KONFORMITAS DALAM PERSPEKTIF

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Pada umumnya, semua tehnik yang telah kita bahas bermanfaat untuk menimbulkan konformitas atau ketaatan dalam jangka pendek. Tetapi biasanya tehnik tersebut tidak banyak membantu bila ingin mengubah perilaku seseorang untuk jangka waktu lama. Hampir semua teknik, dalam kadar tertentu, bergantung pada adanya pemantauan atau pengawasan terhadap individu. Konformitas bergantung pada adanya orang yang selalu memperingatkan timbulnya keyakinan dan kebiasaan yang bertentangan di antara orang-orang di sekitar kita. Kepatuhan terhadap otoritas akan sangat berhasil apabila pihak otoritas tersebut hampir selalu hadir secara fisik. Ganjaran atau ancaman hukuman akan berfungsi dengan sangat baik bila ada orang yang senantiasa hadir untuk memberikan ganjaran atau ancaman hukuman. Biasanya, orang akan segera kembali pada pola perilaku lama bila otoritas atau kelompok yang berpengaruh tidak ada lagi. Namun, pada umumnya kita lebih tertarik untuk membentuk perubahan dalam diri yang permanen daripada perubahan perilaku temporer seperti yang kita bahas dalam bab ini. Beberapa proses yang bisa menimbulkan perubahan sikap yang lebih permanen dibahas dalam dua bab terdahulu tentang sikap. Perilaku, sikap, pikiran, perasaan, dan nilai-nilai manusia mempunyai variasi yang hampir tanpa batas. Kita berbicara dalam beratus-ratus bahasa yang berbeda. Kita mempercayai beratus-ratus dewa, Trinitas, satu Tuhan, atau tidak ada Tuhan sama sekali. Dalam sejumlah kebudayaan, pria memiliki banyak istri; dalam beberapa kebudayaan yang lain, mereka hanya memiliki satu istri; dan dalam sejumlah kecil kebudayaan, wanita memiliki banyak suami. Dalam beberapa kebudayaan babi dianggap haram; dalam kebudayaan yang lain, dihalalkan. Hampir setiap aspek perilaku perniagaan, perkawinan, persahabatan, perundingan, komunikasi, politik menunjukkan keragaman di antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. Perbedaan itu sedemikian besar sehingga seringkah anggota kebudayaan yang satu mengalami kesulitan untuk tinggal dalam kebudayaan yang lain tanpa mempelajarinya terlebih dahulu. Mereka tidak dapat makan makanannya, praktek-praktek mereka dianggap tidak wajar, perilaku mereka kasar, semua tindakan mereka kelihatan aneh dan salah. Mereka sering menyerang dan diserang oleh orang lain.
Tetapi kita juga memiliki banyak kesamaan. Bagaimanapun juga, kita adalah anggota spesies yang sama; kita memiliki kesamaan karakteristik fisik, kebutuhan, dan kemampuan. Meskipun kita berbicara dalam bahasa yang berbeda, kita semua memiliki bahasa dan kesamaan dalam penggunaannya. Meskipun kita memiliki kebiasaan yang berbeda, kita semua memiliki struktur keluarga dan larangan incest. Secara terinci mungkin bentuk perilakunya berbeda, tetapi kita sering menampilkan pola tindakan yang serupa, memainkan permainan yang serupa, dan memiliki kesulitan dan masalah yang serupa. Perbedaan yang besar di antara manusia harus dilihat pada latar belakang berbagai kesamaan yang timbul dari kesamaan kita sebagai manusia. Di samping itu, dalam beberapa kebudayaan, kesamaan tersebut tampak menonjol. Sebagaimana terdapat perbedaan yang mencengangkan di antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, ternyata terdapat kesamaan yang besar dalam kebudayaan tertentu. Hampir semua orang berbicara dengan bahasa yang sama. Di Amerika Serikat, praktis semua orang menyukai “hamburger”; di Jepang, hampir setiap orang menyukai “sushi.” Bahkan, kesamaan perilaku dan nilai kelihatan lebih mencolok dalam sub-sub budaya. Semakin kecil ukuran unit masyarakat, semakin besarlah kesamaan di antara anggota-anggotanya. Dalam masyarakat kulit putih, sub budaya kelas menengah di Amerika, hampir semua orang memiliki sikap yang sama terhadap perkawinan dan hubungan kencan, menampilkan perilaku yang sama dalam dunia perdagangan, dan sebagainya. Orang asing yang memasuki kebudayaan baru akan dikejutkan oleh kenyataan bahwa setiap orang tampak berperilaku serupa. Dari sudut pandang orang asing itu, setiap orang tampak seperti seorang konformis. Memang benar bahwa orang yang berasal dari suatu kebudayaan berperilaku serupa. Tetapi perlu diperhatikan bahwa jenis kon- formitas ini bersifat adaptif dan merupakan gejala yang penting. Anggota suatu masyarakat harus dapat mengasumsikan, sampai tahap tertentu, bahwa orang-orang di sekitarnya akan menampilkan perilaku dengan cara tertentu, memiliki aturan tertentu, akan menginterpretasikan perilaku dengan cara tertentu, dan sebagainya. Asumsi ini akan membuat hidup jauh lebih sederhana dan memungkinkan kelangsungan masyarakat. Orang dapat berinteraksi dengan baik, menginterpretasikan apa yang dilakukan orang lain secara tepat, dan berkomunikasi dengan mudah. Mungkin contoh yang paling dramatis tentang kebutuhan praktis ini adalah bahasa. Bila setiap orang berbicara dengan bahasa yang berbeda atau memaknakan setiap kata dalam arti yang berlainan, interaksi sosial akan menjadi hal yang hampir tidak mungkin terjadi. Anggota suatu masyarakat memiliki kesamaan adat dan perilaku dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Misalnya, hubungan cenderung sangat diritualisasikan dan khas dalam kebudayaan tertentu. Bagaimana orang dapat mengungkapkan rasa sayangnya terhadap lawan jenisnya tanpa menimbulkan kesalahpahaman? Bagaimana seorang pria harus berkomunikasi dengan seorang wanita yang ingin dianggapnya sebagai teman dan bukan sebagai kekasih? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini sangat bergantung pada ritual dan adat istiadat masyarakat yang bersangkutan. Kesamaan yang terdapat di antara anggota suatu kebudayaan juga disebabkan oleh adanya kesamaan latar belakang, pengalaman, dan proses belajar. Anak-anak belajar melakukan berbagai hal dengan cara tertentu, belajar menerima keyakinan tertentu, dan belajar mengembangkan motivasi tertentu. Sampai tahap tertentu, semua anak dalam suatu masyarakat mempelajari hal-hal yang sama. Sehingga, ketika mereka beranjak dewasa, mereka menampilkan perilaku dengan langgam yang sama bukan karena mereka memilih, bukan karena memikirkan hal itu, tetapi inilah langgam perilaku yang mereka pelajari.
Sebagian besar kesamaan perilaku dan keyakinan yang kita temui dalam suatu masyarakat dan yang kita sebut konformitas diebabkan oleh adanya kebutuhan dan proses belajar. Oleh sebab itu, meskipun biasanya konformitas memiliki konotasi negatif, seringkah ada alasan-alasan yang bermanfaat bagi seseorang untuk menjadi serupa dengan yang lain.
1. Menampilkan suatu tindakan karena orang lain juga melakukannya disebut konformitas. Menampilkan suatu tindakan karena diminta oleh orang lain meskipun Anda tidak ingin melakukanya disebut ketaatan.
2. Konformitas sering kali bersifat adaptif karena kita memang perlu menyesuaikan diri terhadap orang lain dan juga karena tindakan orang lain bisa memberikan informasi mengenai cara yang paling baik untuk bertindak dalam keadaan tertentu.
3. Dalam situasi tertentu yang terkendali, di mana tidak ada satu pun di antara pertimbangan-pertimbangan di atas yang relevan, konformitas tetap akan muncul dalam tingkat yang tinggi, sekitar 35 persen dalam eksperimen penilaian Asch.
4. Orang menampilkan konformitas karena mereka menggunakan informasi yang mereka peroleh dari orang lain, karena mereka mempercayai orang lain, karena mereka takut menjadi orang yang menyimpang.
5. Bila anggota kelompok yang lain tidak mempunyai kesepakatan, tingkat konformitas akan menurun tajam.
6. Faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan tingkat konformitas yang lebih tinggi adalah kelompok yang besar, keahlian kelompok, ketiadaan rasa percaya diri dalam diri individu. Keterikatan yang kuat pada pendapat awal akan mengurangi konformitas.
7. Ketaatan dan kepatuhan dapat ditingkatkan melalui penggunaan ganjaran, hukuman, ancaman, dan tekanan dari situasi. Namun, tekanan eksternal yang terlampau besar dapat membahayakan dan menimbulkan kecenderungan untuk melawan pembatasan terhadap kebebasan seseorang untuk bertindak, yang menyebabkan individu menampilkan perilaku yang bertentangan dengan apa yang diminta. Ketaatan dapat ditinggalkan dengan cara mula-mula mengajukan permintaan yang ringan dan baru kemudian yang lebih berat efek foot-in-the-door. Dalam beberapa kondisi, hal yang sebaliknya juga dapat meningkatkan ketaatan permintaan yang lebih berat diikuti dengan permintaan yang lebih ringan.

KONFORMITAS DALAM PERSPEKTIF | ok-review | 4.5