KESEDERHANAAN EVALUATIF DAN KOMPLEKSITAS KOGNITIF

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Salah satu unsur dari berbagai sikap adalah kompleksitas kognitif. Memiliki banyak pikiran-dan keyakinan tentang, objek. Meskipun tidak seluruhnya benar-benar tepat, tetapi kognisi itu banyak. Dan sejumlah faktor lain tidak termasuk dalam struktur itu. Sebagai contoh, setiap kognisi bisa berbeda dalam tingkat kepentingan (misalnya, fakta bahwa rokok itu mahal mungkin kurang penting ketimbang fakta bahwa rokok berkaitan dengan kanker paru-paru). Sikap dapat berupa hal yang cukup rumit dan melibatkan sejumlah kognisi yang mempunyai perbedaan dalam hubungannya dengan inti masalah dan dalam komponen penilaiannya. Gambaran ini merupakan penyederhanaan yang berlebihan dari berbagai sikap dalam kehidupan nyata. Pikirkanlah segala macam kesulitan yang ditimbulkan oleh kenyataan bahwa kognisi-kognisi ini berhubungan satu sama lain dan berhubungan dengan banyak hal lainnya, tidak sekedar ada dalam ketiadaan hal lain. Pikiran bahwa rokok membantu belajar hanya mempunyai arti pada saat sikap terhadap belajar dapat melibatkan sikap terhadap orang tua, guru, karir masa depan, dan lain-lain. Kenyataannya hal itu bisa menyangkut seluruh pikiran seseorang dalam kaitannya dengan rokok.
Sebagian besar sikap cenderung menjadi sederhana secara evaluatif, sebagaimana ia bisa menjadi kompleks secara kognitif. Meskipun teman kita mempunyai banyak kognisi tentang merokok, penilaiannya tentang hal itu relatif sederhana: Merokok menjauhkannya dari teman sekamar dan orang tua, rasanya tidak enak, menimbulkan bau yang tidak enak, mahal, mendatangkan resiko kanker paru- paru dan membantu belajarnya di larut malam. Hampir semua sifat atau konsekuensi merokok berupa hal yang negatif, jadi hal itu merupakan keseluruhan sikapnya. Pola; ini sangat umum: Ada banyak kognisi dalam pikiran seseorang dan mungkin memiliki pengaruh terhadap dirinya, tetapi pada umumnya, komponen evaluatif sikapnya jauh lebih sederhana. Telah banyak peragaan diajukan kesederhanaan evaluatif dari sebagian besar sikap. kesan kita tentang orang.lain cenderung menjadi konsisten secara evaluatif. Tidak peduli sejauh mana kita mengenalnya, secara umum kita cenderung menyukai atau tidak menyukainya. Bahkan pada tingkat lebih lanjut sikap tentang hubungan masyarakat, di mana orang sering tidak memiliki informasi yang memadai, sikap mereka cukup konsisten setidak-tidaknya bila menghadapi persoalan-persoalan yang amat genting (Kinder & Sears, 1985).
Pada saat memilih Ronald Reagan sebagai presiden, sebagai contoh, rakyat cenderung mendukungnya dalam persoalan ekonomi dan pertahanan, merasa bahwa dia telah menampilkan diri dengan baik sebagai presiden, mempersepsi dia sebagai orang yang akan mempertahankan posisi mereka pada setiap persoalan, dan mempersepsi bahwa secara umum dia mempunyai karakteristik kepribadian seperti yang diharapkan. Dalam masalah ras, masyarakat kulit putih Amerika cenderung memiliki sikap yang saling berhubungan. Jika mereka tidak menyetujui program kegiatan suatu golongan, mungkin mereka juga tidak menyetujui pengangkutan anak- anak sekolah dengan bis sebagai upaya integrasi dan sebagainya. Kesederhanaan evaluatif ini sangat penting. Sebagai contoh, baik polisi maupun pecandu narkotik mengetahui banyak hal tentang obat narkotik, memiliki informasi yang kompleks tentang hal itu, dan memahami berbagai hubungan antara obat narkotik dengan aspek-aspek lain di lingkungan. Dan sampai tahap tertentu, setiap informasi mempengaruhi perasaan umum mereka terhadap obat narkotik dan memiliki efek yang kuat terhadap perilaku mereka.
Ilmuwan yakin bahwa jarak ke bulan adalah 252.710 mil atau bahwa manusia memiliki 46 kromosom. Dia juga memiliki sekumpulan keyakinan-keyakinan lain yang kompleks tentang bulan dan kromosom. Tetapi dalam keadaan itu, dia tidak memiliki perasaan emosional terhadap hal tersebut dia tidak memikirkan apakah bulan itu bagus atau buruk. Dia tidak berpikir suka atau tidak suka pada kro-mosom. Sebaliknya, dia memiliki sekumpulan fakta tentang Ronald Reagan atau gas beracun, dan dia juga memiliki perasaan emosional tentang hal ini. Akibatnya, fungsi fakta berbeda dengan sikap. Sikap, bila telah ditetapkan, jauh lebih sulit berubah dibandingkan keyakinan akan “fakta.” Ilmuwan yang yakin bahwa manusia memiliki 46 kromosom pada umumnya tidak memiliki tanggung jawab yang kuat terhadap keyakinan itu atau perasaan yang kuat tentang hal itu. Beberapa tahun yang lalu, para ilmuwan diyakinkan bahwa manusia memiliki 24 kromosom. Kemudian seseorang menemukan adanya 46 kromosom. Mereka yang yakin bahwa kita memiliki 24 kromosom mungkin dengan segera akan mengubah keyakinannya pada saat mereka melihat buktinya. Tentu saja, siswa sekolah menengah dan mahasiswa fakultas biologi, yang sama sekali tidak terlibat dalam perdebatan itu, dengan segera akan mengubah “pengetahuan” mereka. Ini berbeda dengan cara orang bereaksi bila sikap mereka diamati. Dalam hal ini, sikap lebih rumit daripada fakta. Orang tidak akan mengubah sikapnya tanpa lebih dahulu mengadakan perlawanan dan tanpa dihadapkan pada sejumlah tekanan yang sungguh-sungguh. Kehadiran komponen evaluatif nampaknya mengubah dinamika tersebut; membuat proses perubahan sikap menjadi lebih sulit. Salah satu alasan kesulitan ini adalah bahwa penilaian tentang objek sikap dapat berlangsung lama setelah isi yang dihasilkannya dilupakan, seperti yang telah diperlihatkan oleh, antara lain, Anderson dan Hubert (1963). Komponen afektif lebih dapat bertahan dan lebih pokok daripada komponen kognitif.

KESEDERHANAAN EVALUATIF DAN KOMPLEKSITAS KOGNITIF | ok-review | 4.5