MEMUNCULKAN KEMAMPUAN MENGENDALIKAN

By On Saturday, November 30th, 2013 Categories : Psikologi

Menurut Weiner (1982), dimensi umum ketiga atribusi adalah kemampuan mengendalikan. Kita mengamati adanya beberapa kasus yang dapat dikendalikan seorang individu, sedangkan lainnya berada di luar kemampuannya. Kemampuan mengendalikan atau ketidakmampuan mengendalikan itu dapat berada-bersama dengan kombinasi tempat dari kendali dan stabilitas. Contohnya, penyebab intern yang tidak stabil, seperti usaha, biasanya dipandang sebagai dapat dikendalikan; seorang mahasiswa dapat berusaha untuk belajar giat, atau memutuskan untuk tidak belajar. Penyebab intern yang stabil seperti kemampuan, jarang dilihat sebagai dapat dikendalikan seseorang. Seorang yang “dilahirkan sebagai jenius” atau seseorang “dikaruniai” dan memiliki “bakat sejak lahir” dipandang tidak menguasai kemampuannya tersebut. Kadangkala, kemampuan dipandang dapat dikendalikan. Beberapa orang yang sangat sukses dipandang bahwa ia telah mengembangkan kemampuannya melalui kerja keras dalam jangka waktu yang lama. Di samping itu, keberhasilan adakalanya dipandang dapat dikendalikan meskipun seringkali dianggap tidak dapat dikuasai. Ringkasnya, mudah bagi kita untuk memikirkan kombinasi apa pun dari ketiga dimensi dasar atribusi sebab-akibat.
Ketiga dimensi itu merupakan dimensi yang paling masuk akal di antara berbagai atribusi sebab-akibat. Mereka juga amat sering dipergunakan untuk menjelaskan hasil. Dari telaah yang menanyakan penilaian mahasiswa terhadap prestasi rekan-rekannya, atau atas pengalaman nilai sekolah yang dicapainya ketika berada di SMA, terlihat bahwa penjelasan terhadap sebab-akibat cenderung terletak pada dimensi yang mendasarinya ini.

MEMUNCULKAN KEMAMPUAN MENGENDALIKAN | ok-review | 4.5