MEMAKNAI KETAATAN DAN KEPATUHAN

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Konformitas hanya merupakan bagian dari persoalan yang lebih umum, bagaimana membuat orang rela melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan. Salah satu caranya adalah melalui tekanan sosial. Seperti yang telah kita ketahui, terdapat sejumlah faktor yang menentukan efektivitas tekanan ini. Cara lainnya adalah melalui perundingan. Kadang-kadang orang mau melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan hanya setelah kepada mereka diberikan sejumlah informasi. Kadang-kadang para mahasiswa baru mau membaca sebuah buku setelah profesornya mengatakan bahwa buku itu adalah buku yang bermutu, adakalanya anak-anak baru mau mengikuti program diet setelah orang tuanya memberitahukan bahwa hal itu baik untuk dirinya. Tetapi, seperti telah kita ketahui, sulit untuk membujuk orang melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan hanya melalui perundingan saja. Karena itu kita akan membahas beberapa teknik lain selain tekanan sosial dan perundingan. Telaah Ketaatan dari Milgram.Dalam telaah dramatis yang dilakukan oleh Stanley Milgram (1963), yang telah diuraikan dalam Kotak 2—4, para pria yang tinggal di sebuah kota di bagian Timur Laut memberikan tanggapan terhadap iklan surat kabar yang meminta partisipasi masyarakat dalam suatu penelitian psikologi. Mereka datang berpasangan dan diberitahukan bahwa tujuan penelitian tersebut adalah untuk menyelidiki efek hukuman terhadap proses belajar. Salah satu di antara mereka dipilih secara acak sebagai “pelajar” dan yang lain sebagai “pengajar.” Tugas pengajar ‘ adalah membacakan beberapa pasangan kata yang harus diingat pelajar. Setiap kali pelajar membuat kesalahan, pengajar akan memberikan hukuman. Pengajar duduk di depan sebuah “mesin pengejut” yang besar dan mengesankan, yang terdiri dari sejumlah tombol yang masing-masing ditandai dengan besarnya tegangan yang dapat dialirkan. Rentangnya mulai dari 15 volt sampai dengan 450 volt. Di atas angka yang menyatakan tegangan dicantumkan tanda yang menunjukkan tingkat shock listrik: “Ringan,” “Intensitas shock-listrik yang berat,” dan “Bahaya: Shock listrik yang sangat menyakitkan.” Pelajar duduk di sebuah kursi di ruang yang lain. Tangannya diikat pada kursi dan dipasangi beberapa elektroda. Dia tidak dapat dilihat oleh pengajar atau orang lain; mereka berkomunikasi melalui interkom. Sebelum penelitian itu dimulai, pelajar menyatakan bahwa dia menderita penyakit jantung yang ringan. Peneliti meyakinkan dia bahwa shock listrik yang akan diberikan tidak berbahaya. Kemudian, peneliti memberikan contoh shock listrik pada pengajar agar dia dapat memperkirakan tingkat shock listrik yang dapat diberikan. Sebenarnya shock listrik tersebut cukup berat dan sangat menyakitkan, tetapi pada pengajar diberitahukan bahwa shock itu cukup ringan. Selama penelitian, pelajar itu membuat sejumlah kesalahan. Pengajar memberitahukan bahwa dia salah dan memberikan shock listrik. Setiap kali diberi shock listrik, pelajar itu akan mengerang kesakitan. Reaksi pelajar semakin hebat bila intensitas kejutan semakin meningkat. Dia berteriak, memohon agar pengajar berhenti memberikan shock listrik, memukul-mukul meja, dan menendang dinding. Menjelang akhir penelitian, dia berhenti menjawab dan tidak memberikan reaksi sama sekali. Meskipun demikian, peneliti mendorong pengajar tetap melanjutkannya. “Eksperimen harus dilanjutkan. Anda perlu meneruskannya. Anda harus melanjutkannya.” Dia juga mengatakan bahwa apa pun yang terjadi merupakan tanggung jawabnya, bukan tanggung jawab pengajar. Dalam situasi ini, sebagian besar subjek dengan taat tetap memberikan shock listrik. Lebih dari setengah di antara mereka melanjutkannya sampai skala terakhir dan memberikan shock listrik sampai 450 volt. Mereka tetap melakukannya meskipun orang yang diberi shock listrik menjerit-jerit memohon belas kasihan, mempunyai penyakit jantung, dan tampak mengalami rasa sakit yang hebat. “Pelajar” itu sebenarnya adalah rekan peneliti dan dia tidak menerima shock listrik apa pun. Semua tang-gapan, termasuk kesalahan, gerutuan, dan teriakan, dilatihkan dan direkam agar sama untuk setiap subjek. Namun, “pengajar” tidak mengetahui sama sekali bahwa situasi itu telah diatur.

MEMAKNAI KETAATAN DAN KEPATUHAN | ok-review | 4.5