MENGAPA ILUSI KENDALI TERJADI?

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Sejumlah fenomena yang diuraikan dalam bab ini kelihatan telah mengungkapkan distorsi yang menjalar ke arah pengamatan pengendalian perilaku intern atau disposisional. Kekeliruan atribusi fundamental sangat mengagungkan kendali intern. Semua proses ilusi kendali, dunia yang adil, dan ketidakberdayaan yang dipelajari, memperlihatkan bagaimana manusia lebih suka mempercayai kendali intern, dan dalam kenyataan psikologiknya menjadi terpecah belah ketika dipaksa menghadapi ketidakberdayaan sendiri dan keacakan yang mempengaruhi hidup mereka. Mengapa terdapat distorsi terhadap keadaan intern? Salah satu kemungkinannya sudah dipertimbangkan di atas. Mungkin, di tingkat perseptual sederhana, para aktor dan pengamat sama-sama cenderung memandang suatu tindakan sebagai sangat berhubungan dengan sang aktor (dalam apa yang dinamakan “hubungan unit” oleh Heider) sehingga mereka sulit mengatribusinya kepada penyebab eksternal tertentu (Jones, 1979).
Kemudian lain ialah bahwa semua manusia sama-sama mempunyai keterikatan emosional kepada perasaan yang dilakukan secara bebas, dan kepada perasaan bahwa mereka bebas bertindak sekehendak mereka. Ilusi pilihan atau kendali itu penting bagi sistem motivasional dan perasaan sejahtera kita, yang diperoleh melalui seleksi alamiah (Brehm, 1966; Monson & Snyder, 1977). Boleh jadi keyakinan akan kendali internlah yang membuat kita tetap aktif memanipulasi lingkungan kita, yang kemudian menjadi penting bagi kelanjutan hidup kita.
Kemungkinan ketiga ialah bahwa distorsi terhadap atribusi intern merupakan norma kebudayaan yang secara khusus merupakan karakteristik bangsa Amerika. Banyak pengamat yang mencatat bagaimana besarnya dedikasi orang Amerika kepada nilai-nilai individualistik, kepada keyakinan bahwa manusia secara individu dapat mengendalikan nasibnya sendiri, bertanggung jawab atas hasilnya sendiri, dan seterusnya. Beberapa telaah menunjukkan bahwa mahasiswa Amerika paling menyukai orang yang memberikan atribusi intern, terutama mereka yang sedemikian mengatribusikan kegagalannya (Carlston & Shovar, 1983; Jellison & Green, 1981). Horatio Alger merupakan salah satu mitos bangsa Amerika yang paling terkenal: Kemiskinan diakibatkan oleh kemalasan dan kebodohan orang-orang yang melarat, sedangkan kekayaan oleh kejeniusan serta kerja keras mereka yang berhasil. Inkeles (1983), misalnya, melaporkan bahwa jika orang Amerika diminta menjelaskan ‘mengapa seseorang berhasil sedangkan yang lainnya gagal meskipun mereka sama-sama memiliki keterampilan dan pendidikan, maka hanya 1 persen menyebutkan alasan nasib atau kehendak. Tuhan. Akan tetapi, di enam negara sedang berkembang, keberuntungan dan nasib merupakan penjelasan sejumlah kira-kira 30 persen.
Paham individualisme ini dapat ditelusuri dari warisan penduduk Amerika beragama Protestan (lihat, misalnya, McClelland, 1964; Sears & McConahay, 1973; Sniderman & Bro- dy, 1977). Kebudayaan yang lebih saling bergantung memberikan tekanan kepada penyebab-penyebab peristiwa kolektif dan antarpribadi, dan bukan kepada tindakan bebas individual (Sampson, 1977). Sebaliknya, tradisi di Amerika Serikat ialah bahwa seorang individu berdiri di atas kakinya sendiri. Sebagian besar orang Amerika tidak memikirkan dirinya sebagai bagian dari suatu kelompok sosial yang besar jumlahnya, seperti perluasan keluarga atau gereja atau masyarakat. Contohnya, di Amerika Serikat, keputusan untuk menikah adalah berdadarkan pilihan bebas orang bersangkutan dan berdasarkan cinta romantis. Dalam kebudayaan lain, keputusan semacam itu diambil secara kolektif oleh keluarga atau kelompok keluarga karena perkawinan dianggap mempengaruhi seluruh masyarakat. Jadi hal ini masih membutuhkan riset lebih lanjut atas kebudayaan-kebudayaan lainnya untuk memutuskan apakah pemberian tekanan kepada disposisi, pilihan bebas, dan kendali pribadi itu hanya terbatas kepada kebudayaan Amerika dengan tradisi individualis kaum Protestannya, atau apakah ia merupakan karakteristik manusia yang lebih umum. Teori Atribusi mengupas bagaimana manusia biasa menjelaskan peristiwa-peristiwa sosial. Atribusi sebab-akibat yang paling umum menjelaskan perilaku intern dan ekstern seseorang, stabil atau tidak stabil, dan dapat dikendalikan atau tidak. Para pembuat teori mulai dengan asumsi bahwa manusia sangat dimotivasikan untuk menjelaskan peristiwa di sekelilingnya. Mereka melakukan hal itu dengan mencari penyimpangan-penyimpangan; yaitu, penyebab apakah yang biasanya diasosiasikan dengan akibatnya. Dan mereka memakai prinsip keraguan yakni/sejauh mana berbagai penyebab dapat diterima akal, mereka akan menyebar penjelasannya di antara mereka sendiri.
Teori Kelley menyatakan bahwa manusia mendasarkan atribusinya kepada tiga jenis informasi, yaitu: kejelasan (apakah ini satu-satunya situasi di mana orang tersebut melakukan hal tersebut), konsejisus (apakah orang lain melakukan hal yang sama dalam situasi yang sama), dan konsistensi (apakah orang tersebut selalu melakukannya dalam situasi seperti ini). Ciri kepribadian orang lain dan sikapnya biasanya disimpulkan dari perilaku mereka yang terbuka dengan mempertimbangkan paksaan ekstern yang mempengaruhi mereka saat itu. Jika paksaan ini kuat, maka atribusi disebabkan oleh penyebab ekstern maupun intern. Jika paksaan ini lemah, dibuatlah atribusi intern. Teori atribusi dapat diterapkan kepada persepsi diri-sendiri maupun persepsi terhadap orang lain. Artinya, prinsip yang serupa dapat digunakan atas bagaimana kita menyimpulkan penyebab tindakan kita sendiri dan bagaimana menyimpulkan penyebab tindakan orang lain. Petunjuk intern yang kita terima melalui emosi kita yang tergugah, lebih merupakan keraguan dan lebih sulit dibedakan dari apa yang sudah diasumsikan di masa lalu. Dengan sendirinya, kita menyimpulkan sifat dan tingkatan rangsangan emosi yang kita rasakan melalui proses atribusi yang berdasar bukti-bukti perilaku kita sendiri, dan kondisi lingkungan. Sampai batas tertentu, kita menyimpulkan sikap kita sendiri dari perilaku kita, khususnya jika kita tidak terlibat dalam sikap kita dan jika hal itu mempunyai konsekuensi yang kecil sekali bagi masa depan kita. Dalam bentuknya yang paling murni, teori atribusi menguraikan mekanisme logis rasionalistik untuk sampai kepada penjelasan sebab-akibat. Tetapi beberapa distorsi sistematik telah ditemukan. Secara umum, orang memberikan lebih banyak sebab-akibat kepada disposisi intern daripada yang semestinya dan lebih sedikit kepada paksaan ekstern. Hal ini dinamakan kekeliruan atribusi fundamental. Hai ini dapat dilakukan untuk pengamatan terhadap perilaku, orang lain. Persepsi diri-sendiri dapat menerima distorsi dari arah yang berlawanan dan lebih mengatribusikan kepada paksaan ekstern. Dalam kedua kasus itu, distorsi itu terutama diakibatkan oleh adanya penonjolan relatif dari perilaku dan situasi. Manusia sangat dipengaruhi oleh keperluan untuk menjelaskan yang mendukung atau melindungi harga diri mereka; mereka melakukan hal itu dengan menyalahkan keadaan ekstern dan mengambil keuntungan dari keberhasilan. Kelihatannya manusia membutuhkan ilusi kendali atas lingkungannya. Persepsi mereka membesar-besarkan tingkat kendali mereka, dan mereka jadi terganggu secara emosional jika mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki kendali. Mereka percaya adanya dunia yang adil di mana manusia dapat memperoleh apa yang semestinya mereka peroleh, yang nampaknya didasarkan pada asumsi bahwa orang dapat mengendalikan prestasi mereka sendiri.

MENGAPA ILUSI KENDALI TERJADI? | ok-review | 4.5