MANFAAT PERDAGANGAN

By On Friday, December 13th, 2013 Categories : Ekonomi

GAINS FROM TRADE / MANFAAT PERDAGANGAN adalah keuntungan tambahan dari produksi dan konsumsi yang didapat melalui PERDAGANGAN INTERNASIONAL (.INTERNATIONAL TRADE). Perdagangan antar-negara didasarkan pada alasan yang sama di mana perorangan, perusahaan atau suatu kawasan mengadakan pertukaran barang atau jasa untuk mendapatkan keuntungan dari SPESIALISASI (SPECIALIZATION). Dengan menukarkan sebagian dari produk mereka dengan produk negara lain, suatu negara dapat menikmati berbagai ragam komoditi dengan harga yang lebih murah daripada memproduksi sendiri barang-barang tersebut. Pembagian tenaga kerja secara internasional di mana setiap negara mengadakan spesialisasi produk tertentu, memungkinkan total output dunia meningkat dan menaikkan standar hidup nyata dari negara-negara.
Komoditi yang dipilih oleh suatu negara untuk spesialisasi ditentukan oleh ukuran-ukuran yang luas seperti keuntungan yang dipunyai oleh suatu negara dibandingkan dengan negara lain dalam memproduksi sesuatu barang. Beberapa keuntungan dapat ditimbulkan karena suatu negara dapat memproduksi suatu barang secara lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan negara lain. Teori statik atau teori ‘murni’ perdagangan internasional menegaskan bahwa kesempatan untuk mendapatkan keuntungan secara timbal balik dari perdagangan terjadi sebagai akibat dari perbedaan dalam biaya-biaya komparatif atau KEUNTUNGAN KOMPARATIF (COMPARATIVE ADVANTAGE). Negara-negara akan mendapatkan keuntungan dari perdagangan jika komoditi EKSPOR (EXPORTS) dari setiap negara mempunyai biaya produksi yang lebih rendah dan komoditi IMPOR (IMPORTS) mempunyai biaya produksi yang lebih tinggi, secara komparatif.
Rumusan ini, di mana terdapat hanya 2 negara (A dan B) dan 2 produk (X dan Y). Dengan sumber Liput yang sama, kedua negara tersebut mampu memproduksi sejumlah X atau sejumlah Y. Apabila perdagangan tidak terjadi di antara keduanya, X dan Y dipertukarkan di negara A dengan perbandingan IX/1 Y, dan di negara B dengan perbandingan 1X/3Y. Rasio pertukaran tersebut menunjukkan BIAYA KESEMPATAN (OPPORTUNITY COST) maijinal dari suatu komoditi dengan ukuran komoditi lain. Sehingga di negara A biaya keuntungan untuk satu unit tambahan X adalah 1Y. Dapat dilihat bahwa negara B mutlak lebih efisien dari negara A dalam memproduksi Y dan dengan efisiensi yang sama dalam memproduksi X. Walaupun demikian, hal itu adalah keuntungan komparatif bukan KEUNTUNGAN MUTLAK (ABSOLUTE ADVANTAGE), yang menentukan apakah perdagangan menguntungkan atau tidak. Keuntungan komparatif negara B adalah lebih besar dalam memproduksi Y, di mana Y dapat diproduksi tiga kali lebih banyak daripada negara A. Dengan kata lain efisiensi negara B relatif lebih besar dalam memproduksi Y, karena biaya kesempatan dalam memproduksi satu unit tambahan Y adalah 1/3X sementara di negara A adalah sebesar IX. Negara A mempunyai keuntungan komparatif dalam memproduksi X; contoh, biaya kesempatan untuk memproduksi satu tambahan unit X di negara A adalah sebesar 1Y, sementara di negara B adalah 3Y. Sehingga dalam ukuran biaya faktor riil komoditi X dapat diproduksi lebih murah di negara-negara A, sementara komoditi Y diproduksi lebih murah di negara B. Kombinasi dari keuntungan komparatif membuka kemungkinan keuntungan perdagangan secara timbal balik. Di dalam negeri negara A IX dapat ditukarkan dengan 1Y, tetapi apabila ditukarkan ke luar negeri (negara B) dapat ditukarkan dengan 3Y. Perdagangan akan menguntung┬Čkan apabila barang tersebut dapat ditukarkan lebih dari 1Y untuk IX. Di dalam negeri negara B, 1Y dapat ditukarkan dengan 1/3X, tetapi di luar negeri dapat ditukarkan dengan IX. Negara B akan menguntungkan jika melalui perdagangan mendapatkan X yang lebih besar dari pada hanya 1/3X untuk 1Y.
Batasan dari manfaat timbal balik ditentukan oleh rasio biaya kesempatan. Dengan batasan ini, spesialisasi dan perdagangan dengan dasar keuntungan komparatif memungkinkan kedua negara untuk mendapatkan tingkat konsumsi yang lebih tinggi. Kemungkinan ini dijelaskan dalam gambar 74b, dengan mengasumsikan rasio pertukaran adalah IX = 2Y. Dengan memakai seluruh sumber daya, negara B dapat memproduksi 600Yyang terdiri dari untuk konsumsi 100 dan untuk ekspor 100. Melalui perdagangan 200Y dapat ditukarkan dengan 100X, memungkinkan negara B mengkonsumsi 400Y dan 100X, dan negara A mengkonsumsi 200Y dan 100X. Tanpa perdagangan, negara B dapat mentransformasikan (dengan rasio pertukaran dalam negeri 1X/3Y) 200Y untuk 662/3X, sementara negara A dapat mentransformasikan (dengan rasio pertukaran dalam negeri 1X/1Y) 100X untuk 100Y. Dengan demikian kedua negara akan mendapatkan keuntungan apabila mengadakan spesialisasi dan per-dagangan. Bagaimana keuntungan dibagi antara negara A dan negara B, tergantung dari kekuatan permintaan barang yang diimpor oleh kedua negara. Jika permintaan negara A untuk komoditi Y meningkat, rasio perdagangan IX untuk 2Y mungkin akan berubah untuk negara A. Dengan demikian dibutuhkan ekspor sebesar 2,5Y untuk mendapatkan IX, yang mendorong negara B lebih dekat pada batas keuntungan perdagangan secara timbal balik.
Dalam dunia nyata dengan banyak negara dan banyak komoditi adalah tidak mudah untuk mengkategorikan tentang siapa yang beruntung dan berapa besarnya keuntungan tersebut dalam perdagangan internasional. Beberapa negara mempunyai keuntungan komparatif untuk sejumlah produk, sementara negara lain mempunyai lebih sedikit keuntungan komparatif; setiap negara mempunyai perbedaan dalam jumlah dan kualitas dari faktor anugerah alam (endowment) serta dalam tahap PEMBANGUNAN EKONOMinya (ECONOMIC DEVELOPMENT), NEGARA-NEGARA SEDANG BERKEMBANG (DEVELOPING COUNTRIES) merasakan tidak memperoleh manfaat dalam perdagangan internasional, khususnya bagi negara-negara yang terlalu menggantungkan diri terhadap komoditi ekspor tidak tetap yang jenisnya sedikit. Lihat THEORY OF INTERNATIONAL TRADE, TRADE INTEGRATION, TRADE CREATION.

MANFAAT PERDAGANGAN | ok-review | 4.5