejauh mana keterbangkitan rasa takut mempengaruhi keberhasilan suatu argumen? Penelitian awal dalam bidang ini dilakukan oleh Janis dan Feshbach pada tahun 1953. Kepada siswa-siswa sekolah menengah, mereka memperlihatkan sebuah film yang menekankan makna penting menyikat gigi tiga kali sehari setiap selesai makan. Film tersebut menggambarkan betapa bahayanya bila tidak melakukan hal ini dan menjelaskan tentang keuntungan perawatan gigi yang baik. Rasa takut yang kuat dibangkitkan dengan memperlihatkan gambar gigi dan gusi yang busuk. Foto yang sangat jelas tentang gigi yang rusak, mulut dengan gusi yang menonjol, dan sebagainya. Dalam kondisi rasa takut yang ringan, subjek menyaksikan gambar yang tidak terlalu dramatis dan kurang mengerikan. Dan dalam kondisi tanpa rasa takut, atau kondisi kontrol, subjek tidak melihat gambar gigi yang rusak.
Subjek dalam kondisi rasa takut tinggi dilaporkan lebih terkesan pada gambaran yang disajikan dan lebih menyetujuinya. Namun, seminggu kemudian dijumpai bahwa subjek dalam kondisi tanpa rasa takut lebih banyak mengubah perilakunya daripada subjek dalam kondisi rasa takut lainnya. Penulis menyim-pulkan bahwa efek maksimum diperoleh melalui argumen persuasif tanpa gambar yang membangkitkan rasa takut. Namun, banyak penelitian selanjutnya memberikan hasil yang bertolak belakang. Misalnya, serangkaian eksperimen yang dilakukan oleh Howard Leventhal dan kawan-kawannya di Universitas Yale memperlihatkan bahwa keterbangkitan rasa takut cenderung memudahkan perubahan sikap dan perilaku. Dalam suatu penelitian (Dabbs & Leventhal, 1966), para mahasiswa didesak untuk mendapat suntikan anti tetanus. Penyakit itu telah dijelaskan secara terperinci ditunjukkan betapa hebatnya penyakit itu, bahwa seringkah penyakit itu berakibat fatal, dan bahwa penyakit itu mudah menyerang.
Dalam kondisi rasa takut tinggi, deskripsi penyakit benar-benar gamblang, gejala-gejalanya digambarkan dengan sangat jelas, dan segala sesuatu dilakukan agar situasinya menimbulkan rasa takut sekuat mungkin. Dalam kondisi kedua, rasa takut ringan dibangkitkan dan dalam kondisi ketiga, rasa takut sangat rendah. Sebagai tambahan, para mahasiswa itu diberitahu bahwa suntikan tersebut benar-benar efektif dan akan memberikan perlindungan menyeluruh terhadap penyakit. Kemudian para mahasiswa itu ditanya tentang pendapat mereka mengenai makna penting suntikan tersebut dan apakah mereka bermaksud menerima suntikan itu atau tidak. Unit kesehatan universitas, yang dekat, mencatat jumlah mahasiswa yang datang untuk minta disuntik selama bulan berikutnya.
Kesimpulan ini cukup jelas dan mengesankan. Semakin besar rasa takut yang terbangkitkan, semakin besar keinginan subjek untuk memperoleh suntikan. Mungkin yang lebih penting, rasa takut yang semakin besar menyebabkan lebih banyak subjek mendatangi unit kesehatan dan menerima suntikan. Jadi, keterbangkitan rasa takut tidak hanya mengakibatkan terjadinya perubahan sikap yang lebih besar, tetapi juga menimbulkan efek yang lebih besar pada perilaku yang relevan. Berbagai penelitian lain menggunakan pokok persoalan seperti keselamatan berkendaraan, percobaan bom atom, runtuhnya tempat perlindungan, dan kesehatan gigi, untuk meneliti efek rasa takut. Dalam hampir setiap keadaan, nampaknya keterbangkitan rasa takut meningkatkan efektivitas komunikasi persuasif. Di lain pihak, Janis (1967) menyatakan bahwa hubungan antara rasa takut dan perubahan sikap tergantung pada rasa takut yang timbul. Dia berpendapat bahwa pada tingkat yang rendah, semakin menguatnya rasa takut menghasilkan perubahan sikap yang semakin besar, tetapi pada suatu saat rasa takut itu akan sedemikian kuat, membangkitkan mekanisme defensif, dan dengan demikian menghasilkan perubahan yang lebih sedikit. Hal ini akan menjelaskan beberapa hasil yang nampaknya bertentangan dari penelitian-penelitian yang melibatkan berbagai kadar rasa takut. Misalnya, rasa takut yang tinggi biasanya menimbulkan efek yang sangat kuat pada eksperimen tentang tetanus, penyakit yang mudah dicegah dan jarang membuat orang merasa sangat takut. Namun, keterbangkitan rasa takut yang tinggi sering kurang berhasil pada kanker paru-paru dan merokok, mungkin karena kanker paru-paru menimbulkan rasa takut yang amat sangat sehingga terlalu sulit bagi perokok berat untuk mencegahnya. Janis menganalisis kembali sejumlah eksperimen tentang hal ini, dan meskipun tidak seluruh data sesuai dengan model ini, hampir semua hasilnya nampak konsisten dengan model tersebut. Teori-teori yang lebih spesifik mengenai kondisi di mana rasa takut menjadi efektif, telah dikembangkan oleh Leventhal (1970) dan lain-lain (Rogers & Mewborn, 1976); pada umumnya teori-teori ini bersandar pada pendekatan nilai-ekspektansi dan memandang individu sebagai makhluk yang lebih kognitif dan rasional daripada model Janis. Teori-teori ini mempertimbangkan karakter dari kejadian yang menakutkan, kerentanan seseorang terhadap kejadian yang menakutkan, dan efektivitas ukuran yang digunakan. Mereka mencoba memprediksi kondisi-kondisi tertentu di mana rasa takut akan mempengaruhi perubahan sikap. Misalnya, rasa takut akan meningkatkan perubahan sikap bila digunakan ukuran yang sangat efektif, tetapi tidak demikian halnya bila ukuran kurang atau tidak efektif. Teori-teori ini juga dapat menerangkan beberapa data, meskipun nampaknya jelas bahwa orang tidak selalu memperhitungkan respons yang paling rasional dalam situasi ini. Sebagai kesimpulan, bukti menunjukkan bahwa hampir dalam setiap keadaan rasa takut yang timbul akan meningkatkan efektivitas komunikasi persuasif. Tetapi keterbangkitan rasa takut yang terlalu kuat justru mengganggu. Membuat orang sangat takut bisa melumpuhkan orang itu sehingga mereka tidak dapat berbuat apa pun, atau merasa begitu terancam sehingga cenderung menyangkal adanya bahaya dan menolak komunikasi. Namun, pada tingkat sedang, nampak bahwa argument yang menimbulkan rasa takut akan lebih efektif untuk menghasilkan perubahan sikap daripada argumen yang menimbulkan sedikit rasa takut atau yang tidak menimbulkan rasa takut sama sekali.

MENGATASI BANGKITNYA RASA TAKUT | ok-review | 4.5