KONSEP PENYESUAIAN DIRI TINGGAL DI PANTI WERDHA

By On Tuesday, November 12th, 2013 Categories : Psikologi

Konsep penyesuaian diri ini lebih luas dan lebih mengarah pada seluruh reaksi individu terhadap lingkungan dan tuntutan internal. Lazarus dan Folkman, juga menambahkan pernyataan diatas dengan mengungkapkan coding sebagai perubahan kognitif dan perilaku yang berlangsung terus menerus untuk mengatasi tuntutan eksternal atau internal yang dinilai sebagai beban atau melampaui sumberdaya individu dan dapat membahayakan well being-nya (keberadaannya). Cattell mengungkapkan bahwa keterampilan coping merupakan teknik yang berhubungan dengan sumber stress dan untuk pengendalian yang melibatkan ego, dimana ego individu akan memperlihatkan kemampuannya untuk menyesuaikan (coping) terhadap masalah yang sedang dialaminya. Sementara coping juga dinyatakan sebagai proses dimana individu berusaha untuk menangani pertentangan antara tuntutan dengan penilaian mereka dalam situasi yang menekan (Sarafino, 1994:139). Dari definisi tersebut maka dapat dijelaskan bahwa coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stress yang menekan dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilakunya guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Lazarus dan Folkman, juga mengemukakan bahwa strategi coping terdiri dari strategi yang bersifat kognitif dan behavioral. Strategi tersebut dibagi menjadi dua bentuk, yaitu: strategi coping yang digunakan untuk mengatasi masalah yang menimbulkan stress (poblem Focused Coping); Strategi coping yang digunakan untuk mengatasi emosi negatif yang menyertainya (Emotional Focused Coping); Emotional focused coping ini untuk meredakan emosi individu yang ditimbulkan oleh stressor (sumber stress), tanpa oerusaha untuk mengubah suatu situasi yang menjadi sumber stress secara langsung.
Tahap terakhir dalam rentang kehidupan dibagi menjadi usia lanjut dini, yang berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh dan usia lanjut yang mulai pada usia tujuh puluh sampai akhir kehidupan seseorang. Orang daiam usia enampuluhan biasanya digolongkan sebagai usia tua, yang berarti antara sedikit lebih tua atau setelah usia madya dan usia lanjut setelah mencapai usia tujuh puluh tahun, yang menurut standar beberapa kamus berarti makin lanjut usia seseorang dalam periode hidupnya dan telah kehilangan kejayaan masa mudanya. Lansia merupakan periode akhir kehidupan yang sering di identifikasikan dengan perubahan- perubahan yang bersifat menurun serta merupakan masa kritis untuk mengevaluasi kesuksesan dan kegagalan seseorang, menghadapi masa kini dan masa depan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menimbulkan masalah psikologis antara lain adalah kehilangan akibat perubahan-perubahan yang terjadi seperti ditinggal pasangan, kasih sayang anak-anak, kehilangan pekerjaan, kekuasaan, kepercayaan diri dan kesehatan menurun. Kehilangan pasangan hidup memang menimbulkan masalah baru bagi lansia. Menurut Hurlock (1975:130) proses penyesuaian kehilangan pasangan hidup akan bertambah sulit dimasa tua dan dapat menimbulkan perasaan kesepian (loneliness) pada diri lansia. Kesepian pada lansia juga dipengaruhi oleh kebahagiaan terhadap tempat tinggalnya, bagi lansia yang menyukai tempat tinggalnya, sedikit yang merasa kesepian (Perlman et al, 1978:337). Sedangkan menurut penelitian Kivett (dalam Schultz et al,1984:72) kesepian berhubungan dengan aktivitas sosial yang sedikit dilingkungan tempat tinggal lansia. Pada umumnya para lansia menikmati hari tuanya dilingkungan keluarga. Hal ini disesuaikan dengan nilai budaya bangsa yang ada, dimana orang tua yang telah berusia lanjut harus dihormati, dihargai dan dibahagiakan. Bahkan dalam tuntutan agama, orang yang lebih muda dianjurkan untuk menghormati dan bertanggung jawab atas kesejahteraan orang yang lebih tua, khususnya orang tua sendiri (Departemen Sosial RI : 1997). Padahal dengan kehidupan masyarakat seperti sekarang ini, dimana masing-masing orang tentu mempunyai urusan / pekerjaannya sendiri, komunikasi dan keakraban dalam keluarga akan menurun intensitasnya. Akibatnya harapan dari orang-orang lanjut usia untuk mendapatkan kehangatan dan kasih sayang serta perhatian dari keluarganya mungkin tidak dapat tercapai. Menurut penelitian Berg et al (dalam Schultz et al,1984:72) menemukan bahwa individu yang kesepian lebih sering mengeluh tidak bertemu dengan teman-teman lama dan keluarga. Sedangkan menurut Perlman et,.al (dalam Schultz et,.al, 1984 :73) menemukan bahwa kesepian biasanya lebih banyak terjadi karena kurangnya kontak dengan teman dibandingkan kontak dengan anak.
Kesulitan berinteraksi dengan keluarga ini disebabkan oleh masalah waktu, hal ini berkaitan dengan kesibukan dari masing-masing anggota keluarga, sehingga waktu untuk berkumpul bagi seluruh anggota keiuarga dirasakan berkurang. Dengan demikian jarak antara masing-masing anggota keluarga semakin merenggang dan interaksi sosial yang terjadi didalam keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan sebagaimana yang diharapkan oleh masing-masing anggota keluarga. Dengan kondisi seperti ini, maka para lansia berusaha mencari jalan lain untuk dapat terus berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Hal ini membuat para lansia mencari alternatif tempat tinggal lain, yaitu panti werdha. Kehidupan yang dijalani lansia di panti werdha juga bukan merupakan hal yang mudah. Lansia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan di panti werdha. Lebih lanjut Middlebrook , mengatakan bahwa seringkali terjadi perpindahan dari satu tempat ketempat lain akan menyebabkan seseorang merasa berbeda dengan lingkungan dan memiliki hubungan yang dangkal dengan orang disekitar sehingga tidak dapat menjalin hubungan yang akrab dengan lingkungannya dan dapat menimbulkan kesepian. Kesepian merupakan suatu pengalaman yang tidak menyenangkan dan tidak memuaskan bagi seseorang yang berkaitan dengan interaksi sosial yang dilakukannya, dimana keadaan ini mempengaruhi reaksi emosi serta perilaku individu. Individu yang mengalami kesepian cenderung merasa kurang bahagia dan kurang puas dalam menjalin hubungan dengan orang lain, merasa kehidupannya membosankan dan kurang bermakna. Keadaaan kesepian ini dapat disebabkan oleh faktor yang bersifat psikologis seperti keterbatasan hubungan, perasaan kehilangan, adanya krisis dan perasaan gagal dan kurang percaya diri atau disebabkan oleh faktor yang bersifat sosiologis seperti sulit memahami nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat, sulit berinteraksi dengan lingkungan dan sulit berinteraksi dengan keluarga. Dalam penelitian ini coping merupakan cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi kesepian (loneliness). Masing-masing individu menggunakan bermacam-macam strategi dalam mengatasi kesepian yang dirasakannya. Ketika seseorang ditanya mengenai bagaimana mengatasi kesepian yang dirasakan, respon yang akan muncul bermacam-macam. Menurut penelitian Rubenstain dan Shaver respon yang diberikan untuk mengatasi kesepian ini berbeda-beda. Ada yang memberikan respon yang negatif, seperti menangis, tidur, banyak makan dan menonon TV tanpa tujuan. Tetapi ada juga yang memberikan respon-respon yang positif, seperti melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat, belajar, berolahraga; bagi individu yang memiliki uang yang cukup akan pergi berbelanja; ada juga yang tetap bersosialisasi, menelepon atau berkunjung kerumah teman. Semua cara-cara tersebut diatas merupakan cara-cara yang umum dilakukan untuk mengatasi kesepian yang dirasakan oleh seseorang. Semua cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi kesepian tersebut biasa disebut dengan coping. Coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stress yang menekan dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilakunya guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Tujuan umum dari coping menurut Cohen dan Lazarus  adalah untuk menerima atau menyesuaikan diri terhadap peristiwa atau kenyataan yang tidak menyenangkan yang dijumpai dalam kehidupan nyata, sehingga dapat meneruskan hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Strategi coping terbagi dua bagian, yaitu : yang difokuskan pada masalah (Problem Focused Coping) dan yang difokuskan pada emosi (Emotional Focused Coping). Pemilihan strategi coping yang mengarah pada pemecahan masalah atau strategi yang mengarah pada usaha menurunkan emosi dipengaruhi oleh penilaian terhadap kemampuannya dalam menghadapi masalah; apakah individu memiliki kemampuan untuk memperbaiki situasi yang ada. Jika individu percaya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah, maka akan cenderung memilih problem focused coping, sedangkan bila individu yakin tidak mampu mengatasi masalah, maka akan cenderung untuk menurunkan derita emosionalnya saja . Bila dilihat dari tingkat kesulitannya, maka dari kedua strategi coping tersebut, problem focused copinglah yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan problem focused coping memerlukan adanya kemampuan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi, Skala strategi coping yang diberikan ke-pada subyek terdiri dari 42 item dengan 21 butir-butir favorabel dan 21 butir-butir unfavorabel. Butir-butir favorabel mencerminkan penggunaan strategi coping yang matang dan efektif, sedangkan butir-butir unfavorabel mencerminkan penggunaan strategi coping yang tidak matang dan tidak efektif.

KONSEP PENYESUAIAN DIRI TINGGAL DI PANTI WERDHA | ok-review | 4.5