MEMPELAJARI TEORI INSENTIF

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Teori insentif memandang pembentukan sikap sebagai proses menimbang baik-buruknya berbagai kemungkinan posisi dan kemudian mengambil alternatif yang terbaik. Seorang mahasiswa mungkin merasa bahwa berpesta merupakan hal yang menyenangkan, dan mengasyikkan, dan teman-temannya menyukai hal itu. Pertimbangan ini memberikan sikap yang positif. Tetapi dia tahu bahwa orang tuanya tidak ingin dia hanya berpesta selama di perguruan tinggi, ini akan mengganggu studinya, dan dia ingin melanjutkan ke sekolah hukum. Pertimbangan ini memberikan sikap yang negatif terhadap pesta. Sesuai dengan teori insentif, kekuatan relatif dari insentif ini menentukan bagi sikapnya.
Salah satu versi terkenal dari pendekatan insentif terhadap sikap adalah teori respons kognitif. (cognitive response theory) (Greenwald, 1968; Petty, Ostrom & Brock, 1981). Teori ini mengasumsikan bahwa seseorang memberi respons terhadap suatu komunikasi dengan beberapa pikiran positif: atau negatif (atau “respons kognitif”), dan bahwa pikiran-pikiran ini sebaliknya menentukan apakah orang akan mengubah sikapnya sebagai akibat komunikasi ataukah tidak. Anggaplah Anda mendengar pidato seorang anggota DPR di televisi di mana dia mendukung pemotongan biaya pemerintah untuk perawatan kesehatan orang tua. Jika anda berkata pada diri sendiri. “Tetapi bagaimana dengan para pensiunan yang haiiya mendapat uang pensiun dalam jumlah kecil atau orang yang tidak dapat membantu dirinya sendiri, seperti orang-orang yang cacat atau yang miskin? Seseorang harus membantu orang-orang itu dan program pemerintah merupakan satu-satunya jalan untuk melakukan hal itu.” Respons kognitif yang negatif ini membuat.anda tidak mungkin terbujuk oleh pidato itu.
Tetapi jika Anda katakan pada diri Anda sendiri “Itu benar! Pajak-pajak ifa sudah terlalu tinggi dan program-program itu kemungkinan hanya untuk membayar biaya rumah sakit secara berlebihan dan orang harus membayar berbagai biaya perawatan kesehatan diri mereka sendiri!, mungkin Anda akan mendukung pidato tadi. Asumsi pokok dari sudut pandangan respons kognitif adalah bahwa orang merupakan pemroses informasi yang aktif yang membangkitkan respons kognitif terhadap pesan, dan tidak sekedar menjadi penerima pasif dari pesan apa pun yang mereka terima.
Versi umum lain teori insentif adalah pen-dekatan nilai-ekspektansi (expect ancy-yalue approach) (Edwards, 1954). Posisi yang akan membawanya pada kemungkinan hasil yang terbaik, dan menolak posisi yang akan membawanya pada hasil yang buruk atau yang tidak mungkin mengarahkannya pada hasil yang baik. Secara lebih formal, pendekatan ini mengasumsikan bahwa dalam mengambil sikap, orang berusaha memaksimalkan nilai berbagai hasil/akibat yang diharapkan. Anggaplah Anda sedang mencoba memutuskan apakah akan pergi ke pesta teman Anda nanti malam, atau tidak. Anda akan berusaha memikirkan berbagai kemungkinan akibat (berdansa, minum bir, tidak belajar untuk ujian tengah semester besok, bertemu dengan seseorang yang menarik), nilai-nilai dari hasil itu (sedikit menikmati dansa dan minum bir serta pertemuan dengan seseorang yang menarik, mungkin agak merasa sakit pada saat bangun pagi setelah minum minuman keras, dan akan memperoleh nilai buruk pada ujian tengah semester), dan ekspektansi dari hasil itu (pasti untuk dansa dan mencapai angka yang buruk, tapi tidak mungkin bertemu seseorang yang baru pada sebuah pesta kecil). Dengan memasukkan ekspektansi dan nilai ke dalam pertimbangan, ini adalah saatnya untuk mulai meneliti: Angka yang pasti buruk tidak seimbang dengan sedikit dansa yang menyenangkan dan minum bir. Dengan menempatkan teori nilai-ekspektansi secara lebih formal, orang mencoba memaksimalkan kegunaan subjektif. Kegunaan subjektif dari posisi tertentu adalah hasil dari (1) nilai akibat tertentu, dan (2) ekspektansi bahwa posisi ini akan menimbulkan akibat tersebut. Kedua versi pendekatan insentif mempunyai kesamaan dengan pendekatan belajar dalam pengertian bahwa sedikit banyak sikap itu ditentukan oleh jumlah dari unsur negatif dan positif. Salah-satu perbedaannya adalah bahwa teori insentif mengabaikan asal usul sikap, dan hanya mempertimbangkan keseimbangan insentif yang terjadi. Perbedaan lainnya adalah bahwa teori insentif menekankan keuntungan atau kerugian apa yang akan dialami seseorang dengan mengambil posisi tertentu. Apakah teman-teman mereka menyu-kainya, apakah pengalaman itu menyenangkan, dan lain-lain, merupakan pertimbangan-pertimbangan yang cermat. Bila terdapat tujuan-tujuan yang bertentangan, orang akan mengambil posisi yang memaksimalkan keuntungan mereka. Sehingga orang lebih berhati-hati, penuh perhitungan, dan menjadi pengambil keputusan yang aktif. Sebaliknya, pendekatan belajar memperlakukan orang sebagai reflektor lingkungan yang .pasif, dan karena itu orang menjadi kurang rasional dan kurang hati-hati.

MEMPELAJARI TEORI INSENTIF | ok-review | 4.5