MEMBANGUN PRASANGKA POSITIVITAS

By On Wednesday, November 20th, 2013 Categories : Psikologi

Kita telah menekankan pentingnya evaluasi, dalam persepsi manusia, akan tetapi, kita belum banyak membicarakan apakah evaluasi positif atau negatif itu sudah sangat umum. Walau demikian, dalam kenyataan evaluasi positif terhadap orang lain lebih umum daripada evaluasi negatif. Sebagai contoh, dalam telaah di mana para mahasiswa yang memberi nilai positif kepada profesornya ada 97 persen (yang dalam neraca timbangan berada di atas “rata-rata”), meskipun para mahasiswa telah mengalami berbagai pengalaman semasa kuliahnya. Kecenderungan menilai orang lain secara positif ini sehingga mengalahkan evaluasi negatif dinamakan pengaruh kelunakan atau prasangka positivitas. Sesuai dengan itu, pendapat umum melalui pemungutan suara menunjukkan bahwa pemimpin politik individual secara konsisten lebih sering diberi persetujuan daripada sebaliknya. Dalam pemungutan suara Gallup yang dilakukan di Amerika Serikat sejak pertengahan tahun 1930-an, lebih kurang tiga-perempat dari orang tertentu yang telah ditanyai dan ternyata disukai lebih banyak orang dibanding yang tidak menyukainya. Jika kesan berubah, biasanya ia cenderung menjadi lebih disukai daripada tidak disukai, seandainya segala sesuatu adalah sama.
Terdapat beberapa hipotesis yang masuk akal tentang apa sebab manusia dinilai lunak. Salah satu berasal dari apa yang dinamakan Matlin dan Stang. Menurut mereka, orang akan merasa lebih senang jika dikelilingi hal-hal yang baik, pengalaman menyenangkan, masyarakat yang ramah, cuaca cerah, dan sebagainya. Bahkan, ketika rumah mereka runtuh, mereka sakit, tetapgganya bersikap jahat kepada mereka, cuaca muram, mereka akan mengevaluasi situasinya secara baik. Hasilnya: Sebagian besar peristiwa dinilai “di atas rata-rata” sepanjang waktu; peristiwa menyenangkan dianggap lebih umum daripada peristiwa-peristiwa yang kurang menyenangkan; berita baik dikomunikasikan lebih sering daripada berita-berita buruk; dan kata-kata menyenangkan diingat secara lebih akurat daripada yang tidak menyenangkan.
Sebaliknya, Sears (1983), membantah bahwa terdapat prasangka positivitas khusus dalam evaluasi kita tentang orang lain yang diuraikannya sebagai prasangka positivitas manusia. Manusia memiliki perasaan sama dengan orang yang dievaluasi dan karena itu, memberikan evaluasi yang lebih lunak kepada mereka ketimbang kepada objek yang lebih umum. Menurut pandangan ini, prasangka positivitas-manusia hanya berlaku atas evaluasi terhadap manusia individual, dan tidak boleh memperlihatkan kekuataif”yang sama dengan evaluasi yang diberikan atas objek-objek umum. Dalam menguji ide ini, Sears mengkonfrontasikan masalah bahwa manusia dan objek sedemikian berbedanya sehingga sukar sekali memperbandingkan keduanya. Anda dapat memperbandingkan evaluasi tentang ibu seseorang dengan sebuah batu, tetapi mereka berbeda sekali dalam berbagai hal sehingga sukar untuk menunjukkan perbedaan evaluasi hanya atas kenyataan bahwa yang satu adalah manusia dan lainnya adalah objek umum. Untuk membuat perbandingan manusia lawan objek secara adil, Sears beralih kepada evaluasi tentang profesor. Di Universitas Kalifornia Los Angeles (UCLA), para mahasiswa secara rutin mengisi formulir standar untuk mengevaluasi kuliah, yang mencakup daftar yang dapat diperbandingkan guna mengevaluasi dosen (seorang manusia) dan mengevaluasi kuliah (objek umum): Apakah penilaian menyeluruh Anda terhadap dosen, dan Apakah penilaian menyeluruh Anda terhadap kuliah? Mungkin, kedua penilaian itu lebih kurang menyangkut pengalaman yang serupa yakni kuliah khusus. Tetapi, penilaian atas kuliah umumnya melibatkan aspek umum mata kuliah seperti buku, ujian, dan pertemuan kelas. Penilaian terhadap pengajar hanya melibatkan pengajar secara individual.
Sebagai penguat prasangka positivitas-manusia, 97 persen percontohan berobjek para profesor di UCLA mendapat penilaian positif (di atas “rata-rata”). Dan stimulus pribadinya, yakni sang profesor, dinilai lebih tinggi dari objek umum, yakni mata kuliah, di dalam 74 persen kasus (dalam 7 persen kasus mereka adalah serupa, dan 19 persen waktu kuliah itu dinilai lebih tinggi). Jadi, jika mengevaluasi manusia konkrit tertentu yang dapat kita identifikasikan dan kita pahami, maka kita memberi mereka peluang khusus.

MEMBANGUN PRASANGKA POSITIVITAS | ok-review | 4.5