KENDALI: ILUSI YANG ADAPTIF?

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Apa vang terjadi bila kesadaran yang dapat mengendalikan (sense of control) ini terancam? misalkan seorang mahasiswi diikuti oleh seorang pria aneh ketika suatu malam ia kembali ke asrama seusai mengunjungi perpustakaan. Sebelumnya, ia selalu merasa aman di bagian kampus yang terang lampunya itu, tetapi mendadak ia merasa sepi dan sangat takut. Pria tadi mendekat dan memegang lengannya serta mencoba menyeretnya ke pinggir jalan. Mahasiswi itu akhirnya dapat melepaskan diri dan lari ke asrama dengan penuh kepanikan. Ia selamat sampai di asrama. Namun, setelah kejadian tersebut, ia tidak lagi merasa aman berjalan seorang diri di malam hari di jalan setapak tadi. Ia telah kehilangan kesadaran untuk mengendalikan; sesuatu yang buruk dapat menimpa dirinya setiap saat, apa pun yang diperbuatnya. Bagaimana orang yang kehilangan ilusi kontrol dapat memberikan responsnya? Reaksi yang diberikan bervariasi, mulai dari mencari informasi (Swann & Stephenson, 1981) sampai rasa sakit, meningkatnya reaktivitas sampai stress, dan menurunnya prestasi (Glass & Singer, 1972), kemarahan atau permusuhan (Brehm & Brehm, 1981), atau rasa putus asa dan apatis (Abramson et al., 1978). Tapi respons utamanya ialah usaha memulihkan kendali. Bahkan orang yang menderita kanker, penyakit yang paling sulit dikendalikan dan penyebabnya belum diketahui, berusaha untuk membangkitkan kesadaran sebagai penguasa dengan berbagai cara. Taylor  melaporkan usaha-usaha untuk memulihkan kendali ini di antara sejumlah wanita yang terserang kanker payudara: (Dari mana asal kanker tersebut) mula-mula merupakan masalah penting bagi saya. Jawaban para dokter adalah bahwa kanker merupakan penyakit yang memiliki banyak wajah. Saya mencari penyebab kanker yang sudah dikenal seperti virus, radiasi, perpindahan genetik, karsinogen lingkungan, dan satu hal yang secara kuat menjadi fokus saya adalah diet. Sekarang saya tahu mengapa saya memusatkannya ke sana. Diet merupakan satu-satunya hal yang paling mudah saya pahami dan saya rubah. Jika Anda memakan sesuatu yang salah, maka perut kita akan sakit.
Seorang wanita lain berkata: Saya kira saya telah kehilangan kendali atas tubuh saya, dan cara saya untuk memperolehnya sedikit kembali adalah dengan jalan membuat sebanyak mungkin penemuan. Hal itu sungguh sudah hampir menjadi obsesi bagi saya.
Dan seorang suami menggambarkan isterinya: Ia mendapat buku-buku, pamflet-pamflet, dia mempelajarinya, dia berbicara dengan penderita kanker, dia menyelidiki segala sesuatu yang terjadi atas dirinya, dan ia melawannya. Ia sedang berperang terhadapnya. Ia menyebutkannya sebagai tawanan dalam kereta tertutup yang sudah terkepung. Memang, sejumlah ahli psikologi beranggapan bahwa kesadaran kuat atas pengendalian diri dan jiwa kita sendiri dapat kita sesuaikan meskipun sebagiannya merupakan ilusi: “Ilusi sama sekali bukan merupakan penyesuaian yang mengganggu, melainkan penting untuk dihadapi secara layak”.
Sebagai contoh, Bulman dan Wortman (1977) mewawancarai 29 penderita para plegia di sebuah lembaga rehabilitasi, yaitu mereka yang cacat karena kecelakaan tertembak sampai ditackel lawan dalam pertandingan bola. Setiap orang dinilai oleh seorang perawat dan seorang pekerja sosial, dengan menilai bagaimana mereka menanggulangi kecelakaan tersebut dalam rangka menerima realitas kecelakaan dan usaha menangani kelumpuhan secara positif. Semakin besar kesalahan yang mereka timpakan kepada diri sendiri, semakin buruk cara mereka menanggulanginya. Para penulis menyatakan bahwa “kemampuan melihat hubungan perilaku seseorang dengan hasil yang diperolehnya secara teratur merupakan hal penting bagi penanggulangan yang efektif”. Sebuah fenomena serupa oleh Seligman (1975) diacu sebagai ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Jika orang merasakan berkurangnya kendali terhadap lingkungan, maka mereka mulai kehilangan motivasi dan prestasi pun menurun. Seligman menyatakan bahwa hal itu dapat menjurus kepada depresi atau bahkan kematian. Hal ini mula-mula dicatat dalam eksperimen terhadap binatang. Setelah hewan-hewan itu diberi kejutan mereka tidak dapat lagi melarikan diri, dan kemudian mereka menemukan bahwa mereka tidak mampu memikirkan cara untuk melarikan diri meskipun hal itu dapat terjadi. Sebaliknya, binatang yang sejak awal diijinkan melarikan diri dari kejutan dengan menekan sebuah kisi-kisi, tidak menemui kesulitan dalam mempelajari respons baru yang akan membantunya melarikan diri. Hal ini seolah- olah binatang yang dari awal tidak berdaya, terpaksa menyerah. Sebuah eksperimen khusus mengenai ketidakberdayaan yang dipelajari dilaksanakan secara serupa terhadap manusia. Para subjek diberi soal untuk dipecahkan dan kemudian diberi umpan balik tentang prestasi mereka, yang tidak berhubungan sama sekali dengan sebagus mana pekerjaan mereka. Sehubungan dengan hal itu, soal-soal yang diberikan tidak dapat terpecahkan. Hasilnya telah dipengaruhi penyebab eksternal dan kelihatannya acak. Para subjek memahami bahwa mereka tidak memiliki kendali terhadap persoalan yang dihadapi; mereka belajar tentang ketidak berdayaan mereka. Ketika kemudian mereka diuji dengan soal-soal yang lebih mudah, terbukti bahwa mereka kurang berhasil dibandingkan dengan subjek yang umpan balik aslinya tergantung dari prestasi—yaitu mereka )tang lingkungannya dapat diramalkan dan dapat dikendalikan.
Ketidakberdayaan yang dipelajari ini diperluas menjadi masalah umum depresi. Gagasan dasarnya ialah bahwa pengatribusian peristiwa negatif kepada faktor-faktor global yang intern dan stabil yaitu faktor-faktor besar intern yang tidak dapat dikendalikan mengarah kepada depresi (Abramson, Seligman, & Teasdale, 1978). Saya tidak mendapat nilai 8 untuk matematika melainkan nilai 6 karena saya lemah dalam bidang matematika dan selalu akan demikian. Pria muda yang pergi dengan saya minggu lalu tidak menelepon saya kembali karena saya tidak menarik bagi pria dan tidak pernah akan membuat mereka tertarik. Sekali kita mulai membuat atribusi semacam itu, kita akan selalu menghindar dari penggunaan kendali dalam situasi di mana sebenarnya kita dapat efektif. Saya memutuskan untuk tidak ikut ujian matematika di pertengahan semester ini-karena menurut pendapat saya usaha itu akan sia-sia saja. Dalam kenyataan, saya dapat belajar dari kesalahan yang saya buat dan membuatnya lebih baik lain kali. Ketika teman di bangku sebelah pada jam Bahasa Perancis mengajak saya ke luar minum kopi, saya katakan kepadanya bahwa saya sibuk karena saya merasa yakin bahwa dia tidak akan menyukai saya jika telah mengenal saya lebih jauh. Dalam kenyataan, kelihatannya dia cukup tertarik dan mungkin mudah menerima. Sebuah contoh tentang bagaimana atribusi intern yang stabil dan global terhadap peristiwa negatif menghasilkan pengaruh depresif, berasal dari telaah Metalsky et al. (1982). Mereka menemukan bahwa mahasiswa yang sejak awal mengalami distorsi guna membuat atribusi semacam itu, menunjukkan loncatan lebih besar dalam pengaruh depresif, setelah memperoleh nilai buruk pertengahan semester dibandingkan mahasiswa yang secara normal membuat atribusi ekstern yang kurang global. Dalam contoh lain, Peterson et al. (198.1) menemukan bahwa menyalahkan karakter daya tahan seseorang dan bukan perilakunya (membuat atribusi global) diasosiasikan dengan gejala lebih depresif pada mahasiswi perguruan tinggi tahun pertama.
Sebagian besar riset tentang ketidakberdayaan yang dipelajari ternyata diasosiasikan dengan keadaan hati dan gejala depresi. Sama halnya, “ilusi_kendaliM dapat menjadi unsur penting dalam keadaan hati yang tidak kena depresi. Alloy, Abramson, dan Viscusi (1981) menemukan bahwa wanita normal secara umum, atau wanita yang sedang mengalami depresi yang baru mengalami pengobatan suasana hati eksperimental, menunjukkan ilusi kendali yang sama dengan yang kita bicarakan ini. Sebaliknya, wanita yang sedang mengalami depresi pada umumnya memiliki sedikit ilusi kendali. Begitu pula wanita normal yang suasana hatinya mengalami depresi secara eksperimental. Meskipun demikian, tidak terdapat cukup bukti bahwa atribusi semacam itu merupakan penyebab utama depresi klinik yang serius; mereka dapat lebih merupakan gejala daripada penyebab kekacauan semacam itu. Namun, contoh ketidakberdayaan yang dipelajari itu merupakan sesuatu yang provokatif sifatnya, dan telah menimbulkan berbagai riset yang penuh mengandung rahasia.  Jelaslah bahwa ilusi kendali tidak selalu sesuaicontohnya, ia tidak sangat membantu dalam lingkungan yang tidak dapat dikendalikan seseorang. Dan sikap menyalahkan diri sendiri dapat memberikan pengaruh merugikan bagi penanggulangannya. Dalam berbagai keadaan, kesadaran mengendalikan sendiri ini, meskipun hanya berupa khayalan, bisajadi sangat bermanfaat.

KENDALI: ILUSI YANG ADAPTIF? | ok-review | 4.5