MANAJEMEN OPERASI DAN SIKAP TERHADAP KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

By On Monday, November 11th, 2013 Categories : Kesehatan

Teknologi sebagai sebuah entitas dapat didekati dari segi pembelajaran, artinya substansi materi yang dipelajari atau yang diajarkan, adalah pengetahuan. Dari segi kajian filsafat maka teknologi adalah sebuah cabang filsafat yang dinamakan filsafat teknologi. Teknologi berkaitan dengan dunia migas yang menjadi objek penelitian adalah teknologi perminyakan. Untuk itulah maka salah satu variabel penelitian tentang dunia migas ini adalah pengetahuan teknologi perminyakan. Industri minyak dan gas bumi (migas) merupakan industri penting dewasa ini, baik dalam skala internasional, regional maupun nasional. Dunia internasional, baik secara politik maupun ekonomi global, sangat dipengaruhi oleh industri migas. Bagi Indonesia sendiri, industri migas merupakan tulang punggung ekonomi dan sumber bagi pembiayaan pembangunan nasional, meskipun akhir-akhir ini peranannya menjadi semakin berkurang digantikan industri non-migas. Secara cost- effective industri migas menjadi pilihan utama dewasa Ini namun bukan berarti bahwa? industri minyak adalah industri yang “murah”. Dalam industri migas membutuhkan modal yang besar (capital intensive) baik dari segi biaya, sumber daya manusia maupun material.
Investasi yang besar dalam modal, sumber daya manusia dan material membutuhkan manajemen yang andal dan etektir. Fersoalan manajemen merupakan salah satu faktor strategis dalam industri migas. Faktor strategis lainnya adalah karakteristik industri migas yang membutuhkan teknologi tinggi (high technologis). Eksplorasi migas di lepas pantai bergerak menuju ke laut, sehingga memerlukan penguasaan teknologi tinggi ini yang merupakan persyaratan bagi industri migas. Industri migas adalah usaha yang mempunyai resiko tinggi (high risk enterprise) bukan saja secara ekonomis namun juga secara fisik operasional. Secara ekonomis, risiko kegagalan dalam eksplorasi migas adalah cukup tinggi dengan biaya investasi yang benar. Di samping itu, dalam operasinya kegiatan industri migas mempunyai risiko tinggi dalam hal keselamatan kerja. Hal ini disebabkan oleh output dari industri ini bukan saja berupa minyak bumi melainkan juga bermacam-macam gas yang berpotensi toksik terhadap kesehatan manusia, antara lain masuknya gas karbon monoksida (CO), bersifat korosif dan mencemarkan udara. Karbon dioksida (C02) juga menyebabkan timbulnya pencemaran udara dalam bentuk efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Dalam hal ini yang akan akan dibahas masalah mengenai: Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan teknologi perminyakan dengan perilaku keselamatan kerja dalam industri migas? Apakah terdapat hubungan antara kinerja manajemen operasional dengan perilaku keselamatan kerja dalam industri migas? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku keselamatan kerja terhadap ancaman gas karbonmonoksida (CO) dan karbondioksida (C02) dalam industri migas pada pimpinan di Pertamina Direktorat Hulu Jawa bagian barat (Cirebon). Secara operasional tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui kekuatan antara: (1) pengetahuan teknologi perminyakan dengan perilaku keselamatan kerja dalam industri migas; (2) kinerja manajemen operasi dengan perilaku keselamatan kerja dalam industri migas; (3) sikafi terhadap kelestarian lingkungan hidup dengan perilaku keselamatan kerja dalam industri migas; dan (4) pengetahuan teknologi perminyakan, kinerja manajemen operasi dan sikap terhadap: kelestarian iingkungan hidup secara bersama-sama dengan perilaku keselamatan kerja dalam industri migas. Pengetahuan teknologi migas mencakup pengetahuan tentang fakta, konsep, prosedur dan prinsip mengenai teknologi perminyakan. Dalam pengetahuan tersebut terkandung aspek-aspek ancaman dan cara penaggulangan terhadap bahaya keselamatan kerja baik secara eksplorasi, eksploitasi maupun distribusi produk migas. Di pihak lain, kinerja manajemen operasi merupakan perwujudan nyata kegiatan manajemen yang diantaranya terkait dengan penyediaan, pemeliharaan, penggunaan, pengawasan serta pemaksaan melalui berbagai keselamatan kerja (enforcement) mengenai keselamatan kerja. Demikian juga sikap sikap terhadap kelestarian lingkungan hidup mencakup penguasaan, informasi (aspek kognitif), apresiasi (aspek afektif) dan kecenderungan bertindak mengenai aspek-aspek lingkungan hidup yang erat kaitannya dengan pencegahan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan yang secara konseptual terikat dengan keselamatan kerja. Dengan demikian maka ketiga variabel tersebut secara keseluruhan akan saling memperkuat satu sama lain mengenai kesadaran tentang pentingnya keselamatan kerja terutama terhadap ancaman karbonmonoksida (CO) dan karbondioksida (C02). Untuk itu dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara pengetahuan teknologi perminyakan, kinerja manajemen operasi dan sikap terhadap kelestarian lingkungan hidup dengan perilaku keselamatan kerja. Atau dengan kata lain, peningkatan dalam pengetahuan teknologi perminyakan, kinerja manajemen operasi dan sikap terhadap kelestarian lingkungan hidup akan menyebabkan peningkatan pula dalam perilaku keselamatan kerja terhadap ancaman karbonmonoksida (CO) dan karbondioksida (C02). Kalibrasi instrumen dilakukan kepada karyawan pimpinan Pertamina di Cirebon sebanyak 30 orang dan didapatkan R table sebagai pedoman untuk menerima atau menolak butir dengan taraf signifikasi x = 0,05 yaitu sebesar 0,361. Dari 48 butir instrumen perilaku keselamatan kerja, ternyata setelah dihitung validitasnya yang valid sebanyak 34 butir dan yang tidak valid sebanyak 14 butir. Koefisien reabilitas instrumen yang diperoleh sebesar 0,93 dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Dari 72 butir instrumen pengetahuan teknologi perminyakan, setelah dihitung validitasnya berupa yang valid 54 butir dan yang drop sebanyak 18 butir didapatkan koefisien reabilitas sebesar 0,91 dengan menggunakan ICR-20. Dari 48 butir instrumen kinerja manajemen operasi, setelah dihitung validitasnya, ternyata yang valid 37 butir sisanya tidak valid sebanyak 11 butir. Koefisien reabilitas instrumen berdassarkan Alpha Cronbach sebesar 0,90. Dari 48 butir instrumen sikap terhadap kelestarian lingkunggan hidup, ternyata yang valid 37 butir, instrumen sisa tidak valid sebanyak 11 butir instrumen. Koefisien reabilitasnya sebesar 0,95 dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach.

MANAJEMEN OPERASI DAN SIKAP TERHADAP KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP | ok-review | 4.5