KONSISTENSI KOGNITIF-AFEKTIF

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Versi kedua pendekatan konsistensi menjelaskan bagaimana orang juga berusaha membuat kognisi mereka konsisten dengan afeksi mereka. Dengan kata lain, keyakinan kita, “pengetahuan kita,” pendirian kita tentang suatu fakta sebagian ditentukan oleh pilihan afeksi kita, demikian juga sebaliknya. Bagi kita cukup jelas bahwa informasi menentukan perasaan kita. Jika kita tahu bahwa kita tidak menyukai diktator yang memenjarakan dan membunuh sebagian besar lawan politiknya.
Versi konsistensi kognitif-afektif menjadi lebih menarik karena penilaian kita mempengaruhi keyakinan kita. Andaikanlah seorang pemberi suara mengembangkan perasaan negatifnya yang kuat terhadap gubernur baru karena memang semua bawahannya menentang cara kerjanya dan tidak mau memilihnya lagi. Akan tetapi, sebenarnya orang tersebut tidak mengetahui apa pun tentang gubernur tersebut. Teori konsistensi menyatakan bahwa dia akan memperoleh kognisi yang diperlukan untuk mendukung penilaian negatif itu. Dengan kata lain, pemberi suara dalam pemilihan gubernur akan memperoleh kognisi yang konsisten dengan pilihan afektifnya.
Rosenberg (1960) menyajikan suatu peragaan yang jelas mengenai perubahan kognitif yang ditimbulkan perubahan afeksi terhadap objek sikap. Dari subjek kulit putih, dia memperoleh uraian komprehensif tentang sikap mereka terhadap orang-orang kulit hitam, integrasi rasial, dan seluruh pertanyaan tentang hubungan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Kemudian dia menghipnotis subjek dan mengatakan kepada mereka bahwa sikap mereka terhadap orang kulit hitam yang ada di dalam masyarakat mereka berlawanan dengan sikap sebelumnya. Jika sebelumnya subjek tersebut menentang dengan gigih penggabungan perumahan, sekarang dia diberitahu bahwa dia memang menyetujui hal itu (atau sebaliknya). Di sini, Rosenberg mengubah afeksi subjek terhadap penggabungan perumahan.
Pokok yang penting dari contoh tersebut adalah bahwa Rosenberg mengubah perasaan mereka tanpa memberikan kognisi-kognisi baru atau mengubah kognisi yang lama, karena dia melakukannya dengan sarana hipnotik. Kemudian subjek dibangunkan dari keadaan hipnotiknya dan ditanya tentang sikap mereka sekarang terhadap orang kulit hitam dan masalah integrasi. Rosenberg menemukan bahwa perubahan yang dihasilkannya dalam keadaan hipnotik pada salah satu afeksi ini diikuti oleh berbagai pembalikan kognisi secara dramatik yang relevan dengan masalah integrasi. Sebagai contoh, subjek yang semula menentang penggabungan perumahan kemudian menjadi yakin bahwa penggabungan itu diperlukan untuk menghilangkan perbedaan warna kulit untuk mempertahankan keselarasan rasial, bahwa hal itu merupakan sesuatu yang wajar untuk dilakukan, dan sebagainya. Perubahan-perubahan bercabang ini cenderung mengurangi ketidakseimbangan yang dihasilkan oleh perubahan yang ditimbulkan. Seperti prediksi teori konsistensi kognitif, tekanan yang diberikan untuk mengurangi berbagai sikap yang tidak konsisten muncul dalam berbagai perubahan kognitif segera setelah afeksi diubah. Proses ini penting karena banyak sikap berasal dari afeksi yang kuat tanpa banyak kognisi yang mendukung. Seorang anak, yang me-nyukai partai Demokrat karena orang tuanya mendukung partai Demokrat pada suatu saat perlu merasionalisasikan afeksi itu dengan mencari kognisi yang pro Demokrat. Warga negara dianggap tumbuh sebagai seorang patriotik, bila ia membela negaranya sendiri, meskipun alasannya hanya karena ia dilahirkan di negara tersebut; pada suatu saat mereka sudah harus tampil dengan penuh kognisi yang mendukung.

KONSISTENSI KOGNITIF-AFEKTIF | ok-review | 4.5