KEPERCAYAAN YANG LEMAH TERHADAP PENILAIAN SENDIRI

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Sisi yang lain adalah bahwa sesuatu yang meningkatkan kepercayaan individu terhadap penilaiannya sendiri akan menurunkan konformitas. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi rasa percaya diri dan tingkat koformitas adalah tingkat keyakinan orang tersebut pada kemampuannya sendiri untuk menampilkan suatu reaksi. Jelas bahwa pertanyaan tentang ibu kota Sierra Leone akan lebih mudah dijawab oleh para pakar benua Afrika daripada oleh seorang pakar psikologi sosial. Bila Mira merasa yakin bahwa dia adalah pakar matematika, dia akan merasa yakin pula pada ketepatan jawabannya terhadap soal-soal matematika dibandingkan bila dia merasa tidak ahli dalam bidang tersebut; hal ini juga terjadi bila dia menghadapi masalah yang sangat sulit. Orang yang mempunyai daya penglihatan yang baik akan merasa lebih yakin dalam membuat diskriminasi visual dibandingkan orang dengan daya penglihatan yang kurang baik. Ini berarti bahwa Anda dapat menurunkan konformitas dengan membuat seseorang merasa lebih menguasai suatu persoalan. Beberapa penelitian mendukung pernyataan ini (Mausner, 1954, Snyder, Mischel, 8c Lott, 1960; Wiesenthal dkk., 1976). Dalam penelitian Snyder, kepada sejumlah subjek diberikan sebuah kuliah tentang seni sesaat sebelum diminta untuk memberikan penilaian artistik; subjek yang lain tidak mendengarkan kuliah ini. Seperti yang Anda duga, mereka yang merasa lebih ahli karena telah mendengarkan kuliah tersebut akan menunjukkan tingkat konformitas yang lebih rendah. Segala sesuatu yang meningkatkan rasa percaya individu terhadap penilaiannya sendiri akan menurunkan tingkat konformitas karena kemudian kelompok bukan merupakan sumber informasi yang unggul lagi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi keyakinan individu terhadap kecakapannya adalah tingkat kesulitan penilaian yang dibuat. Semakin sulit penilaian tersebut, semakin rendah rasa percaya yang dimiliki individu dan semakin besar kemungkinan bahwa dia akan mengikuti penilaian orang lain. Bila orang menanyakan nama ibu kota negara kita, tentu kita mengetahui jawabannya dan merasa yakin bahwa kita memang mengetahuinya. Bahkan meskipun ada empat orang lain yang memberikan jawaban berbeda, mungkin kita akan lebih yakin pada jawaban kita sendiri. Kita tidak akan mengikuti mereka karena kita kurang mem-punyai rasa percaya diri, tetapi mungkin kita akan melakukannya karena alasan-alasan lain seperti telah dikemukakan di atas. Bila kjta ditanya tentang nama ibu kota Sierra’Leone, mungkin kita akan merasa tidak yakin. Bila ada empat orang lain yang pendapatnya berbeda dengan kita, kemungkinan besar kita akan lebih mempercayai pendapat mereka dan menyesuaikan pendapat kita. Tugas dalam percobaan Sherif, misalnya, lebih sulit dibandingkan dengan tugas dalam percobaan Asch, sehingga menimbulkan konformitas yang lebih banyak. Demikian juga Coleman, Blake, dan Mouton (1958) menyajikan kepada subjek, yang berada dalam situasi konformitas, serangkaian pertanyaan aktual yang mempunyai tingkat kesulitan berbeda-beda. Korelasi antara tingkat kesulitan dan konformitas adalah 0,58 untuk pria, dan 0,89 untuk wanita. Berarti, semakin sulit pertanyaannya, semakin besar kemungkinan timbulnya konformitas terhadap mayoritas yang keliru tetapi disepakati oleh anggota yang lain. Rasa Takut terhadap Celaan Sosial Alasan utama konformitas yang kedua adalah demi memperoleh persetujuan, atau menghindari celaan, kelompok. Salah satu alasan mengapa kita tidak mengenakan pakaian bergaya Hawaii ke tempat ibadah adalah karena semua umat yang hadir akan melihat kita dengan rasa tidak senang. Demikian juga, seorang anak akan membuat semua pekerjaan rumahnya dan berusaha meraih nilai yang terbaik dalam ujian karena hal itu akan membuat orang tuanya senang dan memberikan pujian. Tetapi, sejumlah faktor akan menentukan bagaimana pengaruh persetujuan dan celaan ini terhadap tingkat konformitas individu.

KEPERCAYAAN YANG LEMAH TERHADAP PENILAIAN SENDIRI | ok-review | 4.5