KETAATAN TERHADAP OTORITAS YANG SAH

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Harapan dari orang yang menduduki posisi tertentu dalam otoritas terutama adalah menimbulkan ketaatan. Penelitian dramatis yang dilakukan oleh Milgram (1963) tadi menunjukkan gejala ini dengan jelas. Sebagian besar orang merasa terikat untuk tetap memberikan shock listrik yang kuat kepada orang yang berteriak memohon belas kasihan, menderita penyakit jantung, dan tampak mengalami rasa sakit yang sangat hebat, hanya karena peneliti yang tampak otoritatif meminta mereka melakukan hal itu. Penelitian lain yang meniru penelitian ini memperoleh hasil yang sama dengan penelitian Milgram. Tekanan situasi, dorongan peneliti, tidak terlihatnya pilihan lain, dan keinginan untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan oleh peneliti membuat mereka sulit menolak. Hal-hal yang membuat individu merasa lebih bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri atau yang menonjolkan aspek negatif dari apa yang dilakukannya akan mengurangi tingkat kepatuhan. Dalam penelitian berikutnya (1965), Milgram menunjukkan bahwa mendekatkan korban ke arah subjek memiliki efek yang luar biasa. Dalam kasus yang ekstrem, ketika korban ditempatkan tepat di hadapan subjek, ketaatan menurun secara drastis. Tilker (1970) mendukung penemuan ini dan menunjukkan bahwa dengan mengingatkan subjek tentang tanggung jawab mereka terhadap tindakan mereka sendiri, kecenderungan untuk memberikan shock listrik akan berkurang. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa dalam keadaan tersebut subjek mengalami tekanan yang besar dari situasi dan dari tuntutan peneliti. Pada saat yang sama timbul perasaan yang berlawanan yaitu tekanan yang bersumber dari tanggung jawab dan keprihatinan terhadap nasib korban. Selama mereka dapat mengalihkan tanggung jawab pada peneliti dan mengabaikan jeritan rasa sakit korban, subjek akan sangat taat. Tetapi bila mereka merasa bertanggung jawab dan memperdulikan rasa sakit yang dialami korban, mereka cenderung menjadi kurang taat. Gejala ini tampak lebih jelas dalam eksperimen psikologi. Subjek akan merasa sangat sulit menolak tuntutan peneliti. Mereka telah bersedia mengambil bagian dalam suatu penelitian. Dengan tindakan itu, akibatnya, mereka menyerah diri pada peneliti. Bila peneliti tidak membebaskan me-reka dari kewajiban ini, Subjek cenderung akan menyetujui setiap perintah yang sah. Jika sekelompok subjek dibawa ke sebuah ruangan dan diminta untuk makan kue soda kering, mereka akan berusaha sungguh- sungguh untuk makan sebanyak mungkin. Setelah mereka makan beberapa lusin dan mulut mereka terasa terbakar serta merasa sangat tidak nyaman, peneliti berjalan berkeliling dan berkata, “Maukah Anda makan beberapa buah lagi?” Subjek akan mencoba menelan beberapa buah lagi. Mereka akan melakukannya meskipun tidak diberi penjelasan apa pun, tidak memperoleh ganjaran langsung, dan tidak diancam oleh hukuman apa pun. Ternyata para mahasiswa menyatakan bahwa, dalam situasi ini, mereka makan sejumlah besar kue. Faktor yang paling penting dalam ketaatan adalah bahwa orang memiliki otoritas yang sah dalam situasi itu, sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Yang dimaksud dengan legitimasi adalah keyakinan umum bahwa pihak otoritas mempunyai hak untuk menuntut ketaatan terhadap perintahnya. Peneliti yang mengenakan jas laboratorium putih dapat meningkatkan ketaatan dalam suatu eksperimen yang dilakukan di laboratorium, tetapi mungkin tidak dapat melakukannya di gedung bioskop karena otoritasnya hanya berlaku sah dalam ruang lingkup ilmiah. Seorang pilot dapat menimbulkan ketaatan dalam pesawat terbang, tetapi, karena alasan yang sama, tidak dapat melakukannya di sebuah bar. Tidak mengherankan, para revolusioner selalu berusaha, untuk menggugat legitimasi otoritas politik pihak yang sedang berkuasa karena melalui usaha itu mereka berharap mengurangi tingkat ketaatan rakyat.

KETAATAN TERHADAP OTORITAS YANG SAH | ok-review | 4.5